ISLAM TETAP TERJAGA

Abu Fathan | 07:50 | 0 comments
Islam diturunkan Allâh Azza wa Jalla untuk seluruh manusia, dimanapun mereka berada. Islam tidak hanya berlaku di Arab saja atau ditempat-tempat tertentu lainnya. Allâh Azza wa Jalla tegaskan dalam al-Qur’an tentang Muhammad Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang diutus membawa agama yang hanif ini:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al-Anbiyâ’/21:107]

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allâh kepadamu semua [al-A’râf/7:158]

Para Ulama Ahli tafsir dari kalangan Sahabat Radhiyallahu anhum dan Tabi’in, seperti ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dan Imam Qatadah al-Bashri menafsirkan ayat di atas bahwa Allâh Azza wa Jalla mengutus Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada semua golongan manusia dan jin, baik dari kalangan bangsa ‘Arab maupun ‘Ajam (selain bangsa Arab).

Bahkan ini merupakan salah satu keistimewaan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada Nabi kita. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Dulu para Nabi q diutus kepada kaumnya sendiri sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia [HR. Al-Bukhâri, 1/128 dan Muslim, no. 521]

Oleh karena itu, dalam Islam, keutamaan dan kemuliaan di sisi Allâh Azza wa Jalla bukan ditentukan dengan suku bangsa atau golongan tertentu. Ketakwaan dan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla , itulah yang menentukannya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla berfirman al-Qur’an Surat al-Hujurat ayat ke-13.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلاَ عَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

Ketahuilah bahwa tidak ada keutamaan bagi orang ‘Arab di atas orang ‘Ajam (non ‘Arab), tidak keutamaan bagi orang ajam di atas orang arab, juga bagi yang berkulit merah di atas yang berkulit hitam atau bagi yang berkulit hitam di atas yang berkulit merah kecuali dengan sebab ketakwaan. [HR. Ahmad, 5/411 dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahîhah, no. 2700].

Karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk semua manusia, berarti syari’at yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa juga berlaku bagi semua orang yang masih hidup sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus hingga hari kiamat. Oleh karena itu, barangsiapa yang telah sampai kepadanya ajakan untuk mengikuti agama Islam kemudian dia menolaknya, maka dia termasuk penghuni neraka Jahannam pada hari kiamat kelak.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allâh yang jiwaku (ada) di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari umat ini mendengarkan (sampai kepadanya) tentang aku (syariat Islam yang aku bawa), baik dia orang yang beragama Yahudi atau Nashrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan agama yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka (di akhirat nanti).[HR. Muslim, no. 153]

Itulah diantara keistimewaan Islam yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yangdilanjutkan oleh para Sahabat, tabi’in dan tabi’in serta orang-orang yang terus mengikuti mereka sampai hari kiamat. Ajarannya akan tetap terjaga, meskipun musuh terus berusaha merusaknya.

Semoga Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan keistiqamahan di atas Islam kepada kita sampai kematian datang menjemput.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIX/1437H/2016M.]

SYARAT IBADAH DITERIMA

Abu Fathan | 10:17 | 0 comments
Allâh Azza wa Jalla mewajibkan seluruh hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian Dia akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan. Namun ibadah akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla , jika memenuhi syarat-syarat diterimanya amal sebagaimana telah dijelaskan oleh Allâh dan Rasul-Nya. Syarat-syarat tersebut ada tiga, yaitu: iman, ikhlas, dan ittiba’. Inilah sedikit penjelasan tentang tiga perkara ini:

IMAN

Secara bahasa Arab, sebagian orang mengartikan iman dengan: tashdîq (membenarkan atau meyakini kebenaran sesuatu); thuma’ninah (ketentraman); dan iqrâr (pengakuan). Makna yang ketiga inilah yang paling tepat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dan telah diketahui bahwa iman adalah iqrâr (pengakuan), tidak semata-mata tashdîq. Iqrâr (pengakuan) mencakup perkataan hati, yaitu tashdîq (membenarkan atau meyakini kebenaran), dan perbuatan hati, yaitu inqiyâd (ketundukan hati)”. [1]

Dengan demikian, iman adalah iqrâr (pengakuan) hati yang mencakup:
Keyakinan hati, yaitu meyakini kebenaran berita.
Perkataan hati, yaitu ketundukan terhadap perintah.

Yaitu: keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allâh Azza wa Jalla .

Adapun secara syara’ (agama), maka iman yang sempurna mencakup qaul (perkataan) dan amal (perbuatan).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan di antara prinsip-prinsip Ahli Sunnah wal Jama’ah bahwa ad-din (agama) dan al-iman adalah: perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan”. [2]

Iman memiliki enam rukun, yaitu: iman kepada Allâh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan iman kepada qadar. Inilah pokok iman.

Selain rukun, iman juga memiliki bagian-bagian. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa iman itu memiliki 73 bagian, sebagaimana dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Iman ada 73 lebih atau 63 lebih bagian, yang paling utama adalah perkataan Laa ilaaha illa Allâh, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah satu bagian dari iman.[3]

Iman Syarat Diterima Amal Shalih

Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa iman merupakan syarat diterimanya sebuah amal. Antara lain, firman Allâh Azza wa Jalla :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/16: 97]

Oleh karena itu amalan orang kafir tertolak. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

Orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. [Ibrâhîm/14:18]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allâh di sisinya, lalu Allâh memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya. [An-Nur/24: 39]

Walaupun amal orang kafir tertolak di akhirat, namun dengan keadilan-Nya, Allâh Azza wa Jalla memberikan balasan amal kebaikan orang kafir di dunia ini.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا

Sesungguhnya Allâh tidak akan menzhalimi kepada orang mukmin satu kebaikanpun, dia akan diberi (rezeki di dunia) dengan sebab kebaikannya itu, dan akan di balas di akhirat. Adapun orang kafir, maka dia diberi makan dengan kebaikan-kebaikannya yang telah dia lakukan karena Allâh di dunia, sehingga jika dia telah sampai ke akhirat, tidak ada baginya satu kebaikanpun yang akan dibalas .[4]

Dari uraian singkat di atas, kita bisa memahami urgensi iman terkait diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk terus menjaga dan meningkatkan keimanan kita serta memliharanya dari segala yang bisa merusaknya. Karena iman juga bisa rusak dengan banyak sebab, diantaranya syirik (Lihat Az-Zumar/39: 65), nifak (At-Taubah/9: 54), kufur (Muhammad/47: 8-9), dan riddah (Al-Baqarah/2: 217).

Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita dari segala yang bisa merusak keimanan kita.

IKHLAS

Ikhlas secara bahasa artinya memurnikan. Maksud ikhlas dalam syara’ adalah memurnikan niat dalam beribadah kepada Allâh, semata-mata mencari ridha Allâh, menginginkan wajah Allâh, dan mengharapkan pahala atau keuntungan di akhirat. Serta membersihkan niat dari syirik niat, riya’, sum’ah, mencari pujian, balasan, dan ucapan terimakasih dari manusia, serta niat duniawi lainnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. [Al-Bayyinah/98: 5]

Orang yang ikhlas mencari ridha Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa yang berbuat demikian (yaitu: memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia) karena mencari keridhaan Allâh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An-Nisa’/4: 114]

Orang yang ikhlas beramal untuk wajah Allâh, yakni agar bisa melihat wajah Allâh di surga. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk wajah Allâh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [Al-Insan/76: 9]

Orang yang ikhlas itu menghendaki pahala akhirat, bukan balasan dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. [Asy-Syûra/42: 20]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ

Barangsiapa di antara mereka (umat ini) beramal dengan amalan akhirat untuk dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat. [5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allâh tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untuk–Nya dan untuk mencari wajah–Nya. [6]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allâh Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersama–Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya.[7]

Seorang ulama dari India, al-Imam Shiddiiq Hasan Khan al-Husaini rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan (di antara Ulama) bahwa ikhlas merupakan syarat sah amal dan (syarat) diterimanya amal”.[8]

Berdasarkan syarat ikhlas ini, maka barangsiapa melakukan ibadah dengan meniatkannya untuk selain Allâh, seperti menginginkan pujian manusia, atau keuntungan duniawi, atau melakukannya karena ikut-ikutan orang lain tanpa meniatkan amalannya untuk Allâh, atau barangsiapa melakukan ibadah dengan niat mendekatkan diri kepada makhluk, atau karena takut penguasa, atau semacamnya, maka ibadahnya tidak akan diterima, tidak akan berpahala. Demikian juga jika seseorang meniatkan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla, tetapi niatnya dicampuri riya’, amalannya gugur. Ini merupakan kesepakatan ulama.[9]

Kesalahan Seputar Ikhlas

Dalam kitab al-Ikhlâsh, penulis yaitu Syaikh Umar Sulaiman al-‘Asyqar rahimahullah menyebutkan beberapa persepsi yang keliru tentang ikhlas, diantaranya:
Anggapan bahwa makna ikhlas adalah tidak memiliki kehendak
Anggapan bahwa orang yang menghendaki ridha Allâh harus meninggalkan duniawi, harta-benda, wanita, kedudukan, dan sebagainya.
Anggapan bahwa ikhlas adalah beribadah hanya dengan dorongan cinta kepada Allâh, tanpa disertai raja’ (harapan untuk meraih) surga dan tanpa khauf (rasa takut) dari neraka.
Orang yang tujuan hidupnya hanya duniawi.
Riya’, sum’ah, dan ‘ujub, bertentangan dengan ikhlas.
Riya’ adalah: memperlihatkan ketaatan lahiriyah untuk mendapatkan kebaikan dunia, pengagungan, pujian, atau kedudukan di hati manusia.
Sum’ah semakna riya’ namun berkaitan dengan pendengaran.
‘Ujb: merasa besar atau membanggakan ketaatan.
Beribadah dengan niat mengetahui hal-hal ghaib.

ITTIBA

Ittibâ’ adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Orang yang telah bersyahadat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allâh, maka syahadat tersebut memuat kandungan: meyakini berita Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mentaati perintah Beliau, menjauhi larangan Beliau, dan beribadah kepada Allâh hanya dengan syari’at Beliau. Oleh karena itu, barangsiapa membuat perkara baru dalam agama ini, maka itu tertolak. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali-Imran/3: 85]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang kepadamu, maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59: 7]

Ayat ini nyata menjelaskan kewajiban ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. [10]

Hadits ini nyata-nyata mengharamkan perbuatan membuat ibadah yang tidak diperintahkan dan tidak dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan mengharamkan perbuatan membuat sifat ibadah walaupun asal ibadah itu disyari’atkan, karena itu menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dengan ini jelas bahwa ibadah harus sesuai tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam waktunya, sifatnya, dan tidak boleh menambahkan ibadah yang tidak dituntunkan, baik berupa amalan atau perkataan.

Inilah syarat-syarat diterima amal ibadah oleh Allâh Subhaana wa Ta’ala, semoga Allâh selalu membimbing kita semua di atas jalan yang lurus.

Al-hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M.]
_______
Footnote
[1] Majmû’ Fatâwâ 7/638

[2] Syarh Aqîdah Washitiyah, hlm: 231, karya Syaikh Muhammad Kholil Harros, takhrij: ‘Alwi bin Abdul Qodir As-Saqqof

[3] HR. Muslim, no: 35

[4] HR. Muslim, no: 2808, dari Abu Hurairah. Lihat as-Shahîhah, no: 53

[5] HR. Ahmad, dll; Lihat Ahkâmul Janâ’iz, hlm. 53

[6] HR. Nasai, no: 3140. Lihat: Silsilah ash-Shahîhah, no: 52; Ahkâmul Janâ’iz, hlm. 63

[7] HR. Muslim, no: 2985

[8] Ad-Dînul Khâlish, 2/385

[9] Lihat Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 74, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin

[10] HR. Al-Bukhâri, no. 2697; Muslim, no. 1718

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

Abu Fathan | 19:06 | 0 comments
IBADAH ADALAH HIKMAH PENCIPTAAN
Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. [Adz-Dzâriyât/51:56]
Oleh karena itu Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian dengan perintah ibadah, melaksanakan perintah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
 (Allâh) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. [Al-Mulk/67: 2]
Maka semua yang berakal, dari kalangan jin dan manusia, semenjak dewasa sampai meninggal dunia dia berada dalam ujian dan cobaan.
Kalau kita memahami hal ini, maka alangkah pentingnya kita mengetahui makna ibadah dan cakupannya, sehingga kita bisa mengisi hidup kita dengan ibadah sehingga bisa meraih ridha Allâh Azza wa Jalla .
TA’RIF IBADAH SECARA BAHASA DAN ISTILAH
Ibadah secara bahasa adalah ketundukan dan kerendahan atau kepatuhan, seperti perkataan bangsa Arab, “Tharîq mu’abbad” artinya jalan yang merendah karena diinjak oleh telapak kaki. Atau seperti perkataan “ba’îr mu’abbad” artinya onta yang patuh.
Az-Zajaj rahimahullah (wafat 311 H), seorang ahli bahasa Arab, berkata, “Ibadah dalam bahasa maknanya ketaatan disertai ketundukan”. (Lisânul ‘Arab, bab: ‘abada)
Ar-Raghib al-Ash-bihani rahimahullah (wafat 425 H), seorang ahli bahasa Arab, berkata, “’Ubudiyah adalah menampakkan ketundukan, sedangkan ibadah lebih tinggi darinya, karena ibadah adalah puncak ketundukan”. (Mufradât Alfâzhil Qur’ân, hlm. 542)
Sedangkan, ibadah secara istilah, para ulama telah menjelaskannya dengan ungkapan yang berbeda-beda, namun intinya sama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat 728 H) berkata, “Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allâh, baik berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin.” (Al-‘Ubudiyah, hlm: 23, dengan penelitian: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafizhahullâh)
Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini mencakup seluruh jenis ibadah dalam agama Islam.
CAKUPAN IBADAH
Ibadah dalam agama Islam mencakup ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.
1.Ibadah Mahdhah
Ibadah mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya memang merupakan ibadah, berdasarkan nash atau lainnya yang menunjukkan perkataan dan perbuatan tersebut haram dipersembahkan kepada selain Allâh Azza wa Jalla .
Dalam kitab ad-Dînul Khâlish, 1/215, disebutkan  pengertian ibadah mahdhah, “Segala yang diperintahkan oleh Pembuat syari’at (yaitu:  Allâh Subhanahu wa Ta’ala -pen), baik berupa perbuatan atau perkataan hamba yang dikhususkan kepada keagungan dan kebesaran Allâh Azza wa Jalla .”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Wudhu adalah ibadah, karena ia tidak diketahui kecuali dari Pembuat syari’at, dan semua perbuatan yang tidak diketahui kecuali dari Pembuat syari’at, maka itu adalah ibadah, seperti shalat dan puasa, dan karena hal itu juga berkonsekuensi pahala.” [Al-Mustadrak ‘ala Majmû’ al-Fatâwâ, 3/29; Mukhtashar al-Fatâwâ al-Mishriyah, hlm. 28]
Maka semua perbuatan atau perkataan yang ditunjukkan oleh nash atau ijma’ atau lainnya, atas kewajiban ikhlas padanya, maka itu adalah ibadah dari asal disyari’atkannya, sedangkan yang tidak demikian maka itu bukan ibadah dari asal disyari’atkannya, namun bisa menjadi ibadah dengan niat yang baik, sebagaimana penjelasan berikutnya.
Ibadah mahdhah ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
a.Ibadah hati yaitu keyakinan dan amalan
Ibadah hati yang terbagi menjadi dua bagian:
Qaulul qalbi (perkataan hati), dan dinamakan i’tiqâd (keyakinan; kepercayaan). Yaitu keyakinan bahwa tidak ada Rabb (Pencipta; Pemilik; Penguasa) selain Allâh, dan bahwa tidak ada seorangpun yang berhak diibadahi selain Dia, mempercayai seluruh nama-Nya dan sifat-Nya, mempercayai para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir, taqdir baik dan buruk, dan lainnya.
‘Amalul qalbi (amalan hati), di antaranya ikhlas, mencintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap siksa-Nya, tawakkal kepada-Nya, bersabar melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dan lainnya.
b.Ibadah perkataan atau lisan
Di antaranya adalah mengucapkan kalimat tauhid, membaca al-Qur’an, berdzikir kepada Allâh dengan membaca tasbîh, tahmîd, dan lainnya; berdakwah untuk beribadah kepada Allâh, mengajarkan ilmu syari’at, dan lainnya.
c.Ibadah badan
Di antaranya adalah melaksankan shalat, bersujud, berpuasa, haji, thawaf, jihad, belajar ilmu syari’at, dan lainnya.
d.Ibadah harta
Di antaranya adalah membayar zakat, shadaqah, menyembelih kurban, dan lainnya.
2.Ibadah Ghairu Mahdhah
Ibadah ghairu mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya bukan ibadah, akan tetapi berubah menjadi ibadah dengan niat yang baik.
Namun, jika perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan ini dilakukan dengan niat yang buruk akan berubah menjadi kemaksiatan, dan pelakunya mendapatkan dosa. Seperti, melakukan jual beli untuk mendapatkan harta dengan niat untuk melakukan maksiat; makan minum agar memiliki kekuatan untuk mencuri; mempelajari ilmu yang mubah, seperti kedokteran atau teknik, dengan niat untuk mendapatkan pekerjaan yang dengan pekerjaan itu dia bisa melakukan perbuatan maksiat.
Jika seseorang melakukan perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan ini dengan tanpa niat yang baik atau niat buruk, maka perbuatan tersebut tetap pada hukum asalnya, yaitu mubah.
Ibadah ghairu mahdhah ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
a.Melaksanakan wâjibât (perkara-perkara yang diwajibkan) dan mandûbât (perkara-perkara yang dianjurkan) yang asalnya tidak masuk ibadah, dengan niat mencari wajah Allâh
Misalnya:
Mengeluarkan harta untuk keperluan diri sendiri, seperti makan, minum, dan sebagainya, dengan niat menguatkan badan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh.
Berbakti kepada orang tua dengan niat melaksanakan perintah Allâh.
Memberi nafkah kepada anak dan istri dengan niat melaksanakan perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Mendidik anak dan membiayai sekolahnya dengan niat agar mereka bisa beribadah kepada Allâh dengan baik.
Menikah dengan niat menjaga kehormatan diri sehingga tidak terjatuh ke dalam zina.
Memberi pinjaman hutang dengan niat menolong dan mencarai pahala Allâh.
Memberi hadiah kepada orang dengan niat mencari wajah Allâh.
Memuliakan tamu dengan niat melaksanakan perintah Allâh.
Memberi tumpangan kepada seorang yang tua agar sampai ke tempat tujuannya dengan niat mencari wajah Allâh.
Di antara dalil yang menunjukkan hal itu sebagai ibadah adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ
Dari Abu Mas’ûd Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda, “Jika seorang laki-laki mengeluarkan nafkah kepada keluarganya yang dia mengharapkan wajah Allâh dengan-Nya, maka itu shadaqah baginya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 55]
Dalam hadits lain diriwayatkan:
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ
Dari Sa’ad bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak mengeluarkan nafkah yang engkau mencari wajah Allâh dengan-Nya kecuali engkau diberi pahala padanya, termasuk apa yang engkau taruh di mulut istrimu”. [HR. Al-Bukhari, no. 56]
b.Meninggalkan muharramât (perkara-perkara yang diharamkan) untuk mencari wajah Allâh Azza wa Jalla
Termasuk dalam hal ini adalah meninggalkan riba, meninggalkan perbuatan mencuri, meninggalkan perbuatan penipuan, dan perkara-perkara yang diharamkan lainnya. Jika seorang Muslim meninggalkannya karena mencari pahala Allâh, takut terhadap siksa-Nya, maka itu menjadi ibadah yang berpahala.
Namun jika seorang Muslim meninggalkan suatu perbuatan maksiat karena tidak mampu melakukannya, atau karena takut terhadap had dan hukuman, atau tidak ada keinginan, atau sama sekali tidak pernah memikirkannya,  maka dia tidak mendapatkan pahala.
Dalilnya adalah hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” يَقُولُ اللَّهُ: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً، فَلاَ تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ “
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allâh berfirman: Jika hamba-Ku berkeinginan melakukan keburukan, maka janganlah kamu menulisnya sampai dia melakukannya. Jika dia telah melakukannya, maka tulislah dengan semisalnya. Dan jika dia meninggalkannya karena Aku, maka tulislah satu kebaikan untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, maka tulislah satu kebaikan untuknya. Jika dia telah melakukannya, maka tulislah baginya sepuluh kalinya sampai 700 kali”. (HR. Al-Bukhâri, no. 7501)
c.Melakukan mubâhât (perkara-perkara yang dibolehkan) untuk mencari wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala
Di antaranya tidur, makan, menjual, membeli, dan usaha lainnya dalam rangka mencari rezeki. Semua ini dan yang semacamnya hukum asalnya adalah mubah. Jika seorang Muslim melakukannya dengan niat menguatkan diri untuk melaksanakan ketaatan kepada Allâh, maka hal itu menjadi ibadah yang berpahala.
Dalil adalah hadits Abu Mas’ud dan Sa’ad yang telah lewat. Demikian juga perkataan Mu’adz bin Jabal, ketika ditanya oleh Abu Musa al-Asy’ari, “Bagaimana engkau membaca al-Qur’an?” Beliau Radhiyallahu anhu menjawab:
أَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ، فَأَقُومُ وَقَدْ قَضَيْتُ جُزْئِي مِنَ النَّوْمِ، فَأَقْرَأُ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِي، فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي
Aku tidur di awal malam, lalu aku bangun dan aku telah memberikan bagian tidurku, lalu aku membaca apa yang Allâh takdirkan untukku. Sehingga aku mengharapkan pahala pada tidurku, sebagaimana aku mengharapkan pahala pada berdiri (shalat) ku”. [HR. Al-Bukhâri, no. 4341]
Ini semua menunjukkan bahwa ibadah mencakup seluruh sisi kehidupan manusia. Semoga Allâh memberikan kemudahan dan kemampuan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya

Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIX/1437H/2016M. ]
_______
Footnote
Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 65-72, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammâdah al-Jibrin, dan rujukan-rujukan lainnya.

KIAT SELAMAT DARI FITNAH

Abu Fathan | 19:03 | 0 comments
Jalan keselamatan  yang pertama-tama adalah dengan berpegang teguh kepada Kitabullâh dan sunnah Rasul-Nya. Hanya saja, tidak akan bisa berpegang dengan kitab Allâh dan sunnah Rasul-Nya kecuali dengan tafaqquh fiddin (mempelajari agama Allâh). Dan mempelajari agama Allâh tidak bisa diperoleh begitu saja dan tidak bisa digapai dengan angan-angan.
Ilmu tidak diraih dengan banyaknya membaca saja, atau dengan banyaknya kitab, atau dengan (sekedar) mentelaah banyak kitab. Ilmu tidak diperoleh dengan cara-cara seperti ini. Ilmu itu hanya dapat diperoleh dengan belajar langsung kepada para ahli ilmu, bukan (didapat) dengan sendirinya, sebagaimana dugaan sebagian orang dewasa ini. Sebagian mereka memengoleksi kitab-kitab, membaca buku-buku hadits, al-jarh wat ta’dîl, tafsir dan lainnya. Dengan itu, mereka menyangka telah mendapat ilmu. Padahal tidak demikian! Ini adalah ilmu yang tidak dibangun di atas dasar (yang kokoh) dan kaidah-kaidah (ilmiah).  Karena dia tidak belajar langsung dari ahli ilmu. Maka seharusnya dia duduk belajar di majelis-majelis ilmu, di kelas-kelas pembelajaran, dari para pengajar yang faqih lagi alim, dan dia harus sabar dalam menuntut ilmu.
Barangsiapa yang tidak pernah mengecap sengsaranya belajar sekejap masa
Ia akan meneguk cawan kebodohan sepanjang hayatnya
(Belajar Ilmu agama) harus dengan kesabaran, dan ilmu tidak didapat dengan (sekedar) membaca, dan tidak didapat dengan sendirinya. Jadi harus ada metode dalam menempuh pelajaran. Harus mengambil ilmu dari pintu-pintunya dan masuk dari pintu-pintunya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :
وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا
Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya;
[Al-Baqarah/2:189]
Ilmu mempunyai banyak pintu, dan mempunyai para pengampu dan para pengajar. Maka sudah seharusnya -wahai saudara-saudaraku- kita bergabung dalam majlis-majlis ilmu, baik itu di masjid, di sekolah, atau di lembaga pendidikan (agama) atau di bangku kuliah. Yang terpenting adalah kita mengambil ilmu dari para ulama selama mereka ada (memberikan pelajaran) dan selagi kesempatan memungkinkan.
Adapun jika kita terpencar-pencar, setiap orang duduk di kamarnya, kemudian memanfaatkan koleksi bukunya dan mempelajari buku-buku yang ada, sedangkan dia belum punya dasar (ilmu) dan belum pernah belajar dasar-dasar ilmu itu, maka ini adalah kesia-siaan. Maka menjadi keharusan untuk mempelajari agama Allâh melalui tangan para ulama.
MENETAPI JAMAAH KAUM MUSLIMIN DAN TIDAK MENISBATKAN DIRI KEPADA SUATU GOLONGAN ATAU JAMAAH TERTENTU ADALAH DIANTARA SEBAB KESELAMATAN
Di antara sebab keselamatan adalah menetapi jamaah kaum Muslimin dan tidak menisbatkan diri kepada golongan dan jamaah yang menyimpang dari jalan yang ditempuh kaum salaf kita. Karena Rasûlullâh bersabda tentang firqah nâjiyah (golongan yang selamat):
 مَنْ كَانَ عَلىَ مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
Mereka adalah yang meniti jalan seperti yang aku tempuh bersama para Sahabatku pada hari ini.[1]
Allâh Azza wa Jalla berfirman
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allâh dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah/9:100]
Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti generasi pertama (assâbiqûnal awwalûn)
Adapun jika manusia terpisah-pisah (masing-masing) bersama golongan-golongan yang menyimpang, dan mulai mencela para Sahabat, atau membodohkan para Ulama, atau membodohkan para imam atau menyalahkan mereka, maka ia hanya akan sampai pada kesesatan, kecuali jika Allâh memperbaiki (keadaan)nya dengan rahmat-Nya, dan ia bertaubat kepada Allâh serta kembali kepada jamaah kaum Muslimin dan golongan yang selamat.
Rasûlullâh bersabda tentang 73 golongan (dari umat ini):
كُلُّهَا فِي النَّارِ
Semuanya di neraka [2]
Dan keadaan golongan-golongan ini di neraka berbeda-beda, tergantung seberapa jauh dia dari kebenaran. Di antara mereka ada yang (sudah sampai taraf) kafir, ada yang sesat, dan ada yang fasik. Yang pasti mereka semua mendapat ancaman dimasukkan ke neraka
إِلَّا فِرْقَةً وَاحِدَةً
Kecuali satu golongan.[3]
Para Ssahabat bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasûlullâh?” Beliau menjawab
  مَنْ كَانَ عَلىَ مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
Orang yang meniti jalan seperti yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.[4]
Jalannya adalah satu, dan jamaahnya pun satu; sebagaimana firman Allâh:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.  [Al-An’âm / 6:153]
Jalan-jalan kesesatan sangat banyak, tidak terbatas jumlahnya.
Sekarang kita saksikan banyaknya golongan dan jamaah, tidak terbatas jumlahnya. Akan tetapi jamaah ahlus sunnah wal jamaah hanya satu dari masa Rasûllullâh sampai tegaknya hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasûlullâh:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ, لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ
Masih saja ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran dengan mendapat kemenangan. Tidak akan membahayakan mereka (kelompok tersebut) orang yang menelantarakan mereka, tidak pula orang yang menyelisihi mereka, hingga datang putusan dari Allâh.[5]
Ya, akan ada orang yang memandang rendah orang yang mengikuti jalan (golongan yang selamat). Akan ada yang membodohkan mereka, mengatakan bahwa mereka orang-orang shaleh, akan tetapi tidak mengetahui waqi’ (realita), tidak paham urusan ini dan itu! Ini semua bisa menyebabkan seorang Muslim tidak peduli  mereka.
Dalam banyak hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk senantiasa bersama dengan jamaah yang berpegang teguh pada jalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , jalan para Sahabatnya dan jalan salaf  (para pendahulu) umat ini. Karena para pendahulu umat ini adalah orang yang paling tahu dan paling dekat dengan kebenaran dibandingkan orang yang sesudah mereka. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji tiga atau empat generasi (dari umat ini). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِين يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِين يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik di antara kalian adalah generasiku, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mereka yang datang setelah mereka. [6]
Perawi hadits ini mengatakan bahwa dia tidak tahu, apakah setelah generasi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Nabi menyebutkan dua generasi atau tiga generasi. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa keadaannya akan berubah setelah generasi-generasi ini. Dan mengenai keadaan (umat ini), akan terjadi apa yang terjadi. Dan sungguh telah terjadi apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan. Setelah usai generasi-generasi utama, terjadilah di tengah umat ini apa yang terjadi; berupa berbagai fitnah, ajaran yang datang dari luar, madzhab-madzhab yang beraneka warna. Tidak ada yang tetap berada di atas kebenaran kecuali jamaah kaum Muslimin yang berpegang teguh dengan apa-apa yang dipegang oleh assalafush shalih. Ini adalah termasuk kenikmatan yang Allâh berikan; bahwa kebaikan senantiasa ada, meskipun kejelekan merajalela, supaya orang-orang yang menginginkan kebaikan bisa kembali kepadanya; dan agar tegak hujah Allâh atas makhluk-Nya. Bagaimanapun fitnah dan kejelekan banyak dan merajalela, kebenaran akan senantiasa ada,walhamdu lillâh.
Kita tidak mengatakan bahwa umat Islam telah sirna, sebagaimana dikatakan sebagian penulis atau khatib. Umat Islam akan selalu –wal hamdu lillâh-.
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ
Masih saja ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran dengan mendapat kemenangan.[7]
Akan tetapi keadaannya ini haruslah dengan cara kembali kepada jama’ah kaum Muslimin dan bergabung dengannya.
Kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengetahui kebenaran dan beramal dengannya serta berpegang teguh dengannya.
MEMPERBANYAK DOA DIANTARA SEBAB KESELAMATAN
Diantara sebab keselamatan dari fitnah adalah memperbanyak doa. Seorang Muslim harus memperbanyak doa, memohon agar Allâh menjaganya dari fitnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
Berlindunglah kepada Allâh dari berbagai fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.[8]
Rasûlullâh dalam tasyahhud akhir berlindung dari empat perkara dan memerintahkan (umatnya untuk melakukan itu). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika salah seorang diantara kalian selesai membaca tasyahhud, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allâh dari empat perkara dengan mengatakan
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
 Wahai Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah masih ad-dajjal, dan dari fitnah kehidupan dan kematian. [9]
Hendaknya seorang Muslim memperbanyak doa, agar Allâh menjaganya dari kejelekan fitnah yang tampak dan yang tersembunyi, dan meminta dengan penuh kesungguhan kepada  Allâh Azza wa Jalla dan memperbanyak berdoa. Sesungguhnya Allâh Maha Dekat lagi Maha mengabulkan doa. Barang siapa yang berlindung kepada Allâh (niscaya) Allâh akan menjaganya, dan barang siapa yang berlindung kepada Allâh maka Allâh Azza wa Jalla akan melindunginya. Barang siapa berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla maka Allâh akan mengabulkannya.
Allâh turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir dan mengatakan:
هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ
Apakah ada yang meminta, sehingga Aku akan memberinya? Apakah ada yang memohon sehingga Aku mengabulkannya? Apakah ada yang meminta ampun sehingga Aku akan mengampuninya? [10]
Sejatinya Allâh Azza wa Jalla membuka pintu-Nya siang dan malam untuk orang-orang yang berdoa. Akan tetapi ini adalah  tambahan; yaitu penambahan kesempatan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada para hamba-Nya, karena kasih sayang-Nya kepada mereka.
Seorang Muslim hendaknya memperbanyak doa kepada Allâh di setiap waktu, terlebih lagi pada keadaan-keadaan dan waktu-waktu yang utama. Keadaan yang utama di mana dalam keadaan ini doa dikabulkan seperti ketika sujud, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
Adapun sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. Karena (ketika itu) lebih layak untuk dikabulkan untukmu.[11]
Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Keadaan seorang hamba yang lebih dekat kepada Rabb nya adalah tatkala ia bersujud. Maka berbanyaklah doa. (pada saat sujud)[12]
Juga memperbanyak doa di waktu-waktu utama seperti: akhir malam, sepertiga malam terakhir, waktu terakhir pada hari Jum’at, atau di akhir sholat.
Hendaknya manusia memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak lalai, tidak lalai dari berdoa, khususnya memohon keselamatan dari fitnah. Karena jika dia selamat dari berbagai fitnah, maka dia selamat dari setiap kejelekan. Jika dia selamat dari berbagai fitnah, selamatlah agamanya. Dan jika selamat agamanya, maka selamatlah akhir kesudahannya.
SINGKAT KATA
Fitnah sangatlah banyak dan bermacam-macam. Dan para penyeru fitnah juga sangat banyak. Mereka memang terlatih dan selalu berusaha terus menerus (professional dalam mengajak kepada fitnah), sebagaimana sabda Nabi:
قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا
Mereka adalah kaum dari bangsa kita juga, dan berbicara dengan bahasa kita.[13]
Para penyeru fitnah berbicara dengan bahasa kita. Mereka dari kaum yang berkulit sama dengan kita (dari kaum yang sama), kebanyakan mereka dari bangsa arab, ataupun dari kerabat kita. Maka wajib bagi setiap manusia untuk berhati-hati dan tidak tertipu. Setiap orang yang mengajak kepada kesesatan atau menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah maka jauhilah, walaupun ia adalah oranga yang paling dekat denganmu. Dan Rasûlullâh n mengabarkan bahwa jalan-jalan yang menyelisihi jalan Allâh, di atas setiap jalan tersebut ada syaitan yang menyeru manusia kepadanya, syaitan-syaitan dari golongan manusia dan dari golongan jin, yang menyeru kepada kesesatan. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Mereka mengajak ke neraka, sedang Allâh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. [Al-Baqarah/2:221]
Syaitan mengajak golongannya agar menjadi penghuni neraka sa’îr. Di sana terdapat para penyeru kesesatan. Kita harus berhati-hati dari mereka, dan berhati-hati terhadap syubhat mereka. Kita wajib bersandar kepada kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya, juga kepada Ahli ilmu. Kita harus bertanya tentang hal yang kurang jelas, sebagai mana Allâh Azza wa Jalla berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. [An-Nahl/16:43]
Kita meminta kepada Allâh pada setiap rakaat dari shalat kita, ketika kita membaca Surat al-Fatihah yang merupakan rukun shalat. Allâh Azza wa Jalla berfirman
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fathihah /1:6-7]
Kita meminta kepada-Nya agar Dia memberikan hidayah kepada kita menuju jalan yang lurus, dan menjauhkan kita dari jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang sesat. Orang-orang yang dimurkai adalah ahli ilmu yang tidak beramal dengan ilmunya, dan orang-orang sesat adalah mereka yang beramal tanpa ilmu. Sedangkan orang-orang yang diberi nikmat adalah orang-orang yang berilmu dan beramal. Dan merekalah yang Allâh sebutkan dalam firman-Nya.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
Dan barangsiapa yang mentaati Allâh dan Rasul (-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allâh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisa / 4:69]
Barang siapa diberi taufiq meniti jalan Allâh, maka teman karib mereka adalah orang-orang terbaik tersebut. Dan barang siapa menyimpang dari jalan Allâh, maka teman karibnya adalah orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat- kita memohon kepada Allâh keselamatan-.Imam Darul Hijrah Mâlik bin Anas Radhiyallahu anhu pernah mengungkapkan untaian kalimat  yang begitu agung. Setiap kaum Muslimin seharusnya memperhatikan dan mengambil pelajaran darinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah menjadikan baik umat yang pertama.”
Apakah yang telah menjadikan umat yang pertama baik? Ia adalah al-Kitab dan as-Sunnah, dan mengikuti Rasûl. Begitu pula ketika keburukan, kesesatan, golongan dan jamaah begitu banyak, maka tidak ada yang bisa memperbaiki akhir dari umat ini kecuali dengan apa-apa yang menjadikan baik generasi yang pertama. Perkara ini sudah ada (tersedia) –wal hamdu lillâh– di hadapan kita. Perkara tersebut adalah Kitab Allâh dan Sunnah Rasûlullâh, dan kembali kepada ulama yang mempunyai kekhususan (berpegang) kepada Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya, agar mereka menjelaskan kepada kita hal-hal yang belum jelas bagi kita.

Oleh Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIX/1437H/2016M.]
_______
Footnote
[1] HR. At-Tirmidzi dalam al-îmân, no. 2641.
[2] HR. At-Tirmidzi dalam al-îmân, no. 2641.
[3] HR. Ibnu Majah, no. 3992.
[4] HR. At-Tirmidzi dalam al-îmân, no. 2641.
[5] HR. Muslim dalam al-Imârah, no. 1920; At-Tirmidzi dalam al-Fitan, no. 2229; Abu Dawud dalam al-Fitan wal Malâhim, no. 4252; Ibnu Majah, no. 3952; Ahmad 5/279.
[6] HR. Al-Bukhâri dalam Syahadat, no. 2508; Muslim dalam Fadhâ’il ash-Shahâbah, no. 2535; At-Tirmidzi dalam al-Fitan, no. 2322; An-Nasa’i dalam al-Aimân wan Nudzur, no. 2809; Abu Dawud dalam as-Sunnah, no. 4657; Ahmad 4/427.
[7] HR. Muslim dalam al-Imârah, no. 1920; At-Tirmidzi dalam al-Fitan, no. 2229; Abu Dawud dalam al-Fitan wal Malâhim, no. 4252; Ibnu Majah, no. 3952; Ahmad 5/279.
[8] HR. Muslim dalam al-Jannah wa Shifatu Na`îmiha wa Ahluha, no. 2867
[9] HR. Muslim, no. 588.
[10] HR. Al-Bukhâri dalam ad-Da’âwat,no. 5962; Muslim dalam Shalâtul Musâfirîn wa Qashruhâ, no. 758; At-Tirmidzi dalam ash-Shalât, no. 446; Abu Dawud dalam ash-Shalât, no. 1315; Ibnu Majah dalam Iqâmatush Shalâh was Sunnatu fîhâ, no. 1366; Ahmad 2/433; Mâlik dalam an-Nidâ’ lis Shalât, no. 496; Ad-Dârimi dalam ash-Shalât, no. 1484.
[11] HR. Muslim dalam ash-Shalâh, no. 479; An-Nasa’i dalam at-Tathbiq, no. 1120; Abu Dawud dalam ash-Shalât, no. 876; Ahmad 1/219; Ad-Darimi dalam ash-Shalât, no. 1325.
[12] HR. Muslim dalam ash-Shalât, no. 482; An-Nasâ’i dalam at-Tathbîq, no. 1137; Abu Dawud dalam ash-Shalât, no. 875; Ahmad 2/421.
[13] HR. Al-Bukhâri dalam al-Manâqib, no. 3411; Muslim dalam al-Imârah, no. 1847, Ibnu Majah, al-Fitan, no. 3979

MANUSIA SENANTIASA BERDAMPINGAN DENGAN FITNAH

Abu Fathan | 10:47 | 0 comments
Manusia senantiasa hidup beriringan dengan fitnah (ujian dan cobaan) sampai ia meninggal. Terkadang hidupnya berakhir dengan baik, dan terkadang dia menutup kehidupannya dengan akhir yang jelek. Dan seperti itu juga manusia menghadapi fitnah (yaitu diuji) sampai di dalam kuburnya. Jika diletakkan di kuburnya, dia akan diuji (dengan pertanyaan malaikat, yaitu fitnah kubur).

Dua malaikat akan mendatanginya. kemudian mereka mendudukkannya, dan bertanya kepadanya : Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?

Kebahagiaan dan kesengsaraannya tergantung jawabannya. Jika dia menjawab: Rabbku adalah Allâh, Islam agamaku, dan nabiku Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka terdengar seruan, “Hambaku berkata benar, maka bentangkanlah hamparan baginya dari surga, dan bukakanlah baginya pintu ke surga.” Maka dibukalah baginya dari surga, dan berhembus kepadanya angin surga dan keharumannya, dan dia (bisa) melihat tempatnya di surga (kemudian) dia mengatakan : “Wahai Rabbku, tegakkanlah kiamat sehingga aku bisa kembali (menjumpai) keluargaku dan hartaku.” Dan diluaskan kuburannya sejauh pandangan matanya.[1]

Adapun apabila ia tidak bisa menjawab, maka pada setiap pertanyaan dia mengatakan: Hah? Hah? Aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu, maka aku pun (ikut) mengatakannya.[2]

Perbuatan yang dia lakukan tidak bersumber dari ketundukan dan keimanan. Yang dia lakukan hanyalah sekedar mengikuti apa yang dilakukan manusia saja, atau karena kerakusannya terhadap dunia. Ini adalah orang munafik; yang menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran.

Lalu terdengar seruan: “Sesungguhnya hamba-Ku berdusta. Maka bentangkanlah hamparan untuknya dari neraka dan bukakan untuknya pintu ke neraka! Maka disempitkan kuburnya sehingga saling berselisih tulang rusuknya, dan dia melihat tempatnya di neraka. (Kemudian) dia mengatakan: “Wahai Rabbku! jangan Engkau tegakkan Kiamat.”[3]

Ini semua adalah cobaan dan ujian, hingga sampai di dalam kubur.

Jadi, fitnah (ujian dan cobaan) senantiasa dihadapkan kepada seorang hamba, di masa hidupnya, ketika mati dan juga di dalam kuburnya. Akan tetapi, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla.

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allâh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allâh menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki [Ibrâhîm/14:27]

juga firman-Nya.”

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allâh kepadamu.” [Fushshilat /41:30]

Juga firman-Nya:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ ﴿٢٣﴾ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

(Yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salâmun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. [Ar Ra’d/13:23-24]

Yaitu: dengan sebab kesabaran kalian atas agama kalian, dan keteguhan kalian di atas kebenaran dalam kehidupan dunia, maka kalian pun memperoleh kemuliaan ini.

Mereka tidak mendapatkan ini begitu saja. Mereka mendapatkannya sebagai balasan dari kesabaran, keteguhan dan keimanan mereka kepada Allâh dan Rasul-Nya.

Sebaliknya, orang-orang kafir, maka keadaan mereka – wal `iyâdzu bilâah- seperti yang Allâh firmankan,.

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا ۙ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ﴿٥٠﴾ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allâh sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, [Al-Anfâl/8:50-51]

Juga dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ﴿٩٣﴾وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ ۚ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allâh (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allâh). [Al-An’ am/6:93-94].

Jadi, manusia senantiasa hidup dengan fitnah; ujian dan cobaan, sampai detik-detik terakhir kehidupannya. Bahkan ketika diletakkan di dalam kuburnya. Maka perkara ini perlu mendapat perhatian, sebab fitnah ini sangatlah dahsyat.

Oleh Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIX/1437H/2016M.]
_______
Footnote
[1] Al-Bukhâri dalam al-janâ’iz 1308, Muslim dalam al-jannah wa shifatu na’îmihâ wa ahlihâ 2870, An-Nasai’dalam al-janâiz 2051, Ahmad 3/126.

[2] Al-Bukhâri al-`ilmu 86, Muslim al-kusûf 905, Ahmad 6/346, Malik an-nidâ’ li ash-sholât 447.

[3] Abu Daud dalam as-sunnah 4753, Ahmad 4/288.

Ragam Fitnah

Abu Fathan | 20:27 | 0 comments
Fitnah itu banyak ragamnya. Ia semakin banyak dan dahsyat serta terus bermunculan di akhir zaman. Dan manusia sepanjang hayatnya selalu berdampingan dengan fitnah, hanya saja ada yang bergesekan dengan fitnah dalam porsi sedikit, ada yang banyak.

ANAK, ISTRI DAN HARTA ADALAH FITNAH
Allâh Azza wa Jalla memberitakan bahwa harta dan anak-anak adalah fitnah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allâh-lah pahala yang besar. [At-Taghâbun/64:15]
Jadi, harta dan anak keturunan adalah fitnah. Barangsiapa yang lebih mendahulukan kecintaan kepada harta, anak, pada negeri, kaum keluarga, perniagaan dan kecintaan pada tempat tinggal daripada kecintaan kepada Allâh dan Rasûl-Nya, maka tunggulah akibat yang sangat mengenaskan. Allâh Azza wa Jalla berfirman.
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah, “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allâh dan Rasûl-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allâh mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [At-Taubah /9:24]
Janganlah kita dahulukan kecintaan kepada mereka di atas kecintaan kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasûl-Nya. Jangan kita dahulukan ketaatan kepada mereka di atas ketaatan kepada Allâh dan Rasûl-Nya. Berhati-hatilah! Jangan sampai karena mereka kita menjadi tersibukkan (sehingga meninggalkan) hal-hal yang bisa mendekatkan kita kepada Allâh. Allâh berfirman.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Hai orang-orang Mukmin! Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. [At-Taghâbun/64:14]
Firman-Nya: [maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka] bukan berarti engkau memusuhi, menjauhi dan memboikot mereka. Namun maknanya adalah: kita harus berhati-hati terhadap fitnah ujian mereka. Berhati-hati agar jangan sampai kita memihak mereka kala terjadi pertentangan antara kecintaan mereka dengan kecintaan kepada Allâh dan Rasûl-Nya. Kita harus memprioritaskan kecintaan kepada Allâh dan Rasûl-Nya di atas kecintaan terhadap harta dan anak. Ketika itulah Allâh Azza wa Jalla akan memperbaiki harta kalian dan juga memperbaiki anak-anak kalian.
KEBAIKAN DAN KEBURUKAN JUGA FITNAH.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Al-Anbiyâ’/21:35]
Kebaikan dalam segala ragamnya, seperti harta, hujan, dan kesuburan dan lain sebagainya adalah fitnah yang bisa menghadang manusia, sebagaimana firman Allah di atas.
Demikian pula ketaatan dan kemaksiatan juga fitnah. Manusia diperintahkan untuk taat dan dilarang dari perbuatan maksiat. Saat moment ketaatan datang, misalnya waktu shalat dan ibadah datang, di waktu yang sama datang pula saat untuk menikmati kelezatan makan, minum dan bersenang-senang atau lainnya, maka manakah yang ia dahulukan? Ini adalah cobaan dan ujian. Cobaan dan ujian dari Allâh Azza wa Jalla .
MANUSIA, SATU SAMA LAINNYA PUN JUGA FITNAH
Allâh berfirman:
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ
Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; [Al-Furqân /25: 20]
Allâh menguji manusia sebagian mereka dengan sebagian lainnya. Seorang Mukmin diuji dengan orang kafir, begitu pula seorang Mukmin diuji dengan orang munafik. Dia menguji hamba-Nya antara sebagian dengan sebagian lainnya.
ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ
Demikianlah apabila Allâh menghendaki niscaya Allâh akan membinasakan mereka tetapi Allâh hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. [Muhammad / 47:4]
Seorang Mukmin dan Muslim diuji dengan para musuhnya agar tampak jelas sikap mereka terhadap para musuh tersebut, yaitu dengan mendakwahi mereka kepada jalan Allâh, dengan memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar dan dengan jihad, atau malah justru ia menyerah dan lebih condong untuk mencari kenyamanan?! Bila pilihannya adalah yang pertama –yaitu dengan berdakwah, beramar ma’ruf nahi mungkar dan jihad- maka ia berada dia atas kebaikan. Ia lulus dalam ujian. Tapi kalau ia memilih yang kedua –yaitu menyerah dan cenderung memilih jalan nyaman- maka kerugian yang ia dapat dan ia gagal dalam ujian.
Demikian pula orang kaya diuji dengan orang fakir. Allâh berfirman:
وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allâh kepada mereka?” (Allâh berfirman): “Tidakkah Allâh lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” [Al-An`âm/6:53]
Orang-orang kafir menghina kaum fakir dari kalangan Muslimin. Mereka berkata, ‘Apakah mereka ini adalah orang-orang yang telah Allâh beri anugerah di antara kita?’ Mereka adalah orang-orang fakir, tidak punya apa-apa. Bagaimana bisa mereka ini berada di atas petunjuk sedangkan kami berada di atas kesesatan?! Sementara kami ini para pemiliki harta dan dunia. Kami ini adalah orang-orang yang memegang kepemimpinan dan mempunyai ide serta pikiran cemerlang. Kami ini adalah para ahlul halli wal aqd (para pemegang keputusan dalam urusan kelembagaan dan pemerintahan). Sedangkan mereka adalah orang-orang fakir miskin. Namun kendati demikian, mereka justru mendakwakan diri lebih baik daripada kami.
Allâh berfirman,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
 “Tidakkah Allâh lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?” [Al-An`âm/6:53]
Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat bentuk fisik dan harta kalian. Dia hanya melihat pada hati dan amal kalian. Seorang fakir yang bersyukur, yang beriman kepada Allâh, yang mencintai kebaikan, dialah wali Allâh Azza wa Jalla . Adapun orang yang besar diri dan merasa tinggi tak sudi menerima kebenaran, yang merasa takjub dengan harta, diri dan kedudukan jabatannya, maka orang seperti ini tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allâh Azza wa Jalla . Meskipun menurut kaca mata dirinya, ia memiliki bobot yang besar, namun di sisi Allâh ia tidak memiliki bobot sedikitpun. Allâh berfirman yang artinya: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allâh kepada mereka?” (Al-An`am / 6: 53) artinya mereka mendapatkan hidayah petunjuk, sementara kami tidak. Padahal mereka ini didera kefakiran dan kebutuhan. Kami ini lebih mulia dari mereka. Kami lebih hebat dari mereka.
Ini semua atas dasar sangkaan mereka belaka. Karena barometer yang ada pada mereka adalah barometer kekayaan, harta dan jabatan kedudukan; bukan barometer hati dan amalan. Padahal barometer di sisi Allâh adalah atas dasar hati dan amalan.
وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Akan tetapi Dia (Allâh) melihat pada hati dan amalan kalian.[1]
PERPECAHAN DAN PERTIKAIAN DI ANTARA FITNAH YANG TERDAHSYAT
Di antara fitnah yang paling dahsyat adalah fitnah perpecahan dan pertikaian, serta kemunculan berbagai firqah (kelompok) dan jamaah. Keadaan ini telah diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana dalam hadits `Irbâdh bin Sâriyah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَعَظَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَوعظةً بَليغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوبُ ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُونُ ، فَقُلْنَا :
يَا رسولَ اللهِ ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأوْصِنَا ، قَالَ : أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi wejangan kepada kami dengan wejangan yang sangat mengesankan. Hati menjadi takut karenanya, mata meneteskan air mata disebabkannya. Lalu kami berkata, “Wahai Rasûlullâh! Seakan ini wejangan orang yang hendak berpisah, maka berilah wasiat kepada kita.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allâh, dan mendengar serta taat.”[2]
[Mendengar dan taat] kepada yang memegang kendali urusan kaum Muslimin (pemimpin). Mengingat dalam hal itu terdapat persatuan kalimat kaum Muslimin, kekuatan dan kewibawaan umat, sehingga disegani para musuhnya. Bila umat ini berhimpun di bawah kendalinya, di bawah kepemimpinannya yang mukmin, maka hal itu akan menjadikan umat ini mempunyai wibawa dan kekuatan.
وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإنْ تَأمَّر عَلَيْكُمْ عَبْدٌ
Dan kalian harus mendengar dan taat, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.[3]
Artinya: janganlah engkau menghina pemimpinmu bagaimanapun dia. Akan tetapi dengar dan taatlah, selama ia masih memerintahkan ketaatan kepada Allâh.
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اختِلافاً كَثِيْرًا فَعَليْكُمْ بسُنَّتِي وسُنَّةِ الخُلَفاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِيِّنَ مِنْ بَعْدِي, تَمَسَّكُوا بِهَا عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّواجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَة
Karena sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup di antara kalian, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Berpeganglah kalian pada sunnahku, dan sunnah para khulafa’ rasyidin yang mendapatkan bimbingan sepeninggalku. Peganglah dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah adalah sesat.[4]
Demikianlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang terjadinya perselisihan dalam hal pendapat dan pikiran, berbagai madzhab dan jamaah serta kelompok. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan ketika itu untuk berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasûl-Nya, dan apa yang dipegang oleh para khulafa’ rasyidin. Itu akan menjadi jaminan keselamatan bagi orang yang mengamalkannya. Adapun orang yang terlepas dari Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manhaj para Khulafâ’ Râsyidin, maka ia akan terjatuh bersama dengan berbagai kelompok yang berbeda-beda tersebut.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah dan pembicaraannya mengucapkan:
إنَّ خَيْرَ الحَديثِ كِتَابُ الله ، وَخَيرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ بِدْعَة ضَلالَةٌ   وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإنَّ يَدَ اللَّهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ
Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sedangkan seburuk-buruk  perkara adalah hal-hal yang diada-adakan. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Berpeganglah kalian pada jamaah. Karena sesungguhnya tangan Allâh di atas jamaah. Dan barangsiapa yang menyendiri (dari jamaah), ia terasing di neraka.[5]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan jalan selamat dari fitnah yaitu berpegang pada Kitabullah dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; serta berhati-hati dari perkara-perkara yang diada-adakan.
Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, yang artinya, ‘Berpeganglah kalian pada jamaah.’[6]
Ini juga di antara jalan selamat. Yaitu ketika muncul perpecahan, perselisihan dan jamaah-jamaah yang beraneka ragam, maka seorang Muslim berdiri bersama jamaah Muslimin. Yaitu jamaah yang berjalan di atas derap langkah Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang meniti manhaj Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia tidak mengikuti jalan para ahli kalam (mutakallimin), atau ahli jadal (ahli dialektika), atau ahli bid’ah; meskipun mereka menamakan diri dengan nama-nama yang memukau namun mengecoh.
Jamaah di sini adalah yang berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, meskipun jumlahnya sedikit. Jumlah yang banyak bukan menjadi syarat jamaah dan bukan indikasi bahwa ia berada di atas kebenaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman.
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka,. [Al-An’am/6:116]
Selama mereka masih mengikuti persangkaan, maka mereka akan tersesat dari jalan Allâh, meski jumlah mereka mencapai ratusan ribu atau jutaan. Adapun orang yang berada di atas kebenaran, maka itulah jamaah. Ialah kelompok yang selamat lagi mendapat pertolongan (firqah nâjiyah manshûrah). Ialah kelompok yang mendapat pertolongan. Mereka adalah ahlussunnah wal jamaah; seperti yang disabdakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
Masih saja ada sekelompok dari umatku yang berada di atas kebenaran dengan mendapat kemenangan. Tidak akan membahayakan mereka (kelompok tersebut) orang yang menelantarakan mereka, tidak pula orang yang menyelisihi mereka, hingga datang putusan dari Allâh Azza wa Jalla .[7]
PERLU KESABARAN
Berpegang pada jalan yang  ditempuh oleh Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam perlu kesabaran. Terlebih di akhir zaman. Karena di penghujung masa, orang yang berpegang dengan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menetapi jamaah kaum Muslimin akan menjumpai kepayahan yang begitu berat. Seperti dalam hadits, Rasûlullâh bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ
Akan datang suatu zaman, di mana orang yang bersabar dari mereka di atas agamanya, laksana orang yang memegang bara api.[8]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ القَبْضِ عَلَى الجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ
Sesungguhnya di belakang kalian (nanti) ada hari-hari, di mana bersabar pada waktu tersebut seperti halnya memegang bara api. Orang yang beramal di waktu tersebut seperti (mendapat) pahala 50 orang, yang beramal seperti amal kalian.
Terdapat tambahan lain dalam riwayat perawi lain, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:
“Wahai Rasûlullâh! (mendapatkan) Pahala 50 orang dari kami atau dari mereka? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bahkan pahala 50 orang dari kalian.”[9]
Maksudnya sepadan dengan pahala 50 orang Sahabat.
Orang yang berpegang pada sunnah pada akhir zaman, saat berbagai fitnah bermunculan, ia tidak mempunyai para penolong. Bahkan kebanyakan manusia menentangnya, sampaipun orang-orang yang mengaku diri sebagai penganutnya. Mereka membuatnya cemas, menjelekkannya, dan menyalahkannya. Sehingga ia membutuhkan kesabaran. Oleh karena itu, ia mendapat pahala yang begitu agung, disebabkan ketegarannya di atas kebenaran saat berbagai fitnah bermunculan dan rintangan begitu banyak. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan mereka sebagai kaum terasing (ghurabâ’). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ
Beruntunglah orang-orang yang dianggap asing (ghurabâ’).” Rasûlullâh ditanya, “Wahai Rasûlullâh, siapakah orang-orang terasing itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Yaitu) orang-orang yang melakukan perbaikan tatkala orang-orang rusak.”[10] Dalam riwayat lain:
يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ
Yaitu yang memperbaiki apa yang telah dirusak orang-orang[11]
Ini memperlihatkan kepada kita tentang suatu perkara besar yang akan terjadi di akhir zaman. Maka menjadi kewajiban kita untuk memohon ketegaran kepada Allâh Azza wa Jalla  dan memohon agar diwafatkan di atas Islam. Di samping itu, kita harus bersungguh-sungguh untuk mengetahui kebenaran dan mengenali orang-orang yang berpegang dengannya; serta mengetahui yang batil dan orang-orangnya. Tujuannya, agar kita bisa bergabung dengan kebenaran dan orang-orangnya, serta berhati-hati dari kebatilan dan orang-orangnya. Ini berarti memerlukan pemahaman dalam agama (tafaqquh fiddîn).
Ini tidak bisa dilakukan oleh orang jahil. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang diberikan pemahaman dalam agama oleh Allâh; yang diberikan bashîrah dengan ilmu yang bermanfaat; yang bisa membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara yang hak dan batil. Jadi, untuk selamat dari fitnah ini cukup sulit, padahal kita sudah melihat sendiri betapa gelombang fitnah begitu dahsyat melanda dunia dewasa ini.
DIANTARA BENTUK FITNAH: ALAM YANG KINI SEMAKIN TERASA DEKAT
Dunia sekarang ini terasa semakin berdekatan. Apa yang terjadi di ujung dunia, beritanya bisa sampai hingga ujung dunia yang lain dengan cepat. Keburukan, kefasikan dan kemaksiatan yang terjadi pun berpindah. Berpindah dengan perantara berbagai fasilitas canggih sekarang ini. Bahkan bisa masuk ke rumah-rumah yang tertutup, hingga pun sampai ke pedalaman di rumah-rumah (tenda-tenda) yang terbuat dari bulu domba. Mereka bisa menontonnya seakan turut hadir di tempat kejadian. Bukan hanya itu, bahkan bisa jadi itu, lebih jelas daripada di tempat terjadinya suatu keburukan.
Ini termasuk ujian dan cobaan. Dunia ini sekarang telah diterpa gelombang fitnah. Fitnah syahwat yang sangat banyak bentuknya, juga fitnah syubhat, kesesatan dan ilhad. Semua ini “diekspor” ke seluruh penjuru dunia, sampai ke daerah yang paling ujung di segala penjuru, kecuali yang dirahmati Allâh Azza wa Jalla .
Untuk menghadapi ini, manusia memerlukan bashîrah (kekuatan ilmu). Ia harus mengambil langkah hati-hati. Ia harus mengetahui berbagai bahaya yang merupakan produk yang didatangkan dari luar sehingga ia bisa menjauhinya. Orang yang tidak punya bashîrah, tidak punya ilmu agama, mungkin saja ia akan memandang hal-hal tersebut sebagai bentuk kemajuan dan peradaban serta simbol kemakmuran, bahkan sebagian menganggapnya sebagai nikmat. Ia tidak tahu bahaya dan keburukan yang terkandung dalam perangkat modern tersebut. Jadi, ini masalah yang sangat serius. Sekarang ini, berbagai fitnah dipertontonkan dan ditawarkan kepada umat manusia, seperti yang digambarkan Râsulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ»
Dilekatkan fitnah pada sisi hati (atau dipaparkan pada hati) seperti halnya tikar yang dilekatkan (dipintal) sehelai demi sehelai. Maka hati manapun bila telah tercampur terasukinya (fitnah tersebut), maka digoreskan padanya titik hitam. Dan hati mana saja yang mengingkarinya (menolaknya), maka digoreskan padanya titik putih. Sehinga hati manusia terbagi menjadi dua hati; hati yang putih seperti batu marmer yang halus. Ketika itu fitnah tidaklah membahayakannya, sepanjang langit dan bumi tetap tegak. Sedangkan yang lain hati yang hitam kelam; seperti cangkir yang dibalikkan. Ia tidak mengenal yang ma’ruf (yang baik) dan tidak mengingkari yang munkar; kecuali apa-apa yang telah terasuki oleh hawa nafsunya.[12]
Fitnah ini ditunjukkan pada hati manusia. Hati manakah yang mengingkari fitnah ini? Hati yang mengingkarinya adalah hati yang faqîh (yang memahami agama) lagi mempelajari Kitabullah; yang mengetahui hukum Allâh dalam masalah-masalah ini. Adapun orang yang tidak tahu, maka ia akan terwarnai fitnah. Terkadang ia justru terpana dengan fitnah tersebut, dan menganggapnya bentuk peradaban dan kemajuan. Ia menyangka bahwa menjauhi hal tersebut justru masuk dalam kategori gaya hidup yang kasar dan keras.
Tidak ada yang bisa menjaga dari berbagai fitnah ini, kecuali apa yang telah Allâh jadikan sebagai penjaga dan pelindung. Yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh berfirman.
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. [Ibrâhîm/14:1]
Allâh juga berfirman dalam awal Surat Al-Baqarah
الم ﴿١﴾ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ﴿٣﴾ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ﴿٤﴾ أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Alif laam miim; Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’ân) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [Al-Baqarah /2: 1-5]
Dalam permulaan surat di atas, Allâh Subhanahu wa Ta’alamenyebutkan bahwa al-Qur’ân ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa; khusus untuk orang bertakwa. Kemudian Allâh menjelaskan siapakah mereka yang bertakwa?
Kemudian Allâh menyebutkan golongan kedua, yaitu kaum kafir, dan golongan ketiga, yakni kaum munafik.
Allâh menyebutkan bahwa manusia dilihat dari sikap mereka terhadap Al-Quran ada tiga golongan:
Yang beriman kepadanya, secara lahir maupun batin. Mereka adalah kaum bertakwa.
Mereka yang kufur terhadap Kitab ini, baik secara lahir maupun batin. Allâh berfirman yang artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allâh telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. [Al-Baqarah /2: 6-7].
Mereka yang secara lahiriah (mengaku) beriman dengannya, namun mereka mengkufurinya dalam hati. Mereka adalah kaum munafik. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan belasan ayat tentang mereka, mulai dari ayat ke-8 sampai ayat ke-20 dari Surat al-Baqarah.
Intinya, bahwa dalam Kitabullah terdapat petunjuk dan cahaya. Barangsiapa ingin selamat dari berbagai fitnah ini, maka ia harus berpegang pada Kitabullah. Ia harus membacanya dan mengamalkan isi kandungannya. Ia adalah sumber pertama untuk mendapat petunjuk dan keselamatan dari keburukan di dunia dan akhirat. Ia harus sering membaca, mentadabburi al-Quran yang agung ini serta mengamalkannya.
Demikian juga (harus berpegang pada) Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena ia menafsirkan dan menjelaskan al-Qur’ân, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [An-Najm/53:3-4]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي
Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian (sesuatu), yang bila kalian berpegang padanya, kalian tidak akan tersesat sepeninggalku: Kitabullah dan Sunnahku.[13]
Inilah yang bisa menjaga dan menjamin dari berbagai fitnah bagi orang yang berpegang pada keduanya.
Dan Nabi memberitakan dalam berbagai hadits, bahwa akan ada berbagai fitnah:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
Bergegas-gegaslah untuk beramal, (karena akan datangnya) berbagai fitnah seperti penggalan-penggalan malam yang gulita. Seseorang berada di waktu pagi dalam keadaan beriman, sedangkan petang harinya menjadi kafir. Atau sore harinya ia dalam keadaan mukmin, namun di waktu pagi ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan kesenangan (hina) dunia.[14]
Ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia yang hina. Ia lebih mendahulukan dunia daripada akhirat. Ia meninggalkan shalat, tidak mengeluarkan zakat, durhaka kepada Allâh dan Rasûl-Nya. Ia justru menuruti syaitan dan para pengikutnya. Kita memohon kepada Allâh agar diberi keselamatan dari berbagai fitnah dahsyat ini.
Berbagai fitnah semakin menjadi-jadi. Semakin zaman surut ke belakang, makin parah pula fitnah-fitnah yang menerpa, hingga akan datang fitnah-fitnah besar yang beruntun hingga terjadinya Hari Kiamat. Jadi, manusia hidup di dunia ini beriringan dengan berbagai fitnah. Ia akan hidup beriringan dengan fitnah, khususnya mereka yang hidup di akhir zaman, mereka lebih banyak beriring berdampingan dengan fitnah. Berbagai fitnah di masa mereka lebih banyak, dikarenakan dekatnya Hari kiamat dan penghabisan dunia.

Oleh Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIX/1437H/2016M.]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim; Kitab al-Birr wa ash-Shilah wal âdâb, no. 2564.
[2] HR. Abu Daud Kitab as-Sunnah, no. 4607; ad-Dârimi dalam Muqaddimah, no. 95.
[3] HR. Al-Bukhâri dalam al-Ahkâm, no. 6723; Ibnu Majah dalam al-Jihâd, no. 2860; Ahmad 3/114.
[4] HR. At-Tirmidzi dalam al-`ilmu, no. 2676; Ibnu Majah dalam Muqaddimah, no. 44; Ahmad 4/126; Ad-Dârimi dalam Muqaddimah, no. 95
[5] HR. Muslim dalam al-Jama’ah, no. 867; An-Nasâ’i dalam Shalâtul `Îdain, no. 1578; Ibnu Majah dalam Muqaddimah, no. 45; Ahmad 3/371; Ad-Darimi dalam Muqaddimah 206.
[6] HR. Ahmad 5/233
[7] HR. Al-Bukhâri dalam al-‘Ilmu, no. 71; Muslim dalam al-`Imârah, no. 1037; Ahmad 4/93.
[8] HR. At-Tirmidzi dalam al-Fitan, no. 2260
[9] HR. At-Tirmidzi dalam Tafsîrul Qur’ân, no. 3058; Ibnu Majah dalam al-Fitan, no. 4014.
[10] HR. Ahmad, 4/74.
[11] HR. At-Tirmidzi dalam al-Îmân, no. 2630
[12] HR. Muslim dalam al-Îmân, no. 144 dan Ahmad 5/386
[13] HR. Hakim dalam Al-Mustadrak.
[14] Muslim dalam al-îmân 118, Turmudzi dalam al-fitan 2195, Ahmad 2/39.

MEMAHAMI AGAMA GARDA PELINDUNG DARI FITNAH

Abu Fathan | 19:44 | 0 comments
NIKMAT ISLAM DAN PERINGATAN AGAR TIDAK JATUH DALAM FITNAH YANG MEMALINGKAN DARI ISLAM

Allâh Azza wa Jalla telah memberi anugerah Islam kepada kita. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴿١٠٢﴾ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾ وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allâh, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allâh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allâh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allâh, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allâh menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. [Ali Imrân/3:102-105]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [Al-Mâ’idah/5:3]

Juga firman-Nya:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allâh hanyalah Islam. [Ali Imrân/3:19]
Juga firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imrân/3:85]
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang lain:
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allâh dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allâh) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’ân) ini, supaya Rasûl itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allâh. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong. [Al-Hajj/22:78]

Sungguh, nikmat Islam merupakan nikmat yang tiada tara. Tidak ada nikmat lain apapun yang bisa menyamainya, kendatipun nikmat-nikmat Allâh yang lain itu begitu agung dan banyak yang tidak sepatutnya kita menghina dan merendahkannya, bahkan kita wajib untuk ingat dan bersyukur. Meski demikian, nikmat Islam merupakan nikmat Allâh yang paling agung. Islam yang dimaksud adalah Islam yang dibawa oleh Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Islam merupakan nikmat teragung, maka diutusnya Rasûl ini pun juga merupakan nikmat yang agung. Karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan Islam, yang membawanya, sekaligus yang menyerukannya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allâh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allâh mengutus di antara mereka seorang Rasûl dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [Ali Imrân /3:164]

Namun perlu diingat bahwa ada rintangan dan halangan yang bisa menghadang manusia,  yang terkadang bisa mengeluarkannya dari pagar Islam –bila ia sudah termasuk penganut Islam-. Atau bisa melemahkan cahaya Islam di hatinya, ataupun menghalanginya untuk masuk ke dalam Islam, bila ia bukan termasuk pemeluk Islam.
Ada banyak fitnah dahsyat yang menghadang manusia. Oleh karena itu, kita harus mengenali fitnah-fitnah tersebut; sebagaimana kita juga harus mengetahui jalan keluar dari fitnah-fitnah tersebut bila ia telah  menimpa.

Bertolak dari sinilah seorang Sahabat besar, Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu anhu mengatakan, “Orang-orang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keburukan. Karena khawatir kalau-kalau aku terjatuh ke dalamnya.”

Jadi, mengetahui tentang Islam dan mengenalnya dengan seksama, mengetahui hukum-hukum dan rinciannya adalah perkara yang wajib. Kemudian juga (merupakan hal yang wajib) mengetahui perkara-perkara yang bisa memalingkan dari Islam, mengetahui hal-hal yang bisa menghalangi antara seorang hamba dengan Islam; atau penyakit-penyakit yang bisa melemahkan Islam dalam hatinya. Kita harus mengetahui berbagai hal yang manfaat agar bisa mengambil manfaat darinya juga mengetahui hal-hal yang membahayakan agar bisa menghindari semua yang membahayakan. Sungguh, bila seseorang tidak mengetahui perkara-perkara yang membahayakan dan yang menyesatkan, bisa jadi, hal tersebut membuatnya binasa tanpa ia sadari, padahal Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada agama ini sampai ajal datang menjemput. 

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
 Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [Ali Imrân/ 3: 102]
Dan tidak diragukan lagi bahwa untuk bisa terus menerus berada dalam Islam, itu ada di tangan Allâh. Kita tidak memiliki kuasa dan kemampuan untuk terus berada dalam Islam hingga kematian. Ini tidak lain adalah ada di tangan Allâh Azza wa Jalla . Namun kita berusaha menempuh jalan atau cara yang bisa menyebabkan kita tetap eksis di atas Islam ini hingga kematian menjemput. Bila kita sudah mengambil sebab-sebab tersebut, maka sungguh Allâh Azza wa Jalla dengan anugerah dan karunia-Nya akan menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita dan akan mewafatkan kita di atas Islam. Sebab, kita telah mengerahkan daya untuk mengambil dan melakukan sebab-sebab tersebut, dan kita telah berusaha untuk menggapai keselamatan, sementara Allâh Maha Santun lagi Maha Pemurah. Bila Allâh Azza wa Jalla melihat pada hamba-Nya ada semangat dan hasrat untuk meraih kebaikan; sekaligus ada kebencian dan kekhawatiran terhadap keburukan, maka sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan meluruskannya, akan menjaga, melindungi dan menganugerahkan agama-Nya untuknya, serta menyempurnakan kebaikan baginya.
Namun, bila Allâh Azza wa Jalla melihat hamba-Nya berpaling dan tidak berselera untuk mendapatkan kebaikan serta tidak membenci keburukan, maka sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan membiarkannya dalam kesesatan yang menjadi pilihannya; sebagai siksaan baginya, sekaligus bentuk keadilan dari-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasûl sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An-Nisâ’/ 4: 115]
Maka di sini tampak jelas, bahwa penyebab itu datang dari arah hamba, yaitu ia menentang Rasûl dan tidak mengikuti jalan kaum Mukminin; Sedangkan hukuman siksanya datang dari Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An-Nisâ’/4:115]
DEFINISI FITNAH
Sedangkan kata fitan adalah bentuk jamak dari kata fitnah. Maknanya adalah ujian dan cobaan agar dengan hal itu bisa terlihat benarnya iman atau justru ia memiliki sifat nifaq. Allâh berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allâh”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allâh, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allâh. [Al-Ankabût /29: 10]
Ia tidak tabah dan sabar menghadapi fitnah (cobaan) agar bisa berdiri kokoh di atas kebenaran, bahkan ia lari meninggalkan agamanya dan menempuh hal-hal yang bisa memalingkannya dari Islam. Ia menyangka bahwa dengan begitu ia bisa selamat. Namun justru ia hanya keluar dari keburukan menuju keburukan yang lebih besar dan parah. Perumpamaannya seperti orang yang menghindari batu yang panas menyengat dengan berlindung pada api. Ia menjadikan fitnah (cobaan) manusia seolah-olah ia adalah adzab dari Allâh Azza wa Jalla . Apakah cobaan dari manusia sebanding dengan adzab Allâh?! Sesungguhnya bila ia meninggalkan agamanya, dan merespon seruan orang-orang yang menimbulkan fitnah serta menyepakati mereka, berarti ia telah keluar untuk menuju pada adzab Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Kalaulah ia bersabar menghadapi gangguan manusia dan bersabar menghadapi ulah para hamba, dan ia tetap berpegang teguh pada agamanya, tentu sakit yang ia rasakan hanyalah sementara. Sedangkan kelapangan dari Allâh Azza wa Jalla begitu dekat, dan kesudahannya justru terpuji. Akan tetapi sebaliknya, bila ia tidak bersabar menghadapi gangguan dan fitnah manusia, bahkan ia tunduk patuh pada mereka dalam kemaksiatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , dan melayani apa yang mereka minta berupa kufur kepada Allâh, maka itu artinya dia lebih memilih menuju adzab Allâh yang sangat pedih.
Jadi, fitnah adalah cobaan dan ujian, agar dengan itu bisa tampak siapa yang tulus dalam imannya, yang tegar di atas akidahnya, dan siapa yang ragu lagi bimbang, yang kala badai fitnah baru bergerak pada awal permulaannya, ia sudah langsung oleng dihantamnya.
Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar dan tegar dalam menghadapi berbagai fitnah terus menghempas-red
DEFINISI MEMAHAMI AGAMA
Paham agama, distilahkan dengan sebutan al-fiqhu fi ad-dîn. Kata al-fiqh secara bahasa berarti memahami. Sedangkan secara syara’, fiqh adalah memahami hukum-hukum Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allâh Azza wa Jalla menurunkan al-Qur’ân ini dan juga menurunkan Sunnah Nabi sebagai petunjuk bagi manusia. Di dalamnya terdapat petunjuk; juga terdapat penjelasan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh para hamba dalam urusan agama mereka; dan juga hal-hal yang bisa membuat mereka bahagia di dunia dan akhirat. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Kitab ini mengandung segala hal yang dibutuhkan umat manusia. Di samping Kitab ini, terdapat juga penjelasan dan Sunnah Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi penjelas bagi al-Qur’ân dan penafsir dari al-Qur’ân. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’ân, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. [An-Nahl/16:44]
Rasûl yang memberikan penjelasan dan yang menyampaikan serta yang menafsirkan Kitab yang agung ini. Jadi di dalam al-Kitab dan as-Sunnah terdapat petunjuk yang mengentaskan kita dari kesesatan; dan terdapat penjelasan tentang jalan kebaikan dan jalan keburukan.
Jadi, memahami agama, maksudnya kita mengerti dan memahami dari Kitabullah dan Sunnah Rasûl-Nya n tentang hukum dari segala problematika yang menghadang kita, dan segala fitnah yang datang kepada kita. Sehingga kita bisa menghindari fitnah-fitnah tersebut dan mengambil jalan keselamatan. Inilah yang dinamakan al-fiqhu fi ad-dîn.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan al-fiqhu fi ad-dîn (usaha untuk memahamai agama). Dan Allâh mencela orang-orang yang tidak mau ber-tafaqquh fi ad-dîn. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. [At-Taubah / 9:122]
Allâh Azza wa Jalla menyebutkan sifat kaum munafik yaitu mereka tidak memahami. Artinya mereka tidak memahami hukum-hukum Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Sebab mereka tidak menghendakinya, dan tidak mengindahkan dan tidak memperhatikannya. Oleh karena itu, mereka menjadi orang-orang yang tidak memahami.

Oleh Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIX/1437H/2016M. ]

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA SUNNAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger