{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)

Sabar Dan Kemenangan Dua Sisi Yang Tak Terpisahkan

Abu Fathan | 19:12 | 0 comments
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahw Allâh Azza wa Jalla menjadikan sikap sabar itu ibarat kuda pacu yang tak pernah terperosok, bagaikan pedang tajam yang tak pernah tumpul, seperti bala tentara yang selalu menorehkan kemenangan lagi tak terkalahkan. Ia tak ubahnya seperti benteng kokoh yang tidak bisa dihancurkan ataupun retak. Sabar dan kemenangan adalah dua saudara kembar (yang selalu bersanding tak terpisahkan).

Jadi, pertolongan itu ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesusahan serta kemudahan itu beriringan dengan kesulitan. Kesabaran itu lebih bisa menolong pelaku kesabaran itu secara signifikan daripada bala bantuan manusia, tanpa harus disertai perangkat perang tidak pula jumlah. Posisi sabar terkait dengan kemenangan itu, seperti kepala bagi badan.

Dalam al-Qur’an, Allâh Azza wa Jalla menjamin akan memberikan pahala kepada orang-orang yang bersabar secara sempurna, tanpa hitungan. Allâh Azza wa Jalla juga memberitakan bahwa Dia Azza wa Jalla bersama mereka dengan bimbingan hidayah-Nya, dengan kemenangan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar. [Al-Anfâl/ 8: 46]

Dengan demikian, orang-orang yang sabar telah menggenggam ma’iyyah ini dengan membawa kebaikan dunia dan akhirat. Mereka telah jaya mendapatkan ma’iyyah ini dengan berbagai nikmat-Nya baik yang batin maupun yang lahir.

Allâh juga menjadikan kepemimpinan dalam agama ini digantungkan pada kesabaran dan keyakinan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (As-Sajdah 32: 24) [Lihat Uddatus Shâbirîn wa Dzakhîratus Syâkirîn]

Janji Allâh Azza wa Jalla buat orang-orang yang bersabar itu begitu banyak dan mulia dan Allâh Azza wa Jalla pasti akan menepati janji-Nya. Lalu, mengapa kita masih berat dan susah untuk bersabar?

Ketidaktahuan terhadap keutamaan sering menjadi sebab utama dalam hal ini, juga salah persepsi tentang kesabaran itu sendiri. Banyak orang yang menyangka bahwa bersabar itu menyebabkan kehinaan. Sabar atau memberi maaf itu identikkan dengan ketidakmampuan dalam melakukan pembalasan, padahal Rasûlullâh n bersabda:

مَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

Dan tidaklah seorang hamba memberikan maaf, melainkan Allâh akan menambahkan kemuliaan padanya.

Ada juga yang mengira, jika kaum Muslimin terus bersabar, maka mereka akan menjadi sasaran empuk musuh-musuh mereka. Untuk menjawabnya, bacalah firman Allâh Azza wa Jalla,

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allâh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. [Ali Imran/3:120]

Alangkah gamblang Allâh Azza wa Jalla menjelaskannya dalam ayat ini. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk para hamba yang bisa bersabar dalam berbagai keadaan dan disetiap waktu.

Ada juga yang berkata dengan nada sinis, “Sabar terus sampai akhirnya kita hancur.” Ini jelas sebuah kesalahan fatal. Karena orang yang bersabar itu akan tetap berbuat, bukan diam. Dia tetap berbuat, akan tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan senantiasa menjauhi semua yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla.

Dan yang perlu kita ingat bahwa kesabaran itu termasuk nikmat teragung. Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Barangsiapa yang sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar maka Allâh akan memudahkan kesabaran baginya. Dan tidaklah sesorang dianugerahkan (oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) pemberian yang lebih baik dan lebih luas (keutamaannya) dari pada (sifat) sabar[1]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M.]
_______
Footnote
[1] HSR. Al-Bukhâri, 6105 dan Muslim, 1053

Berdusta Atas Nama Allah dan Rasul-Nya

Abu Fathan | 07:39 | 0 comments
👎Ucapan Allah berfirman " Barang siapa yang mengingatkan tahun baru islam kepada saudara semuslimnya Maka api neraka Diharamkan menyentuh nya......."

👎Adanya tuntunan amalan yg di sandarkan kpd Tahun Baru Hijriyah.. Baik secara lisan atau tulisan bahkan diantaranya..

👉 Doa Awal Tahun...
👉 Dzikir Awal Tahun..
👉 Puasa Awal Tahun..
👉 Tahajjud Awal Tahun...
👉 Berkumpul Dan Muhasabah Malam th baru. (MABIT)

🏵️ Ancaman Berdusta Atas Nama Alloh

📚Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan siapakah yang lebih zhalim/aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allâh, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. [Al-An’âm/6: 21], [Al-‘Ankabût/29: 68]

📚Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ ﴿٦٩﴾ مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh tidak beruntung”. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. “[Yûnus/10: 69-70]

📚Allâh Azza wa Jalla memberitakan:

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ ۖ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allâh menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allâh tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui?” [Al-A’râf/7: 28]

🏵️ Ancaman Berdusta Atas Nama Rosululloh

عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
📚Dari al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Al-Bukhâri, no. 1229]

✍️ Sedangkan orang yang berdusta atas nama-Nya, dengan sengaja telah memasukkan ke dalam agama Allâh suatu perkara yang bukan dari agama Islam, dan dia menganggap bahwa membenarkan berita tersebut dan melaksanakannya, karena itu merupakan bagian agama Allâh, padahal dia tahu itu bukan bagian dari agama Allâh. Menambahkan (sesuatu) ke dalam agama sama hukumnya dengan mengurangi (sesuatu) darinya. Dan tidak ada bedanya orang yang mendustakan satu ayat al-Qur’ân, atau sengaja menambahkan satu kalimat yang dia katakan sebagai surat dari al-Qur’ân.

🌷 Semoga dengan mengetahui semua ini, kita semakin berhati-hati, agar tidak terjebak dalam perbuatan berdusta atas nama Allâh sehingga akan mendapatkan kebinasaan. Kita memohon bimbingan kebaikan dan perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari semua bentuk penyimpangan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa dan berkuasa mengabulkannya.

Mewujudkan Ittiba'

Abu Fathan | 00:59 | 0 comments

Ittiba’ tidak akan terwujud kecuali jika amalan sesuai dengan syariat di dalam enam perkara yaitu:


  1. Sebab. Jika seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan satu ibadah yang disertai dengan sebab yang tidak syar’i maka ibadah ini tertolak kepada pelakunya. Contohnya, menghidupkan malam ke duapuluh tujuh bulan Rajab dengan shalat tahajjud, dengan anggapan bahwa malam itu adalah malam isra’ mi’raj. Maka shalat tahajjud pada asalnya adalah ibadah, namun ketika dikaitkan dengan sebab ini, maka menjadi bid’ah karena dibangun di atas sebab yang tidak ditetapkan secara syar’i.
  2. Jenis. Jika seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan suatu ibadah yang jenisnya tidak disyariatkan, maka ibadah itu tidak diterima. Contohnya, menyembelih kuda sebagai hewan kurban. Karena hewan kurban hanya dari jenis binatang ternak onta, sapi dan kambing.
  3. Ukuran. Seandainya ada seseorang yang ingin menambah satu shalat sebagai shalat wajib atau menambah satu raka’at dalam shalat wajib, maka amalannya ini adalah bid’ah dan tertolak. Karena amalan (shalat) itu menyelisihi syari’at di dalam ukuran dan bilangannya.
  4. Tata cara. Jika seseorang membolak-balik wudhu dan shalat, maka wudhu dan shalatnya tidak akan sah. Karena amalannya menyelisihi syari’at di dalam kaifiyah (tatacara).
  5. Waktu. Seandainya seseorang menyembelih hewan kurban di bulan Rajab atau puasa Ramadhan di bulan syawwal atau wukuf di Arafah pada tanggal sembilan Dzulqa’idah, maka itu semua tidak akan sah karena menyelisihi syari’at di dalam waktu.
  6. Tempat. Jika seseorang melakukan i’tikaf di rumahnya, tidak di masjid atau dia wukuf pada tanggal sembilan Dzulhijjah di Muzdalifah, maka hal itu tidak sah karena menyelisihi syari’at di dalam tempat.

Perbaikan Keadaan Umat Urgensi Dan Cara Mewujudkannya

Abu Fathan | 11:12 | 0 comments
Sesungguhnya perbaikan keadaan umat merupakan tujuan agung yang diinginkan dan dicari setiap orang, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah dengan apa perbaikan itu direalisasikan?

Ada banyak sistem yang telah ditempuh dan hasilnya pun berbeda-beda. Banyak orang berasumsi bahwa faktor yang bisa mewujudkan perbaikan di tengah masyarakat itu adalah dengan memberikan apa yang mereka kehendaki di dunia ini. Mereka menyebutnya sistem demokrasi. Artinya, masyarakat dibiarkan dan diberi kebebasan untuk mengatur diri mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Di tengah masyarakat seperti ini, syariat Allâh Azza wa Jalla tidak dijadikan sebagai sumber hukum, padahal Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan mereka dan maha mengetahui segala yang bisa mendatangkan kebaikan bagi mereka. Masing-masing berjalan sesuai dengan keinginan dan kecenderungan mereka.

Realitanya, ini tidak akan bisa mewujudkan perbaikan. Sebab, keinginan-keinginan dan hobi-hobi masing-masing individu itu beragam dan berbeda-berbeda, sehingga akibat dari membierikan kebebasan ini adalah munculnya berbagai kerusakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka (al-Quran yang bisa menjadi) kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. [Al-Mukminûn/23:71]

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla tidak menyerahkan urusan manusia kepada keinginan-keinginan dan kemauan-kemauan mereka. Namun, untuk kebaikan manusia, Allâh Azza wa Jalla telah menggariskan bagi mereka jalan untuk mereka pijaki dalam kehidupan mereka. Jalan yang digariskan itu adalah ajaran yang dibawa para rasul yang Allâh Azza wa Jalla utus dan ajaran dalam kitab-kitab suci-Nya yang Allâh Azza wa Jalla turunkan.

Jadi, semua syariat yang datang dari langit (syari’at samawiyah), jika diikuti dan diamalkan pada masanya pasti akan mewujudkan perbaikan selama ajaran-ajaran itu tidak dinaskh (dirubah), sampai akhirnya datang syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Syari’at yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa mengganti semua ajaran-ajaran syariat sebelumnya dan memuat semua yang bisa mewujudkan kemaslahatan umat manusia sampai hari Kiamat datang.

Tidak ada kebaikan yang hakiki dan perbaikan yang pasti kecuali hanya dengan mengikuti syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadikannya sebagai landasan hukum. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang beriman! Taatilah Allâh dan taatilah Rasul(-Nya) dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa:4/59]

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa mengikuti ajaran syariat-Nya sebagai bentuk perbaikan sedangkan penentangan terhadap syariat-Nya disebut sebagai tindakan perusakan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allâh) memperbaikinya [Al-A’raf/7:56]

Barangsiapa ingin melakukan perbaikan di muka bumi, maka caranya adalah mengikut syariat Allâh Azza wa Jalla , sebaliknya adalah melanggar ketentuan syariat-Nya berarti melakukan pengerusakan.

Allâh Azza wa Jalla telah memperbaiki keadaan permukaan bumi dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci. Jika umat manusia mengikuti para rasul dan melaksanakan kandungan Kitabullah, maka bumi mereka akan menjadi baik. Namun jika mereka bersikap sebaliknya, berarti mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi, meskipun mereka mengklaim sedang melakukan perbaikan, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang munafik:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [Al-Baqarah/2:11-12].

Memperbaiki keadaan umat dengan mematuhi syariat Allâh Azza wa Jalla menjadi jaminan keselamatan dari kehancuran. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan [Hûd/11:117]

Cara perbaikan di muka bumi hanya akan terealisasi dengan menjadikan syariat Allâh Azza wa Jalla sebagai sumber hukum, mendirikan shalat, memberikan zakat, menegakkan hukum had, menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ﴿٤٠﴾ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Sesungguhnya Allâh pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allâh benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. . (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. [Al-Hajj/22:40-41]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لَحَدٌّ يُقَامُ فِي اْلأَرْضِ خَيْــرٌ لَهَا مِنْ أَنْ تُمْطِرَ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا

Satu hukum pidana yang ditegakkan di muka bumi lebih baik daripada hujan yang turun selama 40 pagi [HR. An-Nasa’i, no. 4904; Ibnu Mâjah, no. 2538. Lihat Shahîh al-Jâmi’, no. 3130]

Inilah bentuk perbaikan terhadap bumi dan perbaikan bagi penduduk bumi, sementara perbuatan yang berlawanan dengannya merupakan bentuk perusakan terhadap bumi dan orang-orang yang ada di permukaannya. Meskipun, orang-orang mengklaim itu merupakan bentuk pengembangan dan perbaikan bumi. Ini berarti termasuk penipuan public. Mereka menamakan sesuatu dengan nama lawannya. Alangkah miripnya malam ini dengan malam kemarin. Kaum munafik zaman ini sama dengan kaum munafik masa dahulu. Mereka meneriakkan perbaikan, dan mengklaim bahwa perbaikan keadaan umat Islam itu dengan mengikuti hukum-hukum orang kafir dan melumpuhkan ajaran syariat Islam.

Akan tetapi, Allâh Azza wa Jalla berfirman

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٣٢﴾ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allâh dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allâh tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. [At-Taubah/9:32-33].

Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Darul Hijrah (Imam Madinah) yaitu Mâlik bin Anas rahimahullah :

لَا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَـــــهَا

Akhir umat ini tidak menjadi baik kecuali dengan ajaran yang telah memperbaiki awalnya.

Sebelum syariat Islam datang, umat manusia berada dalam kesesatan nyata. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allâh memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. [Al-Anfâl/8:26]

Mungkin akan ada orang yang mengatakan, “Apakah kita akan mengabaikan dan membuang segala yang dimiliki oleh orang-orang kafir?” Pertanyaan ini kita jawab, “Hal-hal duniawi yang bermanfaat dari orang-orang kafir seperti produk-produk ciptaan mereka, hasil-hasil industri, eksperimen-eksperiman mereka yang bermanfaat, Allâh Azza wa Jalla memperbolehkan kita untuk mengambil dan memanfaatkannya setelah kita membelinya dengan uang kita. Ini sebenarnya, Allâh ciptakan bagi kita. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allâh yang telah dikeluarkan-Nya untuk para hamba-Nya dan (siapakah pulalah yang mengharamkan) rezeki yang baik? Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui. [Al-A’raf/7:32]

Yang terlarang ialah mengadopsi undang-undang mereka yang bertentangan dengan agama dan akidah kita, lalu kita menjauh dari ajaran syariat suci dan agama lurus yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan kepada kita, maka kita akan merugi dengan sebenar-benarnya kerugian.

Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullah[1]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M.]
_______
Footnote
[1] Al-Bayân li Akhthâ’I Ba’dhil Kuttâb, 3/139-141

Jalan Yang Menyimpang Dari Ahlus Sunnah

Abu Fathan | 18:31 | 0 comments
Jalan yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah nama-nama Allâh Azza wa Jalla dan sifat-sifat-Nya adalah:
mengimani semua yang ditetapkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya untuk diri Allâh dan menetapkannya dengan bentuk yang sesuai dengan keagungan-Nya
meniadakan apa yang ditiadakan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dari diri-Nya, dengan meyakini kesempurnaan lawan sifat yang ditiadakan itu.
meyakini bahwa semua sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla itu adalah sifat yang hakiki, bukan majaz (kiasan).

Akan tetapi sebagian manusia mengikuti jalan-jalan yang menyimpang dalam masalah ini. Maka tulisan berikut ini adalah penjelasan tentang jalan-jalan yang menyimpang dari jalan yang haq tersebut.

TAHRIF

Tahrîf artinya merubah. Maksudnya merubah lafazh nash atau maknanya. Berdasarkan ini, tahrîf dibagi menjadi dua:

1. Tahrîful Lafzhi

Yaitu merubah lafazh nash, dengan cara merubah kata, huruf atau merubah harakat.

Merubah harakat bisa merubah makna, seperti yang dilakukan sebagian orang menyimpang yang merubah firman Allâh Azza wa Jalla:

كَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

Dan Allâh telah berbicara kepada Musa dengan langsung. [An-Nisa’/4: 164]

Lafazh “Allâhu” yang berarti Allâh sebagai subyek yang berbicara, dirubah menjadi “Allâha” yang berarti Allâh sebagai obyek yang mendengar pembicaraan dari Nabi Musa Alaihissallam.

Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah menerangkan bahwa sebagian ahli bid’ah di zamannya merubah firman Allâh Azza wa Jalla :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allâh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. [An-Nûr/24:35]

Mereka merubahnya menjadi:

اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

Allâh menerangi langit dan bumi.

Lalu beliau menulis surat nasehat kepadanya dan mengantarkan surat itu bersama sebagian sahabatnya. Setelah itu, beliau mendengar berita bahwa ahli bid’ah itu bertaubat. [Kitab at-Tauhîd, 1/78-79, karya imam Ibnu Khuzaimah]

2. Tahrîful Makna (merubah makna nash).

Yaitu memalingkan makna lafazh dari makna zhahirnya tanpa dalil, seperti:

Merubah makna “yadullâh” yang seharusnya “tangan Allâh” dirubah menjadi kekuatan atau nikmat.

Merubah makna “istiwa’ Allâh” yang seharusnya “Allâh Azza wa Jalla bersemayam” dirubah menjadi istila’ Allâh (Allâh menguasai).

Merubah makna “tertawa Allâh” dengan pahala.

Dan lainnya, sebagaimana dilakukan oleh golongan Asy’ariyyah dan lainnya. Ini semua merupakan ilhâd (penyelewengan) terhadap ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla . Yang benar adalah menetap sifat-sifat Allâh dengan tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.

Mereka menyebut perbuatan mereka yang merubah makna ini dengan istilah ta’wîl (memalingkan makna rajih kepada makna marjuh), tetapi sebenarnya perbuatan mereka ini adalah tahrîf (melakukan perubahan) terhadap ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla .

Karena ta’wîl yang benar harus ada dalil siyaq (petunjuk rangkaian kalimat) atau qarînah (tanda atau indikasi) yang mengharuskannya. Kalâmullâh adalah petunjuk, maka jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki maksud perkataan yang tidak sama dengan zhahirnya, pasti ada tanda-tanda yang menunjukkan makna yang berbeda dengan zhahirnya. Jika tidak, maka akan menjerumuskan pendengar kepada kerancuan dan kesalahan.

Ta’wil yang benar adalah memberitakan maksud pembicara, bukan membuat kalimat baru! Jika dikatakan “makna kalimat ini adalah demikian”, padahal kenyataan tidak sebagaimana yang dikatakan, maka ini merupakan penyelewengan terhadap maksud perkataan pembicara. Ini adalah kesalahan nyata.

Semua bentuk tahrîf merupakan kesesatan, karena Allâh Azza wa Jalla mencela perbuatan ahlul kitab yang melakukan tahrîf (perubahan) terhadap kitab mereka. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. [An-Nisa’/4: 46]

Ketika Allâh Azza wa Jalla memrintahkan Bani Israil untuk memasuki Palestina dengan mengatakan “hith-thah” (Artinya: Ampunlah kami), kemudian mereka melakukan tahrîf (perubahan) dengan menambah huruf nun, sehingga menjadi “hinthah” (artinya sebiji gandum), maka Allâh Azza wa Jalla pun menghukum mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Lalu orang-orang yang zhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zhalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.[Al-Baqarah/2: 59]

TA’THIL

Ta’thîl secara bahasa artinya: mengosongkan, meniadakan, membiarkan. Adapun secara istilah, ta’thîl adalah mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh, baik mengingkari sebagian atau seluruhnya. Ta’thîl terbagi menjadi dua:

1. Ta’thîl kulliy yaitu mengingkari seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allâh, seperti ta’thîl yang dilakukan golongan Jahmiyah.

2. Ta’thîl juz’iy, yaitu mengingkari dan menta’wil (merubah makna) sebagian sifat-sifat Allâh, seperti yang dilakukan golongan Asy’ariyyah. Golongan Asy’ariyah ini menetapkan sebagian sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Sifat-sifat yang mereka tetapkan awalnya ada tujuh, yaitu: qudrah (berkuasa), irâdah (berkehendak), ilmu, hayat (hidup), sama’(mendengar), bashar (melihat), kalam (berbicara). Kemudian sebagian mereka menambahkan enam sifat lagi, yaitu: wujud (ada), qidam (ada sejak dahulu), baqa’ (kekal), mukhâlafatu lil hawâdits (berbeda dengan makhluk), qiyâmuhu bi nafsihi (berdiri sendiri), dan wahdaniyah (esa). Sehingga berjumlah 13 sifat, yang disebut dengan istilah 13 sifat wajib bagi Allâh Azza wa Jalla . Kemudian sebagian mereka menambah lagi dengan tujuh dari makna tujuh sifat yang pertama itu, sehingga sebagian mereka meyakininya dan menamainya dengan istilah sifat dua puluh Allâh. Semua ini ditetapkan berdasarkan akal. Karenanya, metode ini menyelisihi jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan sifat-sifat Allâh berdasarkan wahyu.

Pertama kali yang dikenal melakukan ta’thîl dari umat ini adalah Ja’ad bin Dirham, kemudian diikuti oleh orang-orang setelahnya.

Perbuatan ta’thîl ini merupakan kesesatan, karena tidak mengimani perkara yang diberitakan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Padahal Allâh Azza wa Jalla yang paling mengetahui tentang diri-Nya sendiri, dan perkataan Allâh adalah perkataan yang paling benar dan paling baik dibandingkan perkataan makhluk-Nya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allâh? [An-Nisa’/4: 87]

Kalau demikian, maka bagaimana perkataan Allâh dan RasulNya diingkari? [Lihat Syarah al-Aqîdah al-Wâsithiyah, hlm. 18, Syaikh al-Barrak]

TAKYIF

Takyîf artinya menceritakan bentuk sifat Allâh Azza wa Jalla . Seperti perkataan orang, “Bentuk tangan Allâh adalah demikian” atau saat menjelaskan tentang Allâh Azza wa Jalla itu turun, “Cara turun Allâh ke langit dunia adalah demikian”. Maha Suci Allâh dari perkataan mereka.

Takyîf ini adalah usaha yang dilakukan untuk menggambarkan hakekat sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Perbuatan ini tidak benar, karena akal manusia tidak mungkin memahami hakekat sifat Allâh dengan sempurna, yang dipahami hanyalah makna sifat, hanya Allâh yang mengetahui hakekat dari sifat-sifat-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamât, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyâbihât. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyâbihât untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allâh. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. [Ali ‘Imrân/3: 7]

Ayat yang muhkamât ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan mutasyâbihât yaitu ayat-ayat mutasyâbihât yaitu ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allâh Azza wa Jalla yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang perkara-perkara ghaib, misalnya ayat-ayat mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla termasuk perkara ghaib, maka yang mengetahui hakekatnya hanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala , sehingga manusia tidak boleh menggambarkan hakekat sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla .

Jika ada orang bertanya:
Bagaimana cara Allâh istiwa’ (berada) di atas arsy?
Bagaimana bentuk wajah Allâh?
Bagaimana bentuk tangan Allâh?
Bagaimana cara Allâh berbicara?

Dan pertanyaan-pertanyaan yang sejenis, maka tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Karena semua yang ditanyakan di atas termasuk perkara ghaib yang tidak mungkin diketahui kecuali oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ 

dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allâh melainkan apa yang dikehendaki-Nya. [Al-Baqarah/2:255) (Lihat Syarah al-Aqîdah al-Wâsithiyah, 2/8, Syaikh Khalid al-Mushlih]

TAMTSIL

Tamtsîl (tasybîh) artinya menyerupakan sifat Allâh Azza wa Jalla dengan sifat makhluk. Seperti mengatakan, “Tangan Allâh seperti tangan manusia”, Maha Suci Allâh dari perkataan mereka.

Banyak nash yang menolak keserupaan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya yang dengan tegas menyatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak sama dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, kita wajib menetapkan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dengan tidak menyerupakan dengan sifat makhluk-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [Asy-Syûra/42: 11]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. [Al-Ikhlâs/112: 4]

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh. Sesungguhnya Allâh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [An-Nahl/16: 74]

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? [Maryam/19: 65]

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh, padahal kamu mengetahui. [Al-Baqarah/2: 22]

Semua dalil di atas menunjukkan bahwa tidak ada apapun atau siapapun yang menyamai Allâh Azza wa Jalla , baik pada dzat-Nya, nama-Nya, sifat-Nya atau perbuatan-Nya.

TAWFIDH

Tafwîdh secara bahasa artinya menyerahkan. Tafwîdh ada dua:

1. Tafwîdhul kaif

yaitu menyerahkan hakekat sifat kepada Allâh Azza wa Jalla . Ini adalah jalan Ahlus Sunnah. Ini adalah tafwîdh yang terpuji, sebagaimana telah masyhur perkataan imam Malik rahimahullah :

الِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Istiwa’ (berada di atas) maknanya telah diketahui, kaifiyahnya (hakekatnya) tidak bisa dinalar, beriman kepadanya merupakan kewajiban, dan bertanya tentangnya merupakan bid’ah. (Lihat Majmû’ Fatâwâ, 5/41, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

Perkataan “Istiwa’ (berada di atas) maknanya telah diketahui”, ini menunjukkan keimanan dan penetapan sifat Allâh Azza wa Jalla .

Perkataan “kaifiyahnya (hakekatnya) tidak dapat dinalar”, ini menolak tamtsîl (menyamakan sifat Allâh dengan makhluk), dan menyerahkan hakekat sifat Allâh kepada-Nya. Ini tafwidh yang terpuji.

2. Tafwîdhul makna

Yaitu menyerahkan makna sifat kepada Allâh Azza wa Jalla dan menganggap bahwa yang mengetahui makna sifat Allâh Azza wa Jalla hanya Allâh. Sehingga orang yang berpemahaman tafwîdh ini tidak menetapkan adanya sifat bagi Allâh Azza wa Jalla .

Sebagian orang menyangka bahwa jalan Salaf adalah tafwîdhul makna. Ini tidak benar. Barangsiapa menisbatkan tafwîdh ini kepada Salaf, maka hakekatnya adalah tajhîl (menisbatkan kebodohan) kepada Salaf. Ini merupakan perkara yang sangat serius.

Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang menyelisihi jalan Muhajirin dan Anshâr adalah ahlut tajhîl. Beliau rahimahullah menyatakan, “Ahlut tajhîl banyak berasal dari kalangan orang-orang yang menisbatkan kepada Sunnah dan mengikuti Salaf. Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam tidak mengetahui makna-makna ayat-ayat sifat yang diturunkan oleh Allâh kepada Beliau Shallallahu ‘aliahi wa sallam , Jibril juga tidak mengetahui makna-makna ayat-ayat sifat itu, juga orang-orang yang pertama-tama masuk Islam juga tidak mengetahuinya’. Perkataan mereka terhadap hadits-hadits sifat juga seperti itu, “Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui maknanya selain Allâh”. Padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam yang membicarakan pertama kali, maka berdasarkan perkataan mereka, Nabi Shallallahu ‘aliahi wa sallam telah berbicara dengan perkataan yang beliau tidak mengetahui maknanya!” [Majmû’ Fatâwâ, 5/34]

Oleh karena itu Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Mereka keliru dalam menisbatkan kebodohan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘aliahi wa sallam dan Salaf”. [Majmû’ Fatâwâ, 5/38]

Sesungguhnya para Sahabat Nabi memahami makna ayat-ayat al-Qur’an yang memberitakan tentang sifat-sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Makna ayat itu diketahui dengan gamblang, karena al-Qur’an adalah perkataan Allâh dengan bahasa Arab yang fashîh (jelas maknanya), orang yang mendengarnya bisa memahaminya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ

Dan jikalau Kami jadikan al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut al-Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? [Fushshilat/41: 44]

Allâh tidak berbicara kepada kita dengan perkataan yang tidak bisa diPahami, bahkan perkataan merupakan petunjuk dan penjelasan segala perkara yang dibutuhkan oleh manusia. Oleh karena itu, Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak memahami makna-makna Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisa’/4: 82]

Setelah kita memahami jalan Ahlus Sunnah dan jalan-jalan yang menyimpang, maka semoga Allâh selalu mengokohkan kita di atas jalan kebenaran dan menyelamatkan kita dari jalan-jalan kesesatan. Aamiin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M.]
_______
Footnote
Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 96-100, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin dan beberapa rujkan yang lain.

Pendukung Dan Penghalang Dari Taubat

Abu Fathan | 08:49 | 0 comments
Taubat dari dosa dan kesalahan menjadi keinginan banyak orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari akhir. Keinginan ini terkadang menguat dan terkadang melemah bahkan hilang sama sekali. Ini tentu disebabkan oleh banyak faktor. Ketika faktor pendukung taubat itu ada dan banyak, maka keinginan untuk bertaubat akan menguat. Sebaliknya, jika faktor penghalangnya dominan, maka keinginan taubat akan meredup bahkan padam. Apa saja yang mendukung ? Dan apa yang menghalang?

HAL-HAL YANG MENDUKUNG SESEORANG UNTUK BERTAUBAT

Kewajiban bertaubat adalah kewajiban dan kebutuhan setiap orang. Tidak mungkin, ada orang yang tidak membutuhkan taubat. Karena, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Seandainya pun dia tidak pernah berbuat maksiat dengan anggota badannya, tapi hatinya mungkin pernah memiliki ham (kecendrungan kuat) untuk melakukan dosa. Kalaupun hatinya tidak pernah seperti itu, maka dia tidak akan pernah lepas dari syaitan yang terus berusaha memalingkannya dari dzikrullah. Seandainya dia tidak pernah terpengaruh bisikan syaitan, maka pasti dia pernah lalai, kurang menyadari akan Allâh Azza wa Jalla , sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya.

Oleh karena itu, setiap orang memerlukan taubat dan kembali dari kesalahan-kesalahannya menuju jalan yang lurus. Lalu, apa saja yang bisa menolong seseorang dalam usahanya untuk bertaubat?

Yang bisa membantu seseorang dalam bertaubat:

1. Jika memungkinkan, ia melaksanakan ibadah-ibadah yang luput darinya di masa-masa yang telah lewat (misalnya, mengqadha’ ibadah-ibadah yang telah lewat-red).

2. Bergegas menuju Allâh Azza wa Jalla dan melakukan ketaatan dalam rangka mencari ridha-Nya, merenungi keagungan Rabbnya, keagungan ridha-Nya dan betapa dahsyat murka-Nya. Juga terus berusaha merenungi janji-janji Allâh Azza wa Jalla buat orang-orang yang taat kepada-Nya serta ancaman-Nya terhadap orang-orang yang berani melakukan perbuatan maksiat. Dengan ini, hatinya akan bersinar dan akan kembali kepada fitrahnya.

3. Bergegas melakukan muhasabah (introsfeksi) diri dan tidak menunda-nundanya. Yaitu dengan mengingat kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya dimasa lampau akibat mengikuti hawa nafsunya. Dan dia meyakini bahwa mentaati hawa nafsu hanya akan mengakibatkan kebinasaan pada hari kiamat dan kehinaan dalam kehidupan dunia, serta meyakini bahwa dengan tidak mengikuti hawa nafsu, dia akan selamat di akhirat dan memliki izzah (harga diri) dalam kehidupan dunia.

Dengan kesadaran ini, dia akan bertekad untuk mendidik jiwanya, terus-menerus berusaha untuk mengekangnya, mencela keburukannya, mengingatkannya serta berusaha mengingatkannya agar tidak melupakan Rabbnya yang pasti dia akan kembali kepada-Nya

4. Menjauh dari tempat-tempat maksiat juga teman-teman yang buruk selama mereka masih tetap berada dalam keburukan dan mencari teman yang baik. Yaitu teman yang mengingatkan jika temannya lupa, dan meluruskan jika melihat temannya menyimpang dari jalan seharusnya. Teman yang senantiasa membimbing dan memandu temannya kepada kebenaran serta jalan yang lurus.

5. Jujur kepada Allâh Azza wa Jalla dalam taubatnya dengan cara memperbaiki semua amalannya, baik yang amalan fisik maupun hati

6. Membersihkan hati agar tidak terus menerus melakukan perbuatan dosa. Membersihkan hati ini bisa dilakukan dengan senantiasa menakut-nakutinya dan mengingatkannya dengan peringatan-peringatan keras dari al-Qur’an juga dengan mengingatkannya tentang berita-berita para pelaku maksiat di masa-masa lalu serta kisah berbagai musibah mengerikan yang menimpa mereka akibat perbuatan dosa mereka.

7. Berhenti dari semua dosa dengan bertaubat dan tidak terus menerus memberanikan diri melakukan dosa hanya karena bersandar kepada kasih sayang Allâh Azza wa Jalla dan ampunan-Nya. Memang, Allâh Azza wa Jalla itu maha pengampun, tapi kita juga harus ingat bahwa adzab Allâh Azza wa Jalla itu sangat pedih. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. [An-Nur/24:63]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allâh berfirman, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”. [Al-A’râf/7:156]

Hendaklah setiap Muslim itu berharap dan memohon pertolongan Allâh Azza wa Jalla dalam meniti jalan hidayah menuju kebaikan.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami ibadahi, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan [Al-Fâtihah/1:5]

Hendaknya setiap Muslim juga menyadari bahwa hati setiap insan itu berada diantara dua jari jari-jemari Allâh Azza wa Jalla yang maha pengasih lagi penyayang.

8. Jika dia telah atau sedang bermu’amalah dengan transaksi riba, maka hendaknya dia mengambil modal pokoknya saja dan membersihkan diri dari “keuntungan” atau riba yang dipetiknya melalui transaksi ribawi. Dia tidak boleh mengkonsumsinya dan tidak boleh pula menyerahkannya kepada Muslim lainnya untuk dikonsumsi.

9. Apabila dosa yang dikerjakannya termasuk dalam kategori kezhaliman kepada orang lain, misalnya, dosa karena mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan syari’at, maka dia wajib mengambalikannya kepada pemilik harta tersebut, jika dia mampu mengambalikannya. Jika dia tidak mampu mengambalikannya, maka dia harus punya tekad kuat untuk mengembalikannya secepat mungkin.

Jika dia tidak mengetahui pemiliknya atau dia mengetahui pemiliknya tapi dia tidak bisa menemukannya lagi, maka harta itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan kaum Muslimin dan diniatkan pahala untuk orang yang memiliki harta tersebut. Dengan demikian, orang yang memiliki harta tersebut akan mendapatkan pahalanya.

10. Melakukan amal shalih yang sesuai dengan sunnah Rasulullah n dengan ikhlas. Juga berusaha menempuh jalan hidayah seperti memperlajari ilmu syar’i, mengamalkannya, mengajarkan dan mendakwahkannya. Dia juga harus berusaha agar semua gerakannya dan diamnya dalam rangka taat kepada Allâh Azza wa Jalla , berperasangka baik kepada Allâh Azza wa Jalla , yakin dengan rahmat-Nya dan tidak merasa putus asa dari ampunan-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya [Al-Kahfi/18:110]

HAL-HAL YANG MENGHALANGI SESEORANG DARI TAUBAT

Saat-saat tertentu, banyak orang menyadari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya di masa-masa silam. Ketika itu, keinginan bertaubat dan keinginan untuk tidak mengulanginya begitu kuat di hati. Namun seiring dengan perjalanan waktu, keinginan itu melemah disebabkan perbuatan maksiat yang terus dilakukan. Karena perbuatan-perbuatan maksiat itu melemahkan keinginan hati untuk melakukan kebaikan. Jika keinginan hati untuk melakukan kebaikan melemah, maka keinginan untuk melakukan keburukan semakin menguat. Perbuatan maksiat-maksiat ini juga akan melemahkan dorongan untuk melakukan taubat sedikit demi sedikit, sampai akhirnya keinginan untuk bertaubat itu hilang sama sekali. Na’udzu billâh. Padahal tabi’at dari perbuatan maksiat adalah dia akan melahirkan perbuatan maksiat berikutnya dan terus begitu selanjutnya.

Mengapa berani untuk melakukan perbuatan maksiat dan tidak segera bertaubat?

Berikut ini disebutkan beberapa penyebabnya. Diantaranya:

Pertama: Bersandar kepada keluasan rahmat Allȃh dan kemurahan-Nya serta ampunan-Nya.

Ada sebagian orang yang melakukan dosa jika diberi nasehat atau diingatkan dari dosa-dosa yang dia lakukan, dia menjawab bahwa rahmat Allȃh itu sangat luas dan keluasan ampunan-Nya menyebabkan Dia bisa mengampuni seluruh dosa-dosa yang diperbuatnya.

Orang ini telah lupa bahwa disamping Allâh Azza wa Jalla maha luas ampunannya, Allâh Azza wa Jalla (juga) maha keras hukuman-Nya dan tidak ada sesuatupun atau seorang pun yang bisa mencegah atau menolak siksa-Nya atas kaum yang berdosa. Maka barangsiapa yang bersandar kepada ampunan Allâh Azza wa Jalla dengan terus melakukan kemaksiatan maka dia seperti orang yang sengaja menentang dan sombong.

Kedua: Menunda-nunda taubat dan tertipu dengan angan-angan

Sungguh Allȃh Azza wa Jalla telah mengingatkan hal itu dalam banyak ayat di dalam kitab-Nya yang mulia. Allȃh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allȃh. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. [Al-Munȃfiqȗn/63:9]

Ketiga: Ambisi untuk mengumpulkan harta.

Ambisi untuk mengumpulkan harta, serta kesibukannya dengan mencurahkan segala upaya untuk mendapatkannya, memusatkan pikiran pada seputar urusan harta, dan menyibukkan hati dengan mencari sumber-sumber penghasilan dan sumber pemasukan, ini semua menyebabkan hati seorang menjadi lalai dan lupa terhadap tempat kembalinya yang pasti akan yang akan dijumpai. Ini menyebabkan dia lupa untuk mempersiapkan diri menyambut peristiwa yang pasti terjadi setelah kematian. Rasȗlullȃh bersabda

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya anak Adam mempunyai dua lembah harta, maka sungguh dia akan mencari (lembah harta) yang ketiga, dan tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah, dan Allȃh memberikan ampunan untuk orang yang bertaubat [1]

Keempat: Lalai dan tidak memiliki ilmu agama

Kedua hal di atas menjerumuskan seorang hamba untuk terus bersenang-senang dengan syahwat yang diharamkan. Kesenangan ini menunjukkan bahwa dia menyukai perbuatan maksiat itu sekaligus juga menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui keagungan Rabb yang dia maksiati atau didurhakai, serta menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui akibat buruk dari perbuatan maksiatnya tersebut serta tidak mengetahui betapa besar permasalahan maksiat ini dihadapan-Nya.

Kelima: Menganggap kecil dosa sehingga menyebabkan dia tidak takut kepada Allâh Azza wa Jalla .

Oleh Prof.DR.Shalih Ghanim as-Sadlan
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M.]
_______
Footnote

[1] HR. Al Bukhari (6072)(6073) Kitabur Riqȃq: Bab Mȃ yuttaqȃ min fitnatil mȃl, Muslim (1048) Kitabuz Zakȃh: Bab Lau Kȃna libni Ȃdam wadiyani labtagho tsȃlisan

Beda Taubat Dengan Istighfar

Abu Fathan | 08:47 | 0 comments
PENDAHULUAN

Banyak di antara kaum Muslimin yang kurang tepat dalam memahami taubat. Ketika seseorang melakukan perbuatan dosa, lalu menyesal berat, lalu meninggalkan dosa tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali, maka dianggapnya itu sebagai taubat yang sebenarnya.

Padahal itu hanya baru dari sisi meninggalkan dosa saja. Ini baru hanya sebagian dari pengertian taubat. Baru hanya merupakan syarat taubat. Tetapi sejatinya pengertian taubat bukan itu saja. Taubat mempunyai cakupan yang lebih luas, di samping mencakup syarat di atas, juga mencakup semangat yang kuat untuk berkomitmen menjalankan perintah Allâh Azza wa Jalla . Sehingga bukan hanya meninggalkan dosa, menyesalinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya saja, akan tetapi harus pula menjalankan perintah.

Demikian keterangan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah secara ringkas. [1]

Lebih lanjut beliau rahimahullah menegaskan bahwa sesungguhnya hakikat taubat adalah kembali kepada Allâh Azza wa Jalla dengan berkomitmen menjalankan segala apa yang dicintai Allâh Azza wa Jalla dan meninggalkan segala apa yang tidak disukai-Nya. Kembali dari perkara yang tidak disukai menuju perkara yang dicintai (oleh Allâh).

Oleh karena itulah, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa keberuntungan mutlak hanya akan diperoleh bila seseorang menjalankan apa yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Bertaubatlah kamu semua kepada Allâh wahai orang-orang yang beriman agar kamu semua mendapat keberuntungan. [An-Nûr/24 : 31]

Setiap orang yang bertaubat pasti akan beruntung. Namun tidak akan beruntung kecuali orang yang menjalankan perintah Allâh dan meninggalkan laranganNya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. [Al-Hujurât/49 : 11]

Orang yang meninggalkan perintah adalah orang zalim, demikian pula orang yang melanggar laranganpun zalim. Sebutan zalim akan hilang dari dirinya hanya apabila ia bertaubat dengan pengertian yang mencakup dua hal di atas (menjalankan perintah dan meninggalkan larangan)[2]

SEBERAPA PENTINGKAH TAUBAT?

Taubat merupakan ibadah yang memiliki posisi sangat penting bagi kehidupan manusia. Betapa tidak, sebab taubat harus menjadi perkara pertama yang musti dilakukan ketika manusia memulai menjalankan kehidupannya disaat baligh. Taubat juga harus senantiasa menyertainya di sepanjang kehidupannya. Dan taubat harus menjadi penutup kehidupannya.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan:

Posisi taubat (bagi kehidupan manusia) merupakan permulaan langkah, tengah-tengahnya dan akhir (penutup)nya. Seorang manusia tidak boleh berpisah dari taubat. Ia harus senantiasa dalam keadaan bertaubat sampai kematiannya. Kalau ia berpindah kesuatu keadaan, ia harus berpindah dengan mambawa taubat. Taubat harus selalu menemaninya.

Maka, taubat harus menjadi permulaan bagi kehidupan manusia dan harus menjadi penutup bagi akhir kehidupannya. Kebutuhan seseorang akan taubat di penghujung hidupnya amat sangat darurat. Tetapi kebutuhannya pada permulaan hidupnyapun amat sangat darurat pula.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Bertaubatlah kamu semua kepada Allâh wahai orang-orang yang beriman agar kamu semua mendapat keberuntungan. [An-Nûr/24:31]

Ayat ini terdapat di dalam surat Madaniyah (Surat al-Qurˈân yang turun sesudah hijrah ke Madinah). Allâh Azza wa Jalla berbicara kepada kelompok orang-orang beriman yang paling pilihan (yaitu para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka supaya bertaubat kepada-Nya sesudah mereka beriman, bersabar, berhijrah dan berjihad. Kemudian Allâh Azza wa Jalla mengaitkan antara taubat dengan hasilnya sebagaimana kaitan antara sebab dan akibatnya. Dalam menghubungkan antara taubat dan hasilnya itu Allâh Azza wa Jalla menggunakan kata “la’alla” yang memberikan pengertian harapan, sebagai bentuk pemberitahuan dari Allâh Azza wa Jalla bahwa apabila anda bertaubat, berarti anda bisa mengharapkan keberuntungan. Tidak ada yang bisa mengharapkan keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat.[3]

Berikutnya Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengetengahkan ayat berikut:

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. [Al-Hujurât/49:11]

Beliau rahimahullah mengatakan, dalam ayat ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala membagi para hamba-Nya menjadi dua golongan; golongan orang yang bertaubat dan golongan orang yang zhalim. Tidak ada golongan yang ketiga sama sekali. Allâh Azza wa Jalla menyematkan sebutan zhalim pada diri orang yang tidak bertaubat. Dan tidak ada orang yang lebih zhalim daripada orang yang tidak bertaubat. Hal itu lantaran kebodohan (ketidaktahuan)nya terhadap Allâh dan hak Allâh. Juga lantaran kebodohannya terhadap aib dirinya dan terhadap cacat amal perbuatannya.[4]

Akhirnya bisa disimpulkan bahwa taubat merupakan hakikat dari Dînul Islâm. Seluruh bagian dari ajaran Dînul Islâm ini merupakan unsur dari apa yang disebut taubat. Dengan demikian, orang yang bertaubat berhak menjadi orang yang dicintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala .[5] Wallahu a’lam.

HUBUNGAN TAUBAT DAN ISTIGHFAR

Selanjutnya ada dua istilah di dalam Islam yang dikenal oleh semua Muslim, yaitu taubat dan istighfar. Apakah keduanya sama atau beda? Kalau beda, lalu di mana letak perbedaannya? Kalau sama, mengapa banyak nash al-Qurˈân dan Sunnah yang menyebutkan taubat secara bergandengan dengan istighfar? Bukankah penyebutan dua istilah itu secara bergandengan menunjukkan adanya perbedaan makna antara keduanya? Contoh penyebutan dua istilah itu secara bergandengan misalnya, firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

Hendaknya beristaghfarlah kamu kepada RabbMu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya.[ Hûd/11: 3]

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

(Hûd berkata) Hai kaumku! Beristighfar (minta ampun) lah kamu kepada Rabbmu, kemudian bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia akan mengirimkan air hujan tercurah kepadamu dari langit. [Hûd/11:52]

Juga sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً. رواه البخاري

Demi Allâh, sesungguhnya aku beristighfar (hohon ampun) kepada Allâh dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali. [HR. Bukhâri][6]

Dan nash-nash lainnya.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, menurut penjelasan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, dua kata ini merupakan dua kata yang apabila disebutkan bergandengan, maka keduanya memiliki makna yang berbeda. Namun apabila disebutkan secara terpisah, maka keduanya memiliki makna yang sama.

Lebih jelasnya, apabila istighfar disebut tersendiri, kata beliau rahimahullah , maka maknanya sama seperti taubat, bahkan istighfar adalah taubat itu sendiri, di samping mengandung makna permohonan maghfirah kepada Allâh Azza wa Jalla . Maghfirah adalah: penghapusan dosa, penghilangan bekas-bekas dosa dan penjagaan dari keburukan dosa. Tidak sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang bahwa arti maghfirah hanyalah sekedar menutupi dosa (maksudnya, dosa tidak terlihat, namun masih ada-pen). Sebab sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla kadang menutupi dosa orang yang diampuni dan kadang menutupi dosa orang yang tidak diampuni. Tetapi yang benar, tertutupinya dosa merupakan konsekuensi dari terhapusnya dosa, atau merupakan bagian dari terhapusnya dosa.[7]

Maksudnya, apabila seseorang mendapat maghfirah dari Allâh Azza wa Jalla hingga dosa dan bekas-bekas dosanya terhapus, maka otomatis dosa itu sudah tertutupi dan tidak terlihat lagi. Tetapi apabila dosa itu hanya ditutupi saja, maka belum tentu bahwa dosa itu sudah dihapus dan dihilalangkan bekasnya. Wallâhu a’lam.

Istighfar adalah memohon maghfirah, memohon dihapusnya dosa, bukan sekedar memohon ditutupinya dosa.

Dan istighfar inilah yang menghalangi seseorang dari adzab. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan tidaklah Allâh akan mengazab mereka sedangkan mereka orang-orang yang beristighfar. [Al-Anfâl/8 : 33]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengadzab orang yang beristighfar (dalam arti istighfar secara totalitas). Namun apabila orang terus menerus berbuat dosa, sementara iapun mohon ampun kepada Allâh, maka istighfarnya bukan istighfar yang sempurna, dan ia tidak terhalang untuk mendapat adzab. [8]

Jadi apabila istghfar disebut tersendiri, begitu pula taubatpun disebut tersendiri, maka pengertian istighfar mencakup taubat dan pengertian taubat mencakup istighfar.

Adapun apabila dua kata tersebut disebut secara bergandengan, maka istghfar berarti memohon perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari keburukan dosa yang telah lewat, sedangkan taubat adalah kembali (dari perbuatan dosa) serta memohon penjagaan dari segala keburukan amal perbuatan yang dikhawatirkan akan terjadi kemudian.[9]

Dari keterangan di atas, lebih lanjut Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menerangkan, bahwa dosa terdiri dari dua dosa; dosa yang telah lewat. Ini terhapus dengan istighfar. Dan dosa yang dikhawatirkan akan terjadi kemudian, maka caranya dengan bertaubat darinya, yaitu dengan bertekad untuk tidak melakukannya.[10]

Itulah perbedaan makna taubat dan istighfar ketika disebut secara bergandengan.

Kesimpulannya, jika taubat disebut tersendiri, maka pengertiannya mencakup istighfar. Demikian pula ketika istighfar disebut secara tersendiri, maka pengertiannyapun mencakup taubat.

Tetapi ketika keduanya disebut secara bergandengan, maka istighfar adalah permohonan ampun dari dosa yang telah terlanjur dilakukan. Sedangkan taubat adalah permohonan perlindungan dari dosa yang dikhawatirkan terjadi kemudian dan bertekad untuk tidak lagi melakukan perbuatan dosa. Wallâhu a’lam.

Oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XX/1437H/2016M.]
_______
Footnote

[1] Lihat penjelasan Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Madârij as-Sâlikîn, Dâr Ihyâˈi at-Turâts al-‘Arabi, cet. II, th 1421 H/2001 M. I/235, dengan terjemah bebas dan ringkas

[2] Ibid.

[3] Ibid. I/141-142

[4] Ibid. I/142

[5] Ibid I/235

[6] Shahîh al-Bukhâri; Fathu al-Bâri XI/101, no. 6307

[7] Madârij as-Sâlikîn, op.cit. I/236

[8] Ibid. I/236-237

[9] Ibid I/237

[10] Ibid
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA SUNNAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger