{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)

Keberkahan Taat Kepada Pemimpin

Abu Fathan | 08:09 | 0 comments
Ajaran Islam dalam semua aspeknya memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Hikmah dan tujuan ini diistilahkan oleh para ulama dengan Maqâshid Syari’ah, yaitu berbagai maslahat yang bisa diraih seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat.
Tidaklah ada satu ajaran dalam syariat Islam, melainkan dalam ajaran tersebut ada maslahat dan kebaikan untuk umat Islam, bahkan umat manusia. Menjalankan ajaran-ajaran ini akan membawa limpahan berkah dari penjuru langit dan bumi, sebagaimana janji Allâh  Azza wa Jalla dalam firmanNya,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sebagai akibat perbuatan mereka.” [Al-A’raf/7:96]
Begitu juga dengan syariat taat kepada pemimpin Muslim , yang zhalim sekalipun. Apalagi perkara ini merupakan salah satu pokok ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah dan disepakati oleh para ulama. Jika umat Islam mau mengamalkan wasiat Rasûlullâh   n ini, niscaya mereka akan terlimpah kebaikan dan berkah.
Di antara berkah ketaatan kepada pemimpin adalah sebagai berikut:
1. Pahala Besar di Akhirat
Karena Allâh  Azza wa Jalla mewajibkan ketaatan kepada pemimpin, perkara ini menjadi ibadah utama. Menjalankan kewajiban adalah ibadah yang paling Allâh  Azza wa Jalla cintai. Saat rakyat diuji dengan pemimpin yang zhalim dan mereka bisa sabar, mereka akan mendulang pahala besar, karena telah menjalankan kewajiban. Demikian pula ketika seorang Muslim berhenti di depan lampu merah sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah. Juga jika ia meyakini bahwa di akhir zaman akan muncul pemimpin-pemimpin zhalim yang wajib dia taati, karena itu adalah kabar yang disampaikan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sekedar mengimani berita tersebut sudah mendulang pahala di sisi Allâh  Azza wa Jalla .

2. Keamanan dan Stabilitas 
Keamanan adalah salah satu nikmat terbesar yang harus dijaga bersama. Di antara kiatnya adalah iman dan taqwa dalam semua ajaran Islam, termasuk taat kepada pemimpin.

Agar aman dan stabil, sebuah negara memerlukan pemimpin yang kuat dan disegani. Dan di antara perusak keamanan yang harus diwaspadai adalah kudeta dan pemberontakan kepada pemimpin Muslim yang sah. Konflik Revolusi Arab yang terjadi dari akhir tahun 2010 dan masih berlangsung hingga hari ini adalah contoh paling mutakhir untuk tercabutnya keamanan karena tidak menepati aturan Islam dalam bab ketaatan kepada pemimpin yang zhalim. Kita bisa melihat bagaimana negara-negara yang dahulu aman sentosa menjadi luluh lantak. Ratusan ribu korban jiwa jatuh. Di Libya saja, lebih dari 50.000 nyawa melayang. Hingga Februari 2016, jumlah korban jiwa di konflik Suriah sudah mencapai 470.000.[1]
Korban luka, kerugian materi dan non materi juga sangat banyak bahkan tidak bisa dihitung lagi. Saat Libya masih bergolak, kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum diperkirakan mencapai lebih dari 240 milyar dollar.[2] Masih ada beberapa negara yang membara hingga hari ini. Sedangkan negara-negara yang konfliknya sudah reda belum lagi bisa mengembalikan permata keamanan dan stabilitas yang dahulu pernah dimiliki. Padahal banyak dari pemimpin negara-negara ini masih Muslim -meski zhalim-. Dan jika ada yang sudah dihukumi kafir oleh para ulama, umat Islam yang dipimpinnya tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menggulingkannya tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Di antara sisi indah Islam adalah Islam tidak hanya memerintahkan untuk taat kepada pemimpin yang adil, tapi juga kepada pemimpin yang zhalim. Kalau seandainya Islam hanya mewajibkan taat kepada pemimpin yang adil saja, niscaya lembaran sejarah umat Islam akan kelam dan berlumuran darah, karena pemimpin-pemimpin yang zhalim ternyata sudah mulai muncul di era generasi awal umat Islam.
3. Terwujudnya Maslahat Besar Rakyat dan Terhindarnya Kerusakan yang Lebih Besar
Kewajiban taat kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim bukanlah karena Islam pro kezhaliman. Tapi justru karena Islam melihat ke depan dan mementingkan rakyat, karena jika wibawa penguasa jatuh, stabilitas menjadi tercabik. Jika sudah begitu, rakyat kecillah yang akan menjadi korban pertama dan terbesarnya. Apalagi jika sampai terjadi kudeta berdarah.

Dalam Islam, sebagian mafsadah (kerusakan) bisa saja dibiarkan untuk menghindarkan mafsadah yang lebih besar. Dalam permasalahan ini, adanya pemimpin yang zhalim adalah mafsadah. Tapi memberontak mereka akan menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar. Maka Islam tetap mewajibkan umatnya untuk taat kepada pemimpin zhalim tersebut. Toh, jika mereka selamat dari perhitungan dunia, mereka tidak akan selamat dari perhitungan akhirat.
Allâh  Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allâh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allâh memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. [Ibrahim/14:42]
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan rakyat untuk menasehati mereka dan tidak mentaati mereka dalam perintah yang sifatnya maksiat.
Dalam Revolusi Arab, korban yang luar biasa besar sudah jatuh. Kerugiannya tidak bisa dihitung lagi. Keamanan berganti menjadi rasa takut dan kekacauan. Sementara kebaikan yang diharapkan belum terwujud. Korupsi tetap jalan, yang berubah hanya pelakunya. Sementara Kezhaliman masih merajalela dan ekonomi justru semakin terpuruk. Ibnu Taimiyyah rahimahullaht berkata,
وَلَعَلَّهُ لا يَكَادُ يُعْرَفُ طَائِفَةٌ خَرَجَتْ عَلَى ذِي سُلْطَانٍ، إِلَّا وَكَانَ فِي خُرُوجِهَا مِنَ الْفَسَادِ مَا هُوَ  أَعْظَمُ مِنَ الْفَسَادِ الَّذِي أَزَالَتْهُ.
“Barangkali hampir tidak diketahui ada sekelompok orang yang melakukan kudeta terhadap pemimpin, melainkan dalam kudeta tersebut terdapat kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang dihilangkan.”[3]
Keberhasilan kudeta membuat rakyat tidak lagi hormat kepada penguasa. Jika sudah demikian, tinggal kekacauan yang ditunggu.
4. Masuk dalam barisan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Menjadi bagian dari Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah impian sekaligus kewajiban bagi setiap Muslim, karena merekalah kelompok yang selamat (al-Firqah an-Najiyah). Untuk mencapainya, setiap Muslim wajib meniti jalan dan mengikuti ajaran mereka.

Dan di antara pokok ajaran ahlussunnah adalah taat dan patuh kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim, sebagaimana ditegaskan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits shahih yang banyak. Tidak diragukan lagi bahwa itu adalah wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga para ulama dari masa ke masa bersepakat (ijma’) dan tidak berselisih mengenai hal ini.
Menepati pokok ajaran ini dan pokok ajaran yang lain akan membuat seseorang digolongkan sebagai sunni. Sebaliknya menyelisihi pokok ini akan membuatnya digolongkan kepada ahlul bid’ah, karena penyelisihan tersebut adalah penyelisihan dalam perkara pokok (Ushul Ahlissunnah). Fatal! Para ulama tidak segan mengeluarkan pemilik penyimpangan seperti ini dari lingkaran ahlussunnah.
Al-Hasan bin Shalih bin Hay (w. 169 H) adalah seorang ulama dan ahli ibadah pada zamannya. Ada banyak riwayat tentang keshalihan dan kedalaman ilmunya. Namun para ulama menggolongkannya sebagai ahlul bid’ah karena berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa yang zhalim, meski tidak pernah ikut kudeta.
Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Beliau termasuk imam dalam Islam andai saja tidak jatuh dalam satu bid’ah.” [4] Hal ini selaras dengan sikap keras para imam yang sezaman dengan al-Hasan. Mereka menolak pengakuannya sebagai sunni dan menolak hadits-hadits yang diriwayatkannya.
Ya, kedudukan tingginya dalam ilmu dan keshalihan tidak lagi menyelamatkannya dalam hal ini. Hanya karena satu penyimpangan, namun dalam pokok ajaran ahlussunnah.
Penutup 
Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa tetap menjaga ketaatan kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim adalah ajaran Islam bahkan merupakan prinsip ajaran ahlussunnah. Dengan demikian, tentu ajaran ini mengandung maslahat besar dan akan memberikan keberkahan bagi umat Islam yang meyakini dan mengamalkannya.

Namun ironisnya, banyak umat Islam yang karena dorongan semangat semata atau tidak memahami hukum Islam seputar bab ini atau mengetahuinya tapi tidak mengamalkannya, sehingga banyak dari negeri mereka yang dilanda konflik berkepanjangan dan jauh dari berkah. Hal itu tidak aneh, karena memang demikianlah janji Allâh  Azza wa Jalla bagi umat yang menyelisihi mendustakan ajaran agama mereka.
Semoga Allâh  Azza wa Jalla membimbing umat Islam untuk kembali mempelajari agama mereka dan mengamalkannya dalam semua aspek kehidupan. Amin.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XXI/1438H/2017M. Oleh Ustadz Anas Burhanuddin MA]
_______
Footnote
[1] Versi al-Markaz as-Suri lil Buhuts as-Siyasiyyah.
[2] Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/ الثورات العربية
[3] Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 3/391.
[4] Siyar A’lam an-Nubala` 7/361.

Nasehat Untuk Pendiri Organisai, Jama’ah Dan Partai

Abu Fathan | 00:40 | 0 comments
[Tafsir Al-Qur’an Surat Al-An’am ; 159]
Oleh Al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Artinya ; Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” [Al-An’am ; 159]
MUQADDIMAH
Lembaga Dakwah pada zaman sekarang menyebar di mana-mana. Mereka mendirikan organisasi, partai dan beberapa jama’ah, mereka berdalih untuk memperjuangkan Islam. Akan tetapi kenyataan yang ada, mereka saling berpecah-belah. Mereka merasa kelompoknya yang paling benar, para pengikutnya pun merasa bangga dengan pemimpinnya, keputusan pemimpin seperti wahyu ilahiah yang tidak boleh dibantah dan harus ditaati, terancam jiwanya bila dikritik karena salah keputusannya, mau mengkritik akan tetapi tidak mau dikritik, kadang kala menolak da’i yang bukan golongannya apabila dianggap merugikan kelompoknya sekalipun da’i itu benar, mereka merasa sedih bila anggotanya keluar. Inilah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bagi orang yang tahu hakikatnya. Benarkah demikian cara kita memperjuangkan Islam? Insya Alloh dengan menyimak pembahasan berikut ini dan fatwa ulama Sunnah kita akan tahu jawabannya.

MAKNA AYAT SECARA UMUM
Ibnu Katsit rahimahullah berkata : “Pemeluk agama sebelumnya berselisih satu sama lain di dalam pola berfikir. Masing-masing mengaku bahwa kelompoknya yang benar, umat ini pun berselisih satu sama lain di dalam beragama, semuanya tersesat kecuali satu yaitu Ahlus Su’nnah wal Jama’ah, yaitu mereka yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan generasi pertama dari kalangan Sahabat Radhiyallahu ‘anhum dan para tabi’in dan para ulama kaum muslimin (salaf) dahulu dan sekarang, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrok-nya ketika Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang golongan yang selamat, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Mereka adalah orang yang mengikuti Sunnahku pada hari ini dan Sahabatku” [Tafsir Ibnu Katsir 5/282]

Ayat ini diperhatikan secara serius oleh ulama Sunnah, oleh karena itu sungguh amat beruntung apabila kita dalat mengambil ilmu mereka. Mari kita simak nasehat mereka.
FAWAID AYAT
[a]. Tanda orang musyrik, mereka suka berpecah-belah.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Orang musyrik suka mengganti dan merubah agamanya, mereka beriman terhadap sebagian akan tetapi menolak sebagian yang lain. Mereka meninggalkan agamanya seperti orang Yahudi, Nasrani, Majusi, penyembah berhala dan semua pengikut agama yang bathil sebagaimana dicantumkan di dalam ayat ini (Al-An’am ; 159)” [Tafsir Ibnu Katsir 6/282)

[b]. Hindari partai dan golongan yang merusak persatuan umat dan agama
Ibnu Jarir At-Thobari rahimahullah berkata : “Orang yang tersesat mereka meninggalkan agamanya dan sungguh partai dan golongan telah memecah belah agama yang diridhoi Alloh untuk para hamba-Nya, sehingga sebagian menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi. Inilah yang dinamakan perpecahan, mereka bergolong-golongan tidak mau bersatu, mereka mengerti agama yang benar, akan tetapi meninggalkannya dan memecah-belah” [Tafsir At-Thobari 8/78]

[c]. Pemecah-belah umat bukan golongan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Syaikh dari As-Sudi bahwa maksud ayat “ wahai Nabi kamu tidak diperintah untuk memerangi mereka”, lalu dihapus ketetapan ini dengan surat Al-Baqoroh : 92, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah memerangi mereka. Abul Ahwash berkata : “Nabimu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari umatnya yang berselisih” [Durul Mansur 3/400]

Adapun faidah yang lain, masih banyak sekali sebagaimana tertulis dalam kitab tafsir dan lainnya.
ORGANISASI, PARTAI DAN HUKUMNYA
Organisasi ialah kumpulan beberapa orang yang mempunyai tugas masing-masing dengan tujuan yang sama dan disusun secara berstruktur.

Persatuan adalah gabungan dari beberapa bagian yang sudah bersatu dalam suatu lembaga.
Himpunan adalah organisasi atau perkumpulan yang bersatu dalam satu wadah karena satu idiologi [Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer : 1063]
Yayasan ialah badan hukum yang tidak beranggota, ditangani oleh pengurus, didirikan dengan tujuan mengupayakan layanan dan bantuan sosial seperti sekolah, rumah sakit dan sebagainya. [Halaman : 1727]
Partai politik adalah kumpulan orang yang mempunyai asas, haluan, pandangan, serta tujuan yang sama di bidang politik. [Halaman ; 1099]
Dari keterangan di atas diketahui bahwa organisasi atau kelompok yang didirikan untuk urusan duniawi menurut asal hukumnya adalah halal, kecuali bila organisasi tersebut membawa mafsadah atau kerusakan pribadi, umat atau agama Islam, maka hukumnya haram, sebagaimana kaidah usul yang mengatakan al-ashlu fil-asyya’-al-ibahah (asal segala sesuatu hukumnya mubah).
“Dia-lah Alloh yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [Al-Baqoroh : 29]
HUKUM MENDIRIKAN ORGANISASI DAKWAH
Bagaimana bila mendirikan partai, jama’ah, golongan dengan tujuan berdakwah!? Berikut ini jawabannya.

“Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Alloh yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Al-Rum : 31-32]
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Tidak boleh bagi siapa pun mengangkat orang mengajak umat ini untuk mengikuti pola hidup dan peraturannya, senang dan membenci karena dia selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma ulama Sunnah. Adapun ciri ahli bid’ah mereka mengangkat pemimpin dari umat ini, atau membuat peraturan yang mengakibatkan umat berpecah belah, mereka mencintai umat karena mengikuti peraturan golongannya dan memusuhi orang yang tidak mengikuti golongannya” [Dar’ut Ta’arudh 1/149]
Selanjutnya beliau rahimahullah berkata ;”Dan tidak boleh seorangpun membuat undang-undang yang dia menyenangi orang atau memusuhinya dengan dasar peraturannya, bukan peraturan yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 20/164]
Syaikh Sholih Fauzan (anggota Kibarul Ulama Saudi Arabia) ditanya : “Kita sering mendengar istilah jama’ah-jama’ah (golongan-golongan) Islam pada zaman sekarang yang telah menyebar di dunia. Dari mana istilah penamaan ini?
Beliau menjawab :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi tahu kepada kita cara beramal, beliau tidaklah meninggalkan sesuatu yang dapat mendekatkan umat ini kepda Alloh melainkan beliau telah menjelaskannya, dan tidaklah meninggalkan sesuatu yang membuat manusia jauh dari Alloh melainkan beliau telah menjelaskannya. Termasuk perkara yang kamu tanyakan ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian hidup (setelah aku meninggal dunia) akan menjumpai perselisihan yang banyak. Bagaimana cara menanggulanginya ketika peristiwa ini terjadi? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Wajib bagimu berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku, hendaknya kamu berpegang kepadanya, dan gigitlah dengan gigi gerahammu, jauhkan dirimu dari perkara baru, karena setiap perkara baru bid’ah dan setiap bid’ah dan setiap bid’ah adalah tersesat’. (Dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Al-Irwa : 2455)
Maka dari jama’ah yang ada, apabila dia berdiri di atas petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, terutama Khulafaur Rasyidin dan abad yang mulia, maka jama’ah dan golongan dimana saja kita masuk di dalamnya, dan wajib kita bekerja sama dengan mereka. Adapun jama’ah yang menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita wajib menjauhinya, walaupun dia mengatakan jama’ah islamiah. Yang menjadi ukuran bukan nama, akan tetapi kenyataan. Adapun nama memang banyak dan marak kita saksikan dimana-mana, akan tetapi nihil dan bathil juga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Telah berpecah-belah orang Yahudi manjadi tujuh puluh dua golongan, dan akan bepecah belah umat ini menjadi tujuh puluh tiga golongan, semua di neraka kecuali satu. Kami berkata ; ‘Siapa dia wahai Rasulullah ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ‘Orang yang berpijak semisal saya pada hari ini dan berpijak kepada Sunnah sahabatku”

Keterangan ini jelas dan gamblang. Jika kita menjumpai jama’ah dan ini tandanya, mereka mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka mereka golongan Islam yang benar. Adapun jama’ah yang menyelisihi jalan ini, dan berjalan di atas jalan yang lain, jama’ah itu bukan golongan kita, dan kami pun bukan golongan mereka, kita tidak masuk di dalamnya, dan mereka pun tidak masuk golongan kita, mereka bukan dinamakan jama’ah, akan tetapi mereka itu firqoh (golongan pemecah-belah) dari firqoh yang tersesat. Karena itulah jama’ah tidaklah ada melainkan di atas manhaj yang benar, yang manusia bersatu di atasnya, sedangkan kebathilan pasti memecah-belah dan tidak menyatukan, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“…Dan jika mereka berpaling sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu) “[Al-Baqarah : 137] [Al-Ajwibah Al-Mufidah an As’ilatil Manahajil Jadidah 6-8]
Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid (anggota Kibarul Ulama Saudi Arabia) berkata :”Tidak boleh diangkat seorangpun untuk mengajak umat ini menuju ke jalannya melainkan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang mengangkat selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panduan hidup maka dia tersesat dan ahli bid’ah” [Hukmul Intima Ilal Firoq wal Ahzab wa Jama’at Islamiyah : 96-97]
Syaikh Abu Anas Ali berkata : “Sesungguhnya partai dan golongan yang memiliki peraturan yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah ditolak oleh ajaran Islam, karena tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang membolehkan umat Islam berpartai dan bergolong-golongan, justru sebaliknya kita jumpai banyak dalil yang mencela berdirinya beberapa partai dan golongan, misalnya firman-Nya yang tercantum dalam surat Al-An’am : 159 dan Ar-Rum : 32, bahkan dampak yang kita ketahui dengan adanya banyak partai dan golongan satu sama lain saling menjelekkan, mencaci dan memfasikan, bahkan boleh jadi lebih dari pada itu, mengkafirkan yang lain tanpa dalil” [Kaifa Nualiju Waqanal Alim 199-200]
BENARKAH DAKWAH TIDAK AKAN MAJU TANPA ORGANISASI?
Syaikh Abu Anas Ali berkata : “Ada orang yang berkata :’Tidak mungkin dakwah akan tegak dan tersebar melainkan apabila di bawah naungan partai dan golongan’. Maka kami jawab : Syaikh Ibnu Utsaimin berkata :’Pendapat ini adalah salah, bahkan sebaliknya dakwah menjadi kuat dan tersebar tatkala manusia kuat berpegang teguh kepda Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling banyak mengikuti jejak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Ketahuilah wahai para pemuda! Sesungguhnya banyaknya jama’ah atau golongan adalah fakta yang menyakitkan dan bukan fakta yang menyehatkan. Saya berpendapat hendaknya umat Islam satu partai saja, yaitu yang kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [As-Shohwatul Islamiyah Dhowabith wa Taujihat oleh Syaikh Ibnu Utsaimin : 258-259]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Adapun umat yang berpecah-belah menjadi sekian banyak golongan sehingga masing-masing mengatakan dia yang paling benar, bukan hanya ini saja, bahkan mereka menganggap sesat golongan lain, membid’ahkan golongan yang lain, membuat orang menjauhi kelompok lain, maka tidaklah diragukan bahwa ini adalah pendiskreditan dan cacat bagi umat Islam. Ini merupakan senjata yang paling kuat untuk membinasakan kebangkitan Islam yang penuh barokah ini. Maka kamu perlu menasehati saudara-saudara kami, hendaknya kalian bersatu, hindari perpecahan, kembalikah kepada jalan yang haq Inilah kewajiban setiap umat Islam” [Kajian rutin setiap bulan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin edisi pertama hal.31]
Al-Muhaddits Al-Albani ketika ditanya : “Bagaimana menurut pandangan syariat Islam, kaum muslimin bergolong-golongan, berpartai yang berbeda berorganisasi Islam, padahal satu sama lain berbeda sistemnya, caranya, seruannya, aqidahnya dan berbeda pula landasan pegangan yang menjadi pegangan mereka, padahal golongan yang benar hanya satu sebagaimana disebut di dalam hadits yang shahih?. Beliau menjawab : “Tidaklah ragu bagi orang yang berilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah dan memahaminya dengan pemahaman salafush shalih yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa berpartai, bergabung dengan kelompok-kelompok yang berbeda pola berfikirnya, ini adalah yang pertama. Dan manhaj atau cara serta sarana yang berbeda pula, ini yang kedua, maka tidaklah Islam membolehkan hal ini sedikit pun, bahkan Alloh Pencipta kita melarang kita berpecah-belah bukan hanya satu ayat, misalnya surat Ar-Rum : 32, Hud : 118-119. Di dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla tidak mengecualikan perselisihan yang pasti terjadi, (karena ini merupakan kehendak kauni yang harus terjadi, bukan kehendak syar’i), maka Allah hanya mengecualikan golongan yang dirahmati, yaitu : “Kecuali orang yang dirahmati oleh Raabmu” [Hud : 119] [Fatwa Syaikh Al-Albani rekaman kaset nomor : 608, atau lihat Kitab Kaifa Nualiju Waqianal Alim : 201]
Syaikh Ibnu Jibrin tatkala ditanya : “Bagaimana hukumnya umat Islam mendirikan partai politik?” Beliau menjawab ; “Islam mengajak kita bersatu, dan melarang kita berpecah-belah, orang Islam dilarang berpecah-belah berdasarkan firman-Nya di dalam surat Al-Imran ; 105, surat Ar-Rum : 31-32
Dari keterangan ulama Sunnah di atas nampak jelas bahwa kenyataan yang ada, partai dan golongan yang landasannya menyimpang dari Sunnah tidaklah menjadi sebab berkembangnya dakwah Islamiyah, akan tetapi sebaliknya merusak aqidah umat. Berapa banyak para tokoh partai menghalalkan yang haram, menghalalkan bid’ah dan syirik, loyal dengan agama selain Islam karena ingin mencari pengikut dan ingin mencari kursi. Akan tetapi sebaliknya berdakwah yang dilakukan oleh perorangan dari kalangan ulama Sunnah yang kembali kepada pemahaman salafush shalih, mereka berhasil, mereka bersatu, walaupun lain tempat dan waktu. Lihat dakwah Imam Ahmad rahimahullah dan ahli hadits lainnya, ahli fikih dan ahli tafsir salafush shalih, Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab dan ulama Sunnah yang baru saja meninggal dunia, misalnya Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnu Utsaimin dan lainnya baik yang telah meninggal dunia atau yang masih hidup, dakwah mereka nyata, menerangi penduduk dunia, rohmatan lil alamin. Mereka berhasil memberantas kemusyrikan dan kebid’ahan, penyakit yang sangat berbahaya di dunia yang merusak tauhid dan Sunnah, padahal mereka tidak mendirikan partai, organisasi dan jama’ah yang tersesat.
BAHAYA FANATIK GOLONGAN
Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali berkata ; “Sungguh sebagian ulama telah menjelaskan kerusakan yang disebabkan oleh manusia yang fanatik kepada madzhab-madzhab atau golongan, di antaranya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, beliau menjelaskan kerusakannya sebagai berikut.

[1]. Menentang nash yang kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah, karena fanatik kepada golongan, dan kadangkala merasa cukup dengan pendapat saja.
Penulis berkata : “Memang demikian kenyataannya, banyak pengikut terkena sihir dan tertipu oleh pemimpinnya, sehingga agama adalah apa kata pemimpinnya’.
[2]. Mengambil hadits lemah dan palsu sebagai dasar untuk mempertahankan pendapatnya, bahkan mereka berdusta dan berani membuat hadits untuk mendukung pendapatnya.
Penulis berkata : “Di antara ciri ahli bid’ah, mereka menolak hadits yang shahih dan mengambil hadits yang lemah”.
[3]. Mereka mendahulukan pendapat orang yang dianggap berilmu pada zaman sekarang dari pada ilmu ulama salafush shalih.
Penulis berkata : “Benar, karena ulama salaf pada zaman dahulu dianggap tidak tahu fiqhul waqi’ atau politik, dan dituduh dengan tuduhan jelek”
[4]. Terjerat oleh pendapat perorangan, dan tidak mau mengambil ilmu atau kebenaran madzhab yang lain, tidak mau membaca nasehat ulama, dikarenakan fanatik kepada pemimpinnya
Penulis berkata :”Memang demikian, tidak sedikit pemimpin yang rusak aqidah dan moralnya, akan tetapi karena jadi pemimpin, menjadi cermin hidup oleh pengikutnya”.
[5]. Umumnya ketetapan atau anggaran dasar setiap golongan sunyi dari dalil syar’i bahkan membecinya.
Penulis berkata : “Benar, bagaimana tidak, karena tim perumusnya dari berbagai macam aliran, sedangkan ketetapan diambil dengan cara suara terbanyak, mana yang banyak itulah yang menang.
[6]. Tersebarnya taqlid, jumud dan tertutupnya pintu ijtihad.
[Diringkas dari At-Taasshub Al-Dzamim wa Atsarohu oleh DR Rabi bin Hadi Umar Al-Madkhali 5-15]
Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid menjelaskan ada empat puluh satu bahaya dengan berdirinya partai dan golongan Islam diantaranya.
1) Mereka mengikat wala dan bara atau menyenangi dan membenci orang karena golongan.
2). Kebanyakan kelompok/golongan yang menamakan dirinya kelompok/ golongan Islam merusak Islam, lihat kelompok Baha’iyah dan Qodyaniah, dst.
3). Kami bertanya : “Apakah setiap partai membolehkan apabila ditandingi oleh partai yang lain di dalam suatu negeri? Jika dijawab boleh, ini adalah jawaban yang tidak masuk akal, dan tidak ingin umat ini menjadi baik. Jika tidak noleh, bagaimana membolehkan dirinya dan melarang orang lain? Padahal semua partai menurut dugaan mereka ingin membela Islam”.
4). Berapa banyak partai dasarnya hanya politik belaka, sunyi dari kaidah Islam, yang akhirnya merusak Islam dan dakwah Islam menjadi suram.
5). Dengan adanya beberapa golongan di dalam tubuh kaum muslimin menunjukkan adanya perpecahan didalamnya
6). Dengan banyaknya partai akan mengebiri aktivitas amal Islami
7). Masing-masing parati dan golongan menyembunyikan kebenaran Islam karena penyakit fanatic golongan.
8). Partai dan golongan pasti merupakan persaudaraan umat Islam
9). Dengan berdirinya banyak golongan pasti mencela dan memberi gelar yang jelek kepada golongan lain. Ini adalah ciri orang jahiliyah perusak Islam.
10). Partai dan golongan dibangun atas dasar suara yang banyak, tidak mau dikriitik dan dibantah.
12). Pada awalnya partai itu dibangun untuk mewujudkan amal Islami agar menjadi insan yang bertauhid, akan tetapi pada umumnya berubah menjadi bentuk yang aneh pada tubuh umat, karena ingin menyaingi partai yang lain.
13). Bahaya yang paling nampak dengan berdirinya golongan dan partai adalah lenyapnya dakwah menuju ke jalan Allah sesuai dengan dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
14). Dakwah yang dilakukan partai dibangun atas dasar pola berfikir dan rancangan kelompoknya

Inilah sebagian bahaya akibat munculnya banyak partai dan golongan. Bagi yang ingin mengetahui bahaya yang lain, silahkan baca kitab Hukmul Intima’ Ilal Firoq Wal Ahzab Wal Jama’at Al-Islamiyah oleh Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid hal. 135-152]
UMAT ISLAM PASTI BERPECAH-BELAH AKAN TETAPI WAJIB BERSATU
Fitnah yang muncul pada akhir zaman bahwa umat Islam berpecah-belah menjadi beberapa golongan, masing-masing mengaku kelompoknya yang benar, seperti halnya orang Yahudi dan orang Nasrani, mereka berpecah-belah dan mengaku bahwa hanya golongannya yang benar

“Dan orang-orang Yahudi berkata : ‘Orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan’, Dan orang-orang Nasrani berkata : ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan’. Padahal mereka (sama-sama) membuat Al-KItab” [Al-Baqarah : 113]
Adapun dalil yang menjelaskan bawa umat Islam pada akhir zaman pasti berpecah-belah diantaranya adalah hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Sesungguhnya bani Israil berpecah-belah menjadi tujuh puluh satu, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua, semuanya di neraka kecuali satu, dan dia adalah jama’ah” [HR Ibnu Majah ; 3983] Dishahihkan Al-Albani Shahih Ibnu Majah 2/364.
Yang dimaksud jama’ah di dalam hadits ini adalah kembali kepada yang haq, atau sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu orang yang berpijak kepada Sunnahku pada hari itu dan Sunnah para sahabatku.
Perpecahan umat Islam ini merupakan takdir kauny (kehendak Allah untuk menciptakannya) bahwa pada akhir zaman umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti berpecah-belah, akan tetapi bukan berarti kita boleh berpecah-belah, sebagaimana dalil yang selalu dikumandangkan oleh orang ahli bid’ah dalam rangka menutup aib mereka, mereka berdalil dengan hadits palsu ‘ ikhtilafu umati rahmat’ (perpecahan umat ini adalah rahmat). Ketahuilah perkataan itu bukan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi hadits palsu. Syaikh Al-Albani berkata : “Para pakar ahli hadits telah mencoba mencari sanad hadits ini akan tetapi tidak menemukannya” [Lihat Silsilah Ahadits Dho’ifah 1/141]
Dalil mereka ini tidak masuk akal, karena mustahil orang yang berselisih dan berpecah-belah hidupnya penuh dengan rahmat. Bukankah pasangan suami-istri bila berselisih terancam jiwanya, bagaimana berselisih dalam hal aqidah dan ibadah merasa rahmat?! Oleh karena itu ahli bid’ah dan orang yang fanatik golongan merasa sakit hatinya bika dikritik kesalahannya.
Ketahuilah perpecahan umat ini merupakan ujian bagi orang yang beriman, hendaknya mereka memilih jalan yang benar dan meninggalkan kelompok tersesat lainnya. Adapun dalil wajibnya kita bersatu, tidak boleh berpecah-belah dan bergolong-golongan.
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” [Ali-Imran ; 103]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya Allah meridhoi kamu tiga perkara dan membenci kamu tiga perkara ; Dia meridhoi kamu apabila kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu kepada-Nya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah” [HR Muslim : 3236]
BAGAIMANA AGAR UMAT ISLAM BERSATU?
Ayat dan hadits diatas menunjukkan cara untuk menyatukan umat Islam, yaitu kita harus kembali kepada tali Allah, sedangkan makna tali Allah ialah Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana dijelaskan di dalam hadits.

“Kitab Allah adalah tali Allah yang menjulur dari langit ke bumi” [Lihat Silsilah As-Shahihah 5/37]
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa As-Sunnah termasuk tali Allah, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya’ [HR Imam Malik 1395 bersumber dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu dihasankan oleh Al-Albani di dalam kitabnya Manzilatus Sunnah fil Islam 1/18]
Pada zaman sekarang umat Islam tidak cukup hanya bepegang kepada Al-Qur’an dan hadits yang shahih untuk menyatukan umat, karena ahli bid’ah pun mengaku berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi mereka berselisih dan berpecah-belah, karena itu tidaklah umat Islam akan bersatu melainkan apabila di dalam berpegang kepada Al-Qur’an dan hadits yang shahih disertai dengan pemahaman salafush shalih, dari kalangan para sahabat, tabi’in dan ahli hadits, sebab jika tokoh umat memahami dalil nash dengan pemahaman salafush shalih niscaya mereka tidak akan berpecah belah walaupun mereka berselisih dalam suatu masalah, karena khilaf mereka jatuh pada masalah ijtihadiah.
Adapun dalil wajibnya kita memahami dalil nash dengan pemahaman salafush shalih adalah sebagai berikut.
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]
Dalam ayat di atas Allah memuji sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, yang sekarang dikenal dengan nama ahlus sunnah wal jama’ah atau pengikut as-salafush sholih.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Maka barangsiapa yang menjumpai itu (perpecahan umat) hendaknya dia berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para kholifah yang menunjukkan kepada kebaikan dan mendapat petunjuk, gigitlah Sunnah ini dengan gigi geraham” [HR Tirmidzi 2600 dan lainnya dishahihkan Al-Albani lihat Silsilah As-Shahihah 6/610]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya berpesan kepada umatnya agar berpegang kepada Sunnahnya saja, akan tetapi kepada Sunnah sahabat pula.
Dari Abu Burdah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Dan sahabatku adalah orang yang dapat dipercaya untuk umatku, maka jika mereka telah pergi, maka akan datang apa yang dijanjikan kepada umatku” [HR Muslim 4596]
Imama Nawawi rahimahullah berkata : “Adapun makna “apa yang dijanjikan” yaitu munculnya bid’ah, perkara baru dalam urusan agama, dan munculnya fitnah” [Syarah Imam Muslim 16/83]
Selanjutnya orang yang menolak pemahaman para sahabat maka akan diancam menjadi orang yang tersesat.
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” [An-Nisa : 115]
Syaikh Al-Albani berkata : “Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa umat Islam pada zaman sekarang –kecuali sedikit di antara mereka- tatkala mereka tidak berpegang teguh dengan kitab Allah dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tersesat dan hina, yang demikian itu karena mereka berpegang kepada pendapat pemimpin mereka.
Tatkala terjadi perselisihan, pendirian mereka pada dasarnya kembali kepada pemimpin mereka, jika ada ayat yang cocok, mereka ambil, jika tidak, mereka tolak. Bahkan sebagian mereka berkata : “Setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan pendapat mereka, maka dimansukh (dihapus)”. Semoga Allah merahmati Imam Malik rahimahullah, beliau berkata : “Dan tidak akan baik umat pada akhir zaman ini melainkan apabila mereka kembali sebagaimana ulama pertama memperbaiki umat” [Hajjatun Nabi 1/71]
Kesimpulannya para tokoh masyarakat hendaknya mengajak umat agar kembali kepada pemahaman salafush shalih tatkala mengambil dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar umat tetap bersatu dan tidak timbul perasaan benar sendiri dan menyalahkan orang benar.
Tokoh umatnya hendaknya hati-hati dalam memimpin umat jangan sampai menjadi penyebab kerusakan umat.
Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan” [HR Tirmidzi 2155 dishahihkan oleh Al-Albani Shahihul Jami’ 2316]
Tokoh umat hendaknya takut di hadapan pengadilan Allah pada saat pengikut mengadu pada hari kiamat. Baca surat Ibarhim : 21-22 dan surat Ghofir : 47-48, surat As-Saba : 31-33. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua, menjadi pemimpin yang mengajak umat kepada yang haq yang diridhoi oleh Allah Jalla Jala Luhu.
[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 6, Th. Ke-7 1429/2008. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]

Lebih Baik Berbeda Dengan Masyarakat Daripada Berbeda Dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Abu Fathan | 10:43 | 0 comments
Hidup di masa-masa yang jauh dari kenabian, akan membuat orang bisa jauh dari petunjuk-petunjuk dan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh Rasûlullâh, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, perlahan-lahan, ajaran-ajaran Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan sebaik-baik petunjuk dimarjinalkan dari amaliah sehari-hari umat. Petunjuk-petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pasti mengantarkan manusia menuju cinta Allâh Azza wa Jalla kalah pamor dengan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.

Pendek kata, yang benar dipandang buruk dan tercela serta pantas dimusuhi dan orang yang mengamalkannya patut dicurigai sebagai penganut ajaran sesat. Sedangkan perkara-perkara yang merupakan keburukan dan kemungkaran dalam perspektif syariat menjadi kebiasaan dan kebenaran yang mesti diamini oleh segenap anggota masyarakat. Bila ada yang coba mengkritisi, vonis sesat akan segera tersemat pada orang tersebut. Inilah dampak belum tersebarnya ilmu yang shahih di tengah masyarakat. Ilmu yang berstandar pada qâlallâhu wa qâla rasûluhu. Sementara yang berkembang di sebagian masyarakat, amalan mereka bersumber pada qiila wa qaala (katanya), ra`yu (pendapat orang) atau istihsân (anggapan baik dari individu tertentu).

Maka, tidak mengherankan bila orang yang berpegang-teguh dengan ajaran Islam akan merasa terasing meski di kampung halamannya sendiri, dikarenakan ia berpenampilan beda dari kebanyakan orang, memiliki aqidah (keyakinan) yang agak lain daripada yang lain dan mengamalkan amaliah-amaliah ibadah yang tidak biasa dikerjakan oleh lingkungan sekitar.

Orang yang teguh di atas ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bahkan dianggap mengimpor pemahaman dari luar negeri, sehingga dikategorikan sebagai pemikiran transnasional, meskipun hal tersebut tertuang dalam buku-buku hadits dan kitab-kitab Ulama Islam yang mu’tabar.

HIDUP TERASING SAAT KOMITMEN DENGAN PETUNJUK NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa keadaan terasing pun akan kembali dialami oleh orang-orang yang komitmen dengan ajaran Islam di masa mendatang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam bermula dengan terasing, dan akan kembali sebagaimana bermula dalam keadaan terasing. Maka, kemuliaan bagi orang-orang yang terasing”. [HR. Muslim no.232].

Tidak itu saja, cobaan demi cobaan akan dihadapi orang-orang yang terasing itu. Cobaan-cobaan berat yang terlukis dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الْقَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan tiba suatu masa pada manusia, orang yang memegangi ajaran agamanya, layaknya orang yang menggenggam bara api [HR. At-Tirmidzi. Hadits shahih. Lihat Shahîh al-Jâmi’ no.8002].

Hadits mulia ini memuat dua perkara: (1) berita dan (2) arahan.

Berita yang dimaksud adalah berita dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang menurunnya kebaikan dan faktor-faktor penyebabnya dan semakin banyaknya keburukan dan faktor-faktor pendukungnya.

Pada masa itu, orang yang mutamassik (komitmen) dengan ajaran Islam berjumlah sangat sedikit di tengah masyarakat. Dan jumlah yang sedikit ini akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang berat, layaknya orang yang memegangi bara api, lantaran begitu dahsyatnya penolakan orang-orang yang menentang, banyaknya fitnah yang menyesatkan, kerasnya terjangan syubhat-syubhat, menggilanya godaan-godaan syahwat, gencarnya usaha pendangkalan aqidah dan kecenderungan manusia kepada dunia serta beratnya hidup dalam kesendirian karena tidak ada yang mendukung dan menolong.

Akan tetapi, orang yang komitmen kuat dengan agamanya dalam situasi demikian, yang bertahan diri dengan menghadapi penentangan dan berbagai rintangan, mereka adalah sebaik-baik manusia dan orang-orang yang berderajat paling tinggi di sisi Allâh Azza wa Jalla . Mereka adalah insan-insan yang berbashirah dan memiliki keyakinan kuat. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keimanan yang teguh.

Sedangkan terkait kandungan kedua dari hadits di atas, yaitu arahan, sesungguhnya hadits tersebut mengarahkan umat agar melatih diri untuk menghadapi keadaan tersebut, menyadari bahwa keadaan tersebut pasti akan terjadi dan orang yang menghadapi rintangan-rintangan tersebut dan tetap bersabar di atas agama dan imannya mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla akan menolong dan membantunya untuk melakukan apa yang Allâh cintai dan ridhai. Karena sesungguhnya pertolongan akan datang sesuai dengan tingkat cobaan.

Melihat realita yang ada di masa sekarang, Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Betapa miripnya zaman kita dengan keadaan yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [1]

Di masa sekarang, seseorang yang komitmen dengan ajaran Islam dilabeli dengan label aliran sesat atau ajarannya keras, radikal, bahkan disematkan label teroris juga. Dakwahnya dituduh sebagai biang pemecah-belah umat. Terkadang harus mengalami pengusiran, menghadapi demo masyarakat yang telah terhasut provokasi murahan.

BELAJAR DARI PENGALAMAN IMAM SYATHIBI RAHIMAHULLAH 
Menengok sejarah hidup Ulama dalam menyikapi problematika dakwah dan keteguhan di atas Sunnah sangat penting. Seseorang akan mendapatkan pelajaran berharga dari kesabaran dan keteguhan Ulama saat mengamalkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendakwahkannya dan menghadapi tuduhan dan cibiran dari pihak lain. Ia akan berkesimpulan bahwa harus bersabar dan bertahan di atas jalan istiqomah, tidak ada pilihan lain.

Imam Syâthibi yang bernama asli Ibrâhîm bin Mûsâ al-Ghirnâthi asy-Syâthibi salah satu sosok teladan yang pantas menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam masalah ini. Beliau seorang Ulama dari negeri Granada yang dahulu masuk ke wilayah kekuasaan kaum Muslimin melalui tangan Thâriq bin Ziyâd pada tahun 92 H. Lahir pada tahun 720 H dan wafat tahun 790 H. Dalam kurun waktu 70 tahun tersebut, beliau habiskan untuk thalabil ilmi, menyebarkan al-haq, menghidupkan Sunnah dan memadamkan bid’ah. Beliau t telah mewariskan kitab-kitab penting, di antaranya, al-I’tishâm dan al-Muwafaqât.

Dalam muqaddimah kitab al-I’tishâm, Imam Syathibi rahimahullah mengisahkan tentang perjalanan hidupnya untuk dijadikan inspirasi dan cermin agar orang selalu bertahan dan bersabar di atas jalan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,tanpa perlu mempedulikan omongan ahli bid’ah, “Allâh Azza wa Jalla telah memberikan karunia kepadaku dan melapangkan dadaku untuk memahami makna-makna syariah, sesuatu yang di luar dugaanku dan telah menghunjamkan pada diriku bashirah bahwa Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya tidak meninggalkan celah bagi orang untuk berbicara tentang jalan hidayah dan tidak memberikan peluang yang berarti di luar al-Qur`ân dan Sunnah untuk memperoleh hidayah, dan agama ini telah sempurna, kebahagiaan puncak terakhir melalui jalan yang digariskan, jalan menuju Allâh Azza wa Jalla dalam apa yang disyariatkan, selain itu hanyalah kesesatan, dusta, bohong dan kerugian, dan orang yang memegangi keduanya dengan dua tangannya telah berpegang teguh dengan tali yang kuat dan memperoleh segala kebaikan dunia dan akhirat. Selain keduanya, hanyalah impian-impian kosong, khayalan belaka dan bayangan-bayangan saja.

Dan telah tegak kebenaran hal tersebut bagiku dengan sebuah bukti kebenaran yang tidak ada syubhat sedikit pun yang mengitarinya. Yaitu firman Allâh Azza wa Jalla :

ذَٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(-Nya)” [Yûsuf/12:38]

Segala puji dan syukur bagi Allâh sebanyak-banyaknya.

Dari situ, aku kondisikan diriku untuk berjalan pada jalan hidayah sesuai yang Allâh Azza wa Jalla mudahkan bagiku. Aku mulai dengan pokok-pokok agama untuk aku amalkan dan yakini dan kemudian dengan cabang-cabangnya yang berlandaskan pokok-pokok agama tersebut. Dalam proses tersebut, menjadi jelas bagiku apa yang termasuk sunnah dan apa yang termasuk bid’ah, sebagaimana menjadi jelas bagiku hal-hal yang boleh dan tidak boleh. Hal tersebut aku timbang dengan ilmu tentang pokok-pokok agama dan kaedah-kaedah fikih. Selanjutnya, aku tuntut diriku untuk berjalan bersama Jamaah yang disebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan istilah sawâdul a’zham tentang karakter yang dipegangi oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum dan meninggalkan bid’ah yang telah dinyatakan oleh Ulama sebagai bid’ah yang sesat dan amalan yang dibuat-buat.

Pada saat-saat itu, aku masih ikut serta dalam aktifitas orang-orang pada umumnya, dengan menyampaikan khutbah dan menjadi imam shalat dan aktifitas keagamaan lainnya. Ketika aku ingin istiqomah di atas jalan ini, aku dapati diriku tampak terasing di tengah manusia pada waktu itu, lantaran jalan hidup mereka telah didominasi oleh adat-adat tertentu dan endapan-endapan bid’ah telah mengintervensinya.

Pikiranku maju-mundur, antara mengikuti Sunnah dengan resiko menyelisihi kebiasaan manusia, sehingga pasti akan muncul respon buruk sebagaimana dahulu terjadi terhadap orang-orang yang tidak sejalan dengan adat-istiadat, apalagi bila para pemegang adat-istiadat tersebut mengklaim apa yang mereka lakukan adalah Sunnah, sementara yang lain bukan, hanya saja, di balik kesulitan dan beban berat tersebut ada pahala besar, ataukah aku harus mengikuti mereka, maka akibatnya aku menyelisihi Sunnah dan generasi Salafus Shaleh, sehingga nantinya aku masuk ke dalam rangkaian biografi orang-orang yang sesat – aku berlindung kepada Allâh Azza wa Jalla dari hal itu – , aku pun mengikuti budaya yang berlaku, dan dianggap sebagai orang yang membaur dengan mereka, bukan orang yang menyelisihi mereka?!.

Namun, aku melihat bahwa adanya kesulitan akibat mengikuti Sunnah adalah keselamatan, dan orang-orang tidak akan dapat menyelamatkan aku sedikit pun dari siksa Allâh.

Maka, aku pun perlahan-lahan berjalan dalam prinsip itu dalam sebagian urusan, sehingga akhirnya ‘Kiamat’ harus aku hadapi, celaan datang kepadaku dengan bertubi-tubi, cercaan mengarah panahnya kepadaku, dan aku pun dituduh berbuat bid’ah, sesat, dan aku pun dipandang orang dungu dan bodoh.

Kadang-kadang mereka menjelek-jelekkan sudut pandangku dengan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati.

Aku pernah dituduh mengatakan doa itu tidak berguna dan tidak ada manfaatnya sama sekali, karena aku tidak selalu berdoa secara bersama-sama setelah shalat lima waktu ketika aku menjadi imam.

Terkadang aku dianggap beraliran keras dan berlebihan dalam mempraktekkan agama, karena berpegangan dengan pendapat yang masyhur dalam madzhab yang dipegangi. Sementara orang-orang menginginkan pendapat yang mudah bagi penanya dan sesuai dengan keinginannya, walaupun merupakan pendapat yang syaadz dalam madzhab yang dipegangi, apalagi para Imam tidak seperti itu.

Dalam kesempatan lain, tuduhan membenci para wali Allâh juga terarah kepadaku. Sebabnya, aku tidak menyukai sebagian orang-orang fakir yang berbuat bid’ah, dan tidak sejalan dengan sunnah, yang mengaku-aku dapat memberi hidayah manusia. Aku katakan kepada orang-orang tentang keadaan mereka ini yang mengaku sebagai orang-orang Sufi.

Aku juga tertuduh bertentangan dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah, dikarenakan makna Jamaah yang harus diikuti menurut mereka adalah kebiasaan yang dilakukan masyarakat pada umumnya, dan jamaah yang ada di setiap masa, walaupun bertentangan dengan Salafus Shaleh. Mereka tidak tahu bahwa maksud Jamaah adalah mengikuti apa yang dipegangi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Mereka telah berbohong tentang aku dalam semua tuduhan tersebut atau hanya mengira-ngira saja. Dan segala puji bagi Allâh Azza wa Jalla dalam setiap keadaan”.[2]

Itulah ungkapan yang mengindikasikan keteguhan sang imam di atas Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan siap menghadapi resiko dari masyarakatnya Dan silahkan perhatikan ungkapan hati Imam Syathibi t di atas, betul-betul sangat mirip dengan apa yang terjadi belakangan ini. Orang-orang dituduh sesat, stigma-stigma buruk dilontarkan kepada mereka, tanpa ada alasan dan kesalahan selain karena orang-orang tersebut sadar betapa pentingnya hidup ber-Islam dengan petunjuk Sunnah dan kemauan kuat mereka untuk menjalankannya. Itu saja!. Sekali lagi, seolah-oleh beliau bicara tentang orang-orang yang komitmen dengan Sunnah yang mengalami gangguan dari pihak lain sekarang ini.

Dan poin yang juga mesti dipetik dari nasehat beliau di atas adalah lisannya tetap memuji Allâh Azza wa Jalla dan dikuatkan dengan pernyataan beliau di bawah ini, “Setelah pengingkaran terhadapku terjadi, karena hidayah yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepadaku, wa lahul hamd, aku tetap mencari-cari perkara-perkara bid’ah yang telah disinggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Beliau peringatkan umat darinya serta menjelaskannya sebagai bid’ah dan keluar dari jalan yang lurus, dan telah diisyaratkan oleh Ulama untuk mendeteksi dan mengenalkan sebagian darinya, agar aku hindari sebisa mungkin. Dan aku mencari sunnah-sunnah yang cahayanya hampir-hampir dipadamkan oleh bid’ah-bid’ah. Semoga aku bisa menampakkannnya dengan mengamalkannya dan aku pun kelak terhitung menjadi orang yang menghidupkannya pada Hari Kiamat, sebab tidaklah ada suatu bid’ah kecuali lenyaplah sunnah sebagai akibatnya”[3].

PETUNJUK SYAIKH AS-SA’DI RAHIMAHULLAH DALAM MENGHADAPI PENENTANG DAKWAH
Seorang Mukmin tidak putus asa saat berada dalam keadaaan demikian dari rahmat Allâh Azza wa Jalla . Pandangannya tidak boleh hanya terpaku pada faktor-faktor yang zhahir saja, akan tetapi hatinya harus kembali kepada Allâh al-Karîmul Wahhâb yang akan mendatangkan kemudahan setelah kesulitan.

Syaikh ‘Abdur Rahmân as-Sa’di rahimahullah telah menerangkan langkah-langkah yang diambil seorang Mukmin yang menghadapi berbagai rintangan dalam menjalankan Islam yang benar dan mendakwahkannya. Beliau rahimahullah mengatakan, “Seorang Mukmin dalam kondisi-kondisi demikian adalah orang yang senantiasa mengucapkan lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh, hasbunallâh wa ni’mal wakîl, ‘alallâhi tawakkalnâ (hanya kepada Allâh kami bertawakkal), Allâhumma lakal hamdu, wa ilaikal musytâ, wa antal musta’ân, wa bikal mustaghâts (ya Allâh, bagi-Mu segala puji, dan kepada-Mulah disampaikan keluh-kesah, Engkaulah tempat kami meminta pertolongan, dan bersama Engkaulah segala bantuan), wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil azhâm. (Setelah itu) ia melakukan segala sesuatu yang mampu ia perbuat dalam keimanan, menasehati dan berdakwah. Bila belum bisa melakukan perubahan yang besar, perbaikan sekecil apapun ia syukuri. Demikian pula (disyukuri) hilangnya sebagian keburukan atau berkurangnya tingkatan keburukan, bila belum memungkinkan keburukan itu sirna semua.” [4]

Kemudian beliau rahimahullah mengutip firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا 

Barang siapa yang bertakwa kepada Allâh, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. [ath-Thalâq/65:2]

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa yang bertawakkal kepada Allâh, niscaya Allâh akan mencukupi (keperluan)nya. [ath-Thalâq/65:3]

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allâh, niscaya Allâh menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. [ath-Thalâq/65:4]

Semoga Allâh Azza wa Jalla memudahkan urusan para penyeru umat kepada Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberikan hidayah kepada umat Islam untuk mencintai Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengagungkan dan mengamalkannya. Amin.

Oleh Ustadz Abu Minhal Lc

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XXI/1438H/2017M.]
_______
Footnote
[1] Bahjatu Qulûbi al-Abrâr wa Qurratu ‘Uyûnil Akhyâr fî Syarhi Jamâwi’ Akhbâr hlm. 213.
[2] Al-I’tishâm 1/13-22 dengan diringkas.
[3] Al- I’tishâm 1/24.
[4] Bahjatu Qulûbi al-Abrâr wa Qurratu ‘Uyûnil Akhyâr fî Syarhi Jamâwi’ Akhbâr hlm. 214.

Diantara Sebab Meraih Harta Adalah Takwa Kepada Allah

Abu Fathan | 00:34 | 0 comments
Allâh Azza wa Jalla akan memberikan jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tidak diduga-duga bagi mereka yang bertakwa. Takwa adalah bersungguh-sungguh dalam mentaati Allâh Azza wa Jalla . Takwa terwujud ketika muncul dalam hati seseorang sikap mengagungkan, takut dan selalu merasa diawasi oleh Allâh Azza wa Jalla (murâqabah). Ini seperti yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:

التَّقْوَى هَهُنَا

Takwa itu ada di sini. Seraya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke dadanya tiga kali.[1]

Ada yang mengartikan takwa sebagai sesuatu yang menjadi tameng dari adzab Allâh Azza wa Jalla dengan amal shalih dan doa. Mengenai orang yang bertakwa, Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang beriman, yang takut terjatuh dalam perbuatan menyekutukan -Ku (Allâh Azza wa Jalla ), dan mereka mengamalkan ketaatan kepada-Ku.” Pernah Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu bertanya kepada Ubay bin Ka’b Radhiyallahu anhu tentang takwa. Ubay Radhiyallahu anhu berkata kepada Umar Radhiyallahu anhu , “ Bukankah engkau pernah meniti jalan yang beronak berduri?” Umar Radhiyallahu anhu menjawab, “Ya.” Ubay Radhiyallahu anhu berkata, “Lalu apa yang engkau lakukan?” Umar Radhiyallahu anhu berkata, “Aku berusaha sebisa mungkin (untuk menghindari duri).” Ubay melanjutkan, “Itulah takwa.”

Sungguh, takwa kepada Allâh Azza wa Jalla merupakan sebab untuk meraih rezeki dan harta, dari arah yang tidak disangka-sangka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat berikut kepada Abu Dzarr Radhiyallahu anhu :

يَا أَبَا ذَرٍّ، لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوا بِهَا لَكَفَتْهُمْ

Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzarr! Sekiranya manusia semuanya mengambil ketakwaan, pastilah itu sudah mencukupi mereka.”[2]

Artinya kalaulah semua manusia bisa merealisasikan takwa dan tawakkal, itu sudah mencukupi keperluan mereka untuk kepentingan akhirat dan dunia mereka. Barangsiapa mewujudkan takwa, Allâh Azza wa Jalla pun akan menjadikan jalan keluar dari setiap kegundahan dan kesempitan. Allâh Azza wa Jalla akan mengalirkan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak ia sangka, serta dimudahkan urusannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla , niscaya Allâh Azza wa Jalla menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. [Ath-Thalâq/ 65: 4]

Allâh Azza wa Jalla pun akan menjadi pelindung bagi mereka yang bertakwa, sehingga tak ada rasa takut dan rasa sedih yang mendera.

Di samping rezeki duniawi yang sifatnya fana, Allâh Azza wa Jalla pun akan memberinya balasan yang jauh lebih agung dari rezeki dunia, yaitu kenikmatan surga di akhirat. Ini sebagai balasan dan anugerah yang tak terhitung nilainya dari Allâh Azza wa Jalla Rabb semesta.

(Diangkat dari kitab Anta wal Mal karya Adnan ath-Tharsyah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2017M.]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim, kitab al-birr bab tahrîm zhulmil Muslim wa khadzlihi wa ‘htiqârihi.
[2] Musnad Ahmad, no 21443. Hamzah Ahmad Az-Zain berkata, “Isnadnya shahih”. (Namun Syaikh Albani menilainya dha’if, begitu pula dengan Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth).

Rekaman Berita

Abu Fathan | 23:18 | 0 comments
@ Warna-Warni Keslahan https://youtu.be/37YBwbjBnRQ?t=25
@ Mengobati Hati Yang Mati https://youtu.be/hLBrgva7j9Q?t=54
Indahnya Islam https://youtu.be/fvTJxqZXGkc?t=1042
@ Panduan Hidup Di Akhir Zaman https://youtu.be/8O6AHvUHIek?t=1045
@ Haruskah Bermazhab https://youtu.be/LH6x0sVPrKA?t=10
@ Aku Ingin Berubah https://youtu.be/A6LC0iIqX-c?t=6
@


Ceramah Singkat

@ Pengajian Berhadiah https://youtu.be/_f0nq6uwEjU?t=1
@ Hidup Di Dunia Buat Apa? https://youtu.be/URHsVKgsZG0
@ Umat Islam Seperti Buih di Lautan https://youtu.be/hvdRqXBzoXk?t=21















Lupa Ayat

Abu Fathan | 18:01 | 0 comments
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بِئْسَمَا لأَحَدِهِمْ يَقُولُ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ ، اسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ ، فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ بِعُقُلِهَا

Alangkah buruk salah seorang dari kalian mengatakan, “Aku lupa ayat ini dan ayat itu”. Sebab ia telah dilupakan. Maka, ingat-ingatlah Al-Qur`an. Hafalan Al-Qur`ân itu lebih mudah lepas dari hati orang-orang daripada seekor unta dari ikatannya”. [HR. Al-Bukhâri no.5032]

Dalam riwayat Imam Muslim, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّي

Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan, “Aku lupa ayat ini dan ayat itu”. Sebab ia telah dilupakan. [HR. Muslim no.790]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan demikian pula kepada umat Islam. Beliau tidak mengatakan, “Aku lupa”, namun mengucapkan, “Aku dilupakan”.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَمِعُ قِرَاءَةَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ ، فَقَالَ : رَحِمَهُ اللَّهُ ، لَقَدْ أَذْكَرَنِي آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengarkan bacaan (al-Qur`an) seorang lelaki di dalam masjid. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allâh merahmatinya. Sungguh, ia telah mengingatkanku satu ayat yang sebelumnya aku dilupakan (untuk mengingat)nya”. [HR. Al-Bukhâri no.4751dan Muslim no.788]

Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn rahimahullah telah menjelaskan hukum orang yang lupa ayat atau surat setelah ia menghafalnya. Beliau rahimahullah menguraikan dalam Kitâbul ‘Ilmi (hlm. 96-97), “Lupa terhadap hafalan al-Qur`ân ada dua macam. Pertama, lupa yang manusiawi. Kedua, lupa karena berpaling dari al-Qur`ân dan tidak mempedulikannya. Tentang sebab pertama, orang tidak berdosa karenanya dan tidak mendapatkan hukuman. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengalaminya ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat orang-orang dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lupa suatu ayat. Selesai shalat, Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu mengingatkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Mengapa engkau tidak mengingatkanku ayat tersebut tadi?” Dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang membaca (al-Qur`an), lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allâh merahmati si Fulan. Sesungguhnya ia telah mengingatkanku ayat yang aku dilupakan untuk mengingatnya”.

Ini menunjukkan bahwa lupa yang bersumber dari tabiat manusia, tidak ada celaan bila seseorang mengalaminya. Adapun lupa akibat berpaling dan tidak peduli, pelakunya bisa saja telah melakukan dosa karenanya.


Pembaca
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA SUNNAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger