{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)

Showing posts with label Istiqomah. Show all posts
Showing posts with label Istiqomah. Show all posts

Ringkasan ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH

Abu Fathan | 00:07 | 0 comments
🎙 Syaikh Prof. DR. Ibrahim bin Amir bin Ali Ar Ruhaily hafidzahullah
(ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH)
🕌 Masjid Agung Karang Anyar
Faedah :
1. Setelah syaikh memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ﷺ, beliau mengucapkan rasa Syukur dan terimakasih kepada seluruh pihak yang menjadi sebab terselenggaranya acara Muhadhoroh kali ini
2. Tema yang dibawa pada Muhadhoroh kali ini adalah ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH RASUL ﷺ dan hal ini adalah perkara yang besar
3. Setiap muslim berusaha dan berdoa di dalam keadaan apapun untuk memohon keistiqomahan, karena orang yang Istiqomah adalah orang yang istimewa di sisi Allah subhanahu wata'ala
4. Ada 7 Bab yang (Insyaa Allah) akan di bahas :
- Ketetapan di atas sunah di dalam berdalil
- Ketetapan di atas sunah di dalam beraqidah
- Ketetapan di atas sunah di dalam beribadah
- Ketetapan di atas sunah di dalam beradab dan berakhlaq
- Ketetapan di atas sunah di saat terjadi perselisihan
- Ketetapan di atas sunah di dalam dakwah di jalan Allah
- Ketetapan di atas sunah di dalam dalam Amar maruf nahi munkar
5. Ketetapan di atas sunah di dalam berdalil
Adalah prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim, dan merupakan pokok dari pembahasan berikutnya
Ada 3 Pokok Dalil Syar'i:
1. Al Qur'an
2. Sunnah Nabi ﷺ
3. Ijma para ulama
Dan 4 Imam madzhab
Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi'i dan Imam Ahmad, telah bersepakat bahwa berdalil tidak keluar dari 3 hal ini
1) Berdalil dengan Al Qur'an
2) Berdalil dengan Sunnah Nabi ﷺ
3) Berdalil dengan Ijma
Setiap Ijma Yang Shahih PASTI berlandaskan dalil yang Shahih
6. Ketika berdalil harus dikembalikan dengan pemahaman Salafu As Shalih Mereka adalah Shahabat, Tabi'in dan Tabiut'tabi'in
Ketika ingin berdalil dengan ayat, Hadits maka berdalillah dengan pemahaman para Salafus Sholih, merekalah yang lebih faham dari dali dan lebih selamat
7. Syaikh Ibnu Taimiyah menjelaskan :
Orang yang menyimpang bersumber 2 hal :
1) Dia berdalil dengan sesuatu yang bukan dalil
2) Dia salah dalam memahami dalil
Maka jika ingin selamat dari hal tersebut maka seseorang harus :
1) Berdalil dengan Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ
2) Memahami dalil dengan pemahaman Salaf
8. Wajibnya kembali pada pemahaman salaf, ketika ingin membaca ayat dan hadits akan Di temui adanya perbedahan dari para Ulama Salaf
Karena perbedaan diantara Ulama itu berbeda :
1) Perbedaan tanawu' ( perbedaan secara redaksi/ungkapan)
2) Perbedaan yang saling bertolak belakang
9. Ketika mendapati perbedaan Tanawu'
Kata Syaikh Ibnu Taimiyah dalam Muqadimah tafsirnya mengatakan :
Perbedaan tersebut hanya sebagai contoh
Seperti pada contoh ayat :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Para Ulama berbeda dalam tafsir , ada yang berpendapat Qur'an, Islam dab Jalan Nabi ﷺ
Namun penafsiran itu intinya sama (hanya perbedaan redaksi saja)
Orang orang yang membawa kebenaran dan mengikuti kebenaran
Di tafsirkan :
1) membawa kebenaran ; Nabi, yang Mengikuti = kaum Muslim
2) Membawa kebenaran = Rasulullah ﷺ, yang mengikuti = Abu Bakr
3) Membawa kebenaran = Para Dai, yang mengikuti = Adalah yang menerima ajaran dai tersebut
11. Perbedaan yang salung bertolak belakang
Harus kita pilih pendapat yang Benar
Dalam masalah Aqidah
Ayat tentang Dosa Syirk
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).
Para Ulama berpendapat tentang Syirk :
1) Syirk Akbar Saja
2) Syirk Akbar dan Ashgar
Dalam Masalah Wudhu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْلَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); ...” (QS. Al Ma-idah: 6)
Para ulama berpendapat :
1) Memegang = Jima
2) Memegang dengan tangan
Maka dalam kondisi seperti ini kita mengambil kepada pendapat yang Kuat
1) Seorang Ulama memiliki kemampuan dalam menelaah dalil dalil, sehingga bisa mengambil salah satu pendapat
2) Adapun bagi penuntut ilmu cukup dengan mengikuti Ulama tersebut
12. ISTIQOMAH DALAM BERAKIDAH
A) Kita meyakini akidah yang Benar
Yaitu meyakini rukun iman
Yang semuanya harus dilandaskan dengan Dalil
Contoh : iman kepada Allah itu mencakup 3 Tauhid :
1) Tauhid rububiyah
2) Tauhid Uluhiyah
3) Tauhid Asma wa shifat
3 jenis tauhid banyak dalil dalam Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ
B) Berlepas diri dari keyakinan yang yang menyimpang
Seperti :
- Kesyirikan, Bidah, penafian shifat Allah, Penyerupaan Shifat Allah,
- Pemahaman Murjiah dan Khawarij
- Pemahaman Qodariyah dan Jabriyah
- Pemahaman yang terlalu GHULUW pada Shahabat Nabi ﷺ dan pemahaman yang Menghina shahabat Nabi ﷺ
14. Tugas inti para Rasul adalah menyeru untuk beribadah kepada Allah (berpegang kebenaran) dan Menjauhi Kebatilab
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ}
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut ” (QS. An Nahl:36)
15. ISTIQOMAH DALAM BERIBADAH
Yaitu seseorang memenuhi 2 Hal :
1) Dia beribadah dengan Ibadah yang di Syariatkan oleh Allah dan Rasul ﷺ
2) Menjalankan ibadah dengan tatacara yang diajarkan Rasul ﷺ
عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللهُ عَنْهَا - قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : (مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ) رواه البُخارِيُّ وَ مُسلِمٌ، وفي رواية لـمُسلِمٍ (مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ).
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang membuat-buat hal yang baru dalam urusan kami (ibadah) yang tidak ada dasarnya dari agama maka perbuatan itu tertolak. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak memiliki dasar dalam agama kami maka amal itu tertolak.
16. Bidah hakiki adalah orang membuat ibadah yang baru seperti orang membuat "Sholat Baru yang tidak di Syariatkan"
17. Seorang beribadah harus sesuai dg apa yang diajarkan Nabi ﷺ
Berdasar dalil
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Shalatlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Shalat
Dan juga dalil
خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى أَنْ لاَ أَحُجَّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ
“Ambillah dariku manasik-manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, mungkin saja aku tidak berhaji setelah hajiku ini”.(HR. Muslim).
18. Seorang yang sholat cepat (tidak tumaninah) tidak sesuai dengan Ajaran Nabi ﷺ, dan Sholatnya tidak Sah
“Suatu ketika ada seseorang yang masuk masjid kemudian shalat dua rakaat. Seusai shalat, orang ini menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu berada di masjid. Ternyata Nabi menyuruh orang ini untuk mengulangi shalatnya. Setelah diulangi, orang ini balik lagi, dan disuruh mengulangi shalatnya lagi. Ini berlangsung sampai 3 kali. kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya cara shalat yang benar. Ternyata masalah utama yang menyebabkan shalatnya dinilai batal adalah kareka dia tidak tumakninah. Dia bergerak rukuk dan sujud terlalu cepat.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan yang lainnya)
19. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH DALAM MUAMALAH DAN BER AKHLAQ
1) Berakhlaq dengan kaum muslin
2) Berakhlaq dengan selain Muslim
Kedua jenis muamalah ini diatur dalam Agama Islam (dan di bedakan)
20. Ahlussunnah bersikap bahwa muslim memiliki hak khusus, dan Orang Kafir juga memiliki haq yang berbeda
21. Hak seorang Muslim :
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذاَ مَاتَ فَاتْـبَعْهُ
“Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam:
1. Jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam,
2. Jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya,
3. Jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat,
4. Jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’,
5.Jika ia sakit maka jenguklah
6. Dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)
22. Hak Orang Kafir
Wajib membenci orang kafir tetapi TIDAK BOLEH MENDHOLIMI MEREKA
Rasulullah ﷺ mengajari cara menjawab salam dari orang kafir
إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ
“Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)
23. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH KETIKA TERJADI PERSELISIHAN
Perselisihan adalah salah satu sunnatullah yang terjadi dari dulu hingga sekarang
24. Sikap yang benar ketika menghadapi Perbedaan ada 2 :
1) Berusaha mencari Kebenaran dan berpegang dengan kebenaran tersebut
2) Mensikapi orang yang berselisih dengan kita adalah dengan cara menjelaskan dengan kelembutan
Dan Tetaplah menjaga hubungan baik dengan orang yang berselisih dengan kita, dengan tidak mudah memberikan label ahlul bidah/orang fasik dan hal hal lain yang bisa menyakiti hati mereka
25. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH DALAM BERDAKWAH DI JALAN ALLAH
Tujuan dari Dakwah ada 3 :
1) Menegakkan Hujjah (menjelaskan dalil) pada umat manusia, sehingga faham terhadap Agama
2) Mengharapkan manusia mendapatkan Hidayah
رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberiperingatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnyaperingatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 165)
3) Melepaskan tanggung jawab di hadapan Allah
26. Saran dalam dakwah adalah mengikuti jalan yang Allah tunjukan yaitu dengan hikmah, mendebat dengan cara yang baik
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nahl/16:125]
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka.” [al-Ankabût/29:46]
27. Bersabarlah ketika berdakwah dijalan Allah seperti sabarnya para ulul azmi
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Qs. Al Ahqaaf [46] : 35)
28. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH DALAM AMAR MARUF NAHI MUNKAR
Yaitu ketika memenuhi 2 Hal :
1) Mengilmui mana yang maruf dan mana yang munkar
MARUF : Adalah yang di jelaskan dalam Syariat bahwa itu BAIK
MUNKAR : Adalah yang di jelaskan dalam Syariat bahwa itu SALAH/KEBURUKAN
2) Melakukannya dengan cara yang Benar
Dijelaskan dalam hadits Nabi ﷺ :
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْـخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ».
Dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.’”
29. Melihat kemungkaran bisa dengan Mata bisa juga dengan ilmu (mengetahui dengan informasi)
30. Yang boleh merubah kemungkaran dengan "tangannya" adalah :
1) Pemerintah
2) Ayah dirumahnya
31. Tidak mampu adalah dari pandangan Syariat, yakni ketika dia menginkari dengan tangannya justru akan menimbulkan kemunkaran yang lebih Berat
Maka ingkari dengan Lisan : yaitu dengan Nashihat
Kadang Nabi ﷺ mengingkari dengan Berpaling muka, senyum, nashihat
31. Nabi ﷺ memerintahkan untuk "MERUBAH" bukan memusnahkan, sehingga jangan sampai kita ekstrim dengan kemungkaran dan juga jangam sampai kita "Tidak Peduli" dari kemungkaran
📝 Di Ringkas Oleh Abu Shafiyyah

love message Pembaca

Istiqomah

Abu Fathan | 02:37 | 0 comments
Sesunguhnya nikmat Allâh Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya tidak terbatas. Di antara nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam. Demikian juga nikmat istiqomah di atas iman. Hal ini ditunjukkan oleh hadits di bawah ini:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdullâh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, "Wahai Rasûlullâh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!" Beliau menjawab: "Katakanlah, 'aku beriman', lalu istiqomahlah". [HR Muslim, no. 38; Ahmad 3/413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972].

MAKNA ISTIQOMAH
Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat tahun 795 H) berkata menjelaskan makna istiqomah dan kedudukan hadits ini dengan mengatakan: “Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama".[1] 

Dari penjelasan di atas maka diketahui bahwa ukuran istiqomah adalah agama yang lurus ini. Yaitu melakukan ketaatan sebagaimana diperintahkan dengan tanpa melewati batas, tanpa mengikuti hawa-nafsu, walaupun orang menganggapnya sebagai sikap berlebihan atau mengurangi. Allâh Ta'ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ 

Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Hûd/11:112].

Allâh Ta'ala juga berfirman:

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan istiqomahlah (tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allâh dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allâh-lah tuhan kami dan tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allâh akan mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah tempat kembali (kita)". [Syûrâ/42:15].

ISTIQOMAH HATI DAN ANGGOTA BADAN
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: Pokok istiqomah adalah istiqomah hati di atas tauhid, sebagaimana penjelasan Abu Bakar ash-Shiddîq dan lainnya terhadap firman Allâh: 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka". [al-Ahqâf/46:13].

(Yaitu) bahwa mereka tidak berpaling kepada selain-Nya. 

Ketika hati telah istiqomah di atas ma'rifah (pengetahuan) terhadap Allâh, khasyah (takut) kepada Allâh, mengagungkan Allâh, menghormati-Nya, mencintai-Nya, menghendaki-Nya, berharap kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya; maka semua anggota badan juga istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Karena hati merupaka raja semua anggota badan, dan semua anggota badan merupakan tentara hati. Maka jika raja istiqomah, tentara dan rakyatnya juga istiqomah. 

Demikian juga firman Allâh: 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allâh -Rûm/30 ayat 30- ditafsirkan dengan memurnikan niat dan kehendak bagi Allâh semata, tanpa sekutu bagi-Nya.

Setelah hati, maka perkara terbesar yang juga dijaga isitqomahnya adalah lisan, karena ia merupakan penterjemah hati dan pengungkap (isi) hati. Oleh karena itulah setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan istiqomah, beliau mewasiatkan untuk menjaga lisan. 

Di dalam Musnad Imam Ahmad dari Anas bin Mâlik , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: 

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. [HR Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/13]. 

Disebutkan dalam Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Sa'id al-Khudri secara marfuu' dan mauqûf:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا 

Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: "Takwalah kepada Allâh di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. [HR Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin 3/17, no. 1521].[2] 

KEUTAMAAN ISTIQOMAH
Istiqomah tidaklah mudah. Namun seorang hamba akan mendapatkan semangat di dalam istiqomah dengan mengetahui keutamaannya. Allâh Ta'ala berfirman memberitakan keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allâh" kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allâh kepadamu". [Fush-shilat/41:30].

Di dalam ayat yang lain Allâh Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿١٣﴾ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allâh", kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. [al-Ahqâf /46:13-14].

ISTIGHFAR MELENGKAPI ISTIQOMAH
Manusia pasti memiliki kekurangan. Manusia tidak akan mampu melaksanakan agama ini secara menyeluruh dengan sempurna. Oleh karena itulah Allâh Ta'ala memerintahkan istighfar setelah memerintahkan istiqomah. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus) menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. [Fush-shilat/41:6].

Iman Ibnu Rajab berkata: "Di dalam firman Allâh 'maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya', merupakan isyarat bahwa pasti terjadi kekuarangan di dalam (menjalankan) istiqomah yang diperintahkan, maka diperbaiki dengan istighfar yang mengharuskan taubat dan ruju' menuju istiqomah".[3] 

SEBAB-SEBAB ISTIQOMAH
Sesungguhnya sebab-sebab istiqomah sangat banyak. Diantara sebab-sebab terpenting yang menjadikan seseorang istiqomah di jalan Allâh Ta'ala ialah sebagai berikut:
1. Merenungkan al-Qur`ân.
2. Mengamalkan agama Allâh.
3. Doa.
4. Dzikir.
5. Pembinaan iman.
6. Meneladani Salafush-Shâlih dan ulama yang istiqomah.
7. Mencintai Allâh dan Rasul-Nya melebihi yang lainnya.
8. Mencintai dan membenci sesuatu karena Allâh.
9. Saling berwasiat dengan al-haq, kesabaran, dan kasih-sayang.
10. Meyakini masa depan bagi agama Islam.

Wallâhu A'lam.

Oleh Ustadz Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1435H/2014M. ]
_______
Footnote
[1]. Jâmi’ul-‘Ulûm wal-Hikam, juz 1, hlm. 510, karya Imam Ibnu Rojab, dengan penelitian Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhim Bajis, Penerbit ar-Risalah, Cet. 5, th. 1414 H/ 1994 M.
[2]. Jâmi'ul-'Ulûm wal-Hikam, 1/511-512.
[3]. Jâmi'ul-'Ulûm wal-Hikam, 1/510.

Inilah Balasan bagi yang Istiqomah

Abu Fathan | 21:18 | 0 comments
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat [41]: 30)
Keimanan kepada Allah menuntut sikap istiqomah. Keyakinan hati, kebenaran lisan dan kesungguhan dalam amal adalah unsur-unsur keimanan yang mesti dijalankan dengan istiqomah. Istiqomah yang berarti keteguhan dalam memegang prinsip, merupakan bukti jelas kekuatan iman seseorang.
Rasulullah shallaluhu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Katakanlah: “Rabbku adalah Allah” dan Istiqomahlah!” (HR Tirmidzi)
Pantas jika Allah menjanjikan keutamaan yang besar untuk orang-orang yang istiqomah dalam imannya. Pada ayat yang disebutkan di muka, menurut ahli tafsir, Allah memberitakan bahwa ketika orang-orang yang istiqomah itu mati, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata,“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
Tidak takut dan tidak bersedih. Itulah yang akan dirasakan oleh orang-orang yang istiqomah ketika mereka meninggalkan alam fana ini. Para ulama juga menjelaskan, bahwa maksud tidak takut adalah mereka tidak takut dengan apa yang akan mereka hadapi setelah hari kematian mereka.  Adapun maksud mereka tidak bersedih adalah mereka tidak bersedih dengan apa yang mereka tinggalkan selama di dunia.
Perasaan ini akan dialami oleh semua orang yang istiqomah. Termasuk orang-orang yang ketika di dunia sangat bahagia, berharta dan berkedudukan tinggi. Karena kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat, jauh lebih baik dari apa yang selama ini mereka rasakan di dunia.
Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman, tidak istiqomah, berlaku maksiat dan sombong, kelak yang akan dirasakannya adalah ketakutan yang mencekam dan kesedihan yang mendalam. Hingga walaupun di dunia mereka adalah orang yang paling sengsara. Karena, kesengsaraannya selama mereka di dunia, masih jauh lebih baik dari kerugian yang akan diterimanya di akhirat.
Orang-orang yang istiqomah itu juga bergembira dengan surga yang dijanjikan Allah; tempat segala kenikmatan, sebagai balasan yang Allah gambarkan dengan firmannya dalam hadis qudsi, “Sesuatu yang tidak ada satu mata pun yang pernah melihatnya, tidak ada satu telinga pun yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam hati manusia.” (HR Bukhari Muslim)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA SUNNAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger