{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)

Rekaman Berita

Abu Fathan | 23:18 | 0 comments
@ Warna-Warni Keslahan https://youtu.be/37YBwbjBnRQ?t=25
@ Mengobati Hati Yang Mati https://youtu.be/hLBrgva7j9Q?t=54
Indahnya Islam https://youtu.be/fvTJxqZXGkc?t=1042
@ Panduan Hidup Di Akhir Zaman https://youtu.be/8O6AHvUHIek?t=1045
@ Haruskah Bermazhab https://youtu.be/LH6x0sVPrKA?t=10
@ Aku Ingin Berubah https://youtu.be/A6LC0iIqX-c?t=6
@


Ceramah Singkat

@ Pengajian Berhadiah https://youtu.be/_f0nq6uwEjU?t=1
@ Hidup Di Dunia Buat Apa? https://youtu.be/URHsVKgsZG0
@ Umat Islam Seperti Buih di Lautan https://youtu.be/hvdRqXBzoXk?t=21















Lupa Ayat

Abu Fathan | 18:01 | 0 comments
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بِئْسَمَا لأَحَدِهِمْ يَقُولُ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ ، اسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ ، فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ بِعُقُلِهَا

Alangkah buruk salah seorang dari kalian mengatakan, “Aku lupa ayat ini dan ayat itu”. Sebab ia telah dilupakan. Maka, ingat-ingatlah Al-Qur`an. Hafalan Al-Qur`ân itu lebih mudah lepas dari hati orang-orang daripada seekor unta dari ikatannya”. [HR. Al-Bukhâri no.5032]

Dalam riwayat Imam Muslim, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّي

Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan, “Aku lupa ayat ini dan ayat itu”. Sebab ia telah dilupakan. [HR. Muslim no.790]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan demikian pula kepada umat Islam. Beliau tidak mengatakan, “Aku lupa”, namun mengucapkan, “Aku dilupakan”.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَمِعُ قِرَاءَةَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ ، فَقَالَ : رَحِمَهُ اللَّهُ ، لَقَدْ أَذْكَرَنِي آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengarkan bacaan (al-Qur`an) seorang lelaki di dalam masjid. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allâh merahmatinya. Sungguh, ia telah mengingatkanku satu ayat yang sebelumnya aku dilupakan (untuk mengingat)nya”. [HR. Al-Bukhâri no.4751dan Muslim no.788]

Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn rahimahullah telah menjelaskan hukum orang yang lupa ayat atau surat setelah ia menghafalnya. Beliau rahimahullah menguraikan dalam Kitâbul ‘Ilmi (hlm. 96-97), “Lupa terhadap hafalan al-Qur`ân ada dua macam. Pertama, lupa yang manusiawi. Kedua, lupa karena berpaling dari al-Qur`ân dan tidak mempedulikannya. Tentang sebab pertama, orang tidak berdosa karenanya dan tidak mendapatkan hukuman. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengalaminya ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat orang-orang dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lupa suatu ayat. Selesai shalat, Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu mengingatkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Mengapa engkau tidak mengingatkanku ayat tersebut tadi?” Dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang membaca (al-Qur`an), lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allâh merahmati si Fulan. Sesungguhnya ia telah mengingatkanku ayat yang aku dilupakan untuk mengingatnya”.

Ini menunjukkan bahwa lupa yang bersumber dari tabiat manusia, tidak ada celaan bila seseorang mengalaminya. Adapun lupa akibat berpaling dan tidak peduli, pelakunya bisa saja telah melakukan dosa karenanya.


Pembaca

Ringkasan ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH

Abu Fathan | 00:07 | 0 comments
🎙 Syaikh Prof. DR. Ibrahim bin Amir bin Ali Ar Ruhaily hafidzahullah
(ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH)
🕌 Masjid Agung Karang Anyar
Faedah :
1. Setelah syaikh memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ﷺ, beliau mengucapkan rasa Syukur dan terimakasih kepada seluruh pihak yang menjadi sebab terselenggaranya acara Muhadhoroh kali ini
2. Tema yang dibawa pada Muhadhoroh kali ini adalah ISTIQOMAH DI ATAS SUNNAH RASUL ﷺ dan hal ini adalah perkara yang besar
3. Setiap muslim berusaha dan berdoa di dalam keadaan apapun untuk memohon keistiqomahan, karena orang yang Istiqomah adalah orang yang istimewa di sisi Allah subhanahu wata'ala
4. Ada 7 Bab yang (Insyaa Allah) akan di bahas :
- Ketetapan di atas sunah di dalam berdalil
- Ketetapan di atas sunah di dalam beraqidah
- Ketetapan di atas sunah di dalam beribadah
- Ketetapan di atas sunah di dalam beradab dan berakhlaq
- Ketetapan di atas sunah di saat terjadi perselisihan
- Ketetapan di atas sunah di dalam dakwah di jalan Allah
- Ketetapan di atas sunah di dalam dalam Amar maruf nahi munkar
5. Ketetapan di atas sunah di dalam berdalil
Adalah prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim, dan merupakan pokok dari pembahasan berikutnya
Ada 3 Pokok Dalil Syar'i:
1. Al Qur'an
2. Sunnah Nabi ﷺ
3. Ijma para ulama
Dan 4 Imam madzhab
Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi'i dan Imam Ahmad, telah bersepakat bahwa berdalil tidak keluar dari 3 hal ini
1) Berdalil dengan Al Qur'an
2) Berdalil dengan Sunnah Nabi ﷺ
3) Berdalil dengan Ijma
Setiap Ijma Yang Shahih PASTI berlandaskan dalil yang Shahih
6. Ketika berdalil harus dikembalikan dengan pemahaman Salafu As Shalih Mereka adalah Shahabat, Tabi'in dan Tabiut'tabi'in
Ketika ingin berdalil dengan ayat, Hadits maka berdalillah dengan pemahaman para Salafus Sholih, merekalah yang lebih faham dari dali dan lebih selamat
7. Syaikh Ibnu Taimiyah menjelaskan :
Orang yang menyimpang bersumber 2 hal :
1) Dia berdalil dengan sesuatu yang bukan dalil
2) Dia salah dalam memahami dalil
Maka jika ingin selamat dari hal tersebut maka seseorang harus :
1) Berdalil dengan Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ
2) Memahami dalil dengan pemahaman Salaf
8. Wajibnya kembali pada pemahaman salaf, ketika ingin membaca ayat dan hadits akan Di temui adanya perbedahan dari para Ulama Salaf
Karena perbedaan diantara Ulama itu berbeda :
1) Perbedaan tanawu' ( perbedaan secara redaksi/ungkapan)
2) Perbedaan yang saling bertolak belakang
9. Ketika mendapati perbedaan Tanawu'
Kata Syaikh Ibnu Taimiyah dalam Muqadimah tafsirnya mengatakan :
Perbedaan tersebut hanya sebagai contoh
Seperti pada contoh ayat :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Para Ulama berbeda dalam tafsir , ada yang berpendapat Qur'an, Islam dab Jalan Nabi ﷺ
Namun penafsiran itu intinya sama (hanya perbedaan redaksi saja)
Orang orang yang membawa kebenaran dan mengikuti kebenaran
Di tafsirkan :
1) membawa kebenaran ; Nabi, yang Mengikuti = kaum Muslim
2) Membawa kebenaran = Rasulullah ﷺ, yang mengikuti = Abu Bakr
3) Membawa kebenaran = Para Dai, yang mengikuti = Adalah yang menerima ajaran dai tersebut
11. Perbedaan yang salung bertolak belakang
Harus kita pilih pendapat yang Benar
Dalam masalah Aqidah
Ayat tentang Dosa Syirk
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48).
Para Ulama berpendapat tentang Syirk :
1) Syirk Akbar Saja
2) Syirk Akbar dan Ashgar
Dalam Masalah Wudhu
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْلَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); ...” (QS. Al Ma-idah: 6)
Para ulama berpendapat :
1) Memegang = Jima
2) Memegang dengan tangan
Maka dalam kondisi seperti ini kita mengambil kepada pendapat yang Kuat
1) Seorang Ulama memiliki kemampuan dalam menelaah dalil dalil, sehingga bisa mengambil salah satu pendapat
2) Adapun bagi penuntut ilmu cukup dengan mengikuti Ulama tersebut
12. ISTIQOMAH DALAM BERAKIDAH
A) Kita meyakini akidah yang Benar
Yaitu meyakini rukun iman
Yang semuanya harus dilandaskan dengan Dalil
Contoh : iman kepada Allah itu mencakup 3 Tauhid :
1) Tauhid rububiyah
2) Tauhid Uluhiyah
3) Tauhid Asma wa shifat
3 jenis tauhid banyak dalil dalam Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ
B) Berlepas diri dari keyakinan yang yang menyimpang
Seperti :
- Kesyirikan, Bidah, penafian shifat Allah, Penyerupaan Shifat Allah,
- Pemahaman Murjiah dan Khawarij
- Pemahaman Qodariyah dan Jabriyah
- Pemahaman yang terlalu GHULUW pada Shahabat Nabi ﷺ dan pemahaman yang Menghina shahabat Nabi ﷺ
14. Tugas inti para Rasul adalah menyeru untuk beribadah kepada Allah (berpegang kebenaran) dan Menjauhi Kebatilab
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ}
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut ” (QS. An Nahl:36)
15. ISTIQOMAH DALAM BERIBADAH
Yaitu seseorang memenuhi 2 Hal :
1) Dia beribadah dengan Ibadah yang di Syariatkan oleh Allah dan Rasul ﷺ
2) Menjalankan ibadah dengan tatacara yang diajarkan Rasul ﷺ
عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللهُ عَنْهَا - قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : (مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ) رواه البُخارِيُّ وَ مُسلِمٌ، وفي رواية لـمُسلِمٍ (مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ).
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang membuat-buat hal yang baru dalam urusan kami (ibadah) yang tidak ada dasarnya dari agama maka perbuatan itu tertolak. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak memiliki dasar dalam agama kami maka amal itu tertolak.
16. Bidah hakiki adalah orang membuat ibadah yang baru seperti orang membuat "Sholat Baru yang tidak di Syariatkan"
17. Seorang beribadah harus sesuai dg apa yang diajarkan Nabi ﷺ
Berdasar dalil
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Shalatlah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Shalat
Dan juga dalil
خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى أَنْ لاَ أَحُجَّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ
“Ambillah dariku manasik-manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, mungkin saja aku tidak berhaji setelah hajiku ini”.(HR. Muslim).
18. Seorang yang sholat cepat (tidak tumaninah) tidak sesuai dengan Ajaran Nabi ﷺ, dan Sholatnya tidak Sah
“Suatu ketika ada seseorang yang masuk masjid kemudian shalat dua rakaat. Seusai shalat, orang ini menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu berada di masjid. Ternyata Nabi menyuruh orang ini untuk mengulangi shalatnya. Setelah diulangi, orang ini balik lagi, dan disuruh mengulangi shalatnya lagi. Ini berlangsung sampai 3 kali. kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya cara shalat yang benar. Ternyata masalah utama yang menyebabkan shalatnya dinilai batal adalah kareka dia tidak tumakninah. Dia bergerak rukuk dan sujud terlalu cepat.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan yang lainnya)
19. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH DALAM MUAMALAH DAN BER AKHLAQ
1) Berakhlaq dengan kaum muslin
2) Berakhlaq dengan selain Muslim
Kedua jenis muamalah ini diatur dalam Agama Islam (dan di bedakan)
20. Ahlussunnah bersikap bahwa muslim memiliki hak khusus, dan Orang Kafir juga memiliki haq yang berbeda
21. Hak seorang Muslim :
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذاَ مَاتَ فَاتْـبَعْهُ
“Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam:
1. Jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam,
2. Jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya,
3. Jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat,
4. Jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’,
5.Jika ia sakit maka jenguklah
6. Dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)
22. Hak Orang Kafir
Wajib membenci orang kafir tetapi TIDAK BOLEH MENDHOLIMI MEREKA
Rasulullah ﷺ mengajari cara menjawab salam dari orang kafir
إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ
“Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)
23. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH KETIKA TERJADI PERSELISIHAN
Perselisihan adalah salah satu sunnatullah yang terjadi dari dulu hingga sekarang
24. Sikap yang benar ketika menghadapi Perbedaan ada 2 :
1) Berusaha mencari Kebenaran dan berpegang dengan kebenaran tersebut
2) Mensikapi orang yang berselisih dengan kita adalah dengan cara menjelaskan dengan kelembutan
Dan Tetaplah menjaga hubungan baik dengan orang yang berselisih dengan kita, dengan tidak mudah memberikan label ahlul bidah/orang fasik dan hal hal lain yang bisa menyakiti hati mereka
25. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH DALAM BERDAKWAH DI JALAN ALLAH
Tujuan dari Dakwah ada 3 :
1) Menegakkan Hujjah (menjelaskan dalil) pada umat manusia, sehingga faham terhadap Agama
2) Mengharapkan manusia mendapatkan Hidayah
رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberiperingatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnyaperingatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 165)
3) Melepaskan tanggung jawab di hadapan Allah
26. Saran dalam dakwah adalah mengikuti jalan yang Allah tunjukan yaitu dengan hikmah, mendebat dengan cara yang baik
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nahl/16:125]
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka.” [al-Ankabût/29:46]
27. Bersabarlah ketika berdakwah dijalan Allah seperti sabarnya para ulul azmi
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Qs. Al Ahqaaf [46] : 35)
28. ISTIQOMAH DIATAS SUNNAH DALAM AMAR MARUF NAHI MUNKAR
Yaitu ketika memenuhi 2 Hal :
1) Mengilmui mana yang maruf dan mana yang munkar
MARUF : Adalah yang di jelaskan dalam Syariat bahwa itu BAIK
MUNKAR : Adalah yang di jelaskan dalam Syariat bahwa itu SALAH/KEBURUKAN
2) Melakukannya dengan cara yang Benar
Dijelaskan dalam hadits Nabi ﷺ :
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْـخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنَ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْـمَـانِ».
Dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.’”
29. Melihat kemungkaran bisa dengan Mata bisa juga dengan ilmu (mengetahui dengan informasi)
30. Yang boleh merubah kemungkaran dengan "tangannya" adalah :
1) Pemerintah
2) Ayah dirumahnya
31. Tidak mampu adalah dari pandangan Syariat, yakni ketika dia menginkari dengan tangannya justru akan menimbulkan kemunkaran yang lebih Berat
Maka ingkari dengan Lisan : yaitu dengan Nashihat
Kadang Nabi ﷺ mengingkari dengan Berpaling muka, senyum, nashihat
31. Nabi ﷺ memerintahkan untuk "MERUBAH" bukan memusnahkan, sehingga jangan sampai kita ekstrim dengan kemungkaran dan juga jangam sampai kita "Tidak Peduli" dari kemungkaran
📝 Di Ringkas Oleh Abu Shafiyyah

love message Pembaca

Khianat Dosa Besar Tanda Hari Kiamat

Abu Fathan | 17:52 | 0 comments
Diantara tanda hari kiamat adalah tersebarnya perbuatan khianat. Sekarang, lihatlah bagaimana perbuatan khianat dengan berbagai bentuknya sudah terjadi di banyak tempat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالتَّفَاحُشُ، وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ، وَسُوءُ الْمُجَاوَرَةِ، وَحَتَّى يُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ وَيُخَوَّنَ الْأَمِينُ

Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul perkataan keji, kebiasaan berkata keji, memutuskan kerabat, keburukan bertetangga, dan sehingga orang yang khianat diberi amanah (kepercayaan) sedangkan orang yang amanah dianggap berkhianat. [HR. Ahmad, no. 6514, dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dan Syaikh Syu’aib al-Arnauth rahimahullah]

MAKNA KHIANAT

Khianat adalah lawan dari amanah. Kalau amanah berarti melaksanakan kewajiban yang sudah disanggupi, maka khianat adalah kebalikannya. Yaitu: berlaku curang atau mengurangi, atau membatalkan kewajiban.

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Khianat adalah menyia-nyiakan amanah. Ada yang mengatakan, khianat adalah menyelisihi kebenaran dengan membatalkan perjanjian secara rahasia.” [At-Tauqîf, hlm. 162]

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Khianat adalah curang dan menyembunyikan sesuatu.” [Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, 7/395]

Al-Jâhizh berkata, “Khianat adalah melanggar sesuatu yang diamanahkan orang kepadanya, berupa harta, kehormatan, kemuliaan, dan mengambil milik orang yang dititipkan dan mengingkari orang yang menitipkan. Termasuk khianat juga tidak menyebarkan berita yang dianjurkan disebarkan, merubah surat-surat (tulisan-tulisan) jika dia mengurusinya dan merubahnya dari maksud-maksudnya”. [Tahdzîbul Akhlâq, hlm. 31]

Lihat makna-makna di atas dalam kitab Nadhratun Na’îm fi Akhlâqir Rasûl al-Karîm, 10/4483

HUKUM KHIANAT

Para Ulama telah memasukkan perbuatan khianat ke dalam daftar dosa-dosa besar.

Imam Dzahabi rahimahullah memasukkan perbuatan khianat ke dalam dosa-dosa besar yang ke-39 di dalam kitabnya, al-Kabâir, walaupun perbuatan khianat itu juga bertingkat-tingkat dosanya.

Imam Dzahabi t berkata, “Khianat merupakan perbuatan keji dalam segala sesuatu, tetapi sebagiannya lebih buruk dari yang lain. Orang yang berkhianat kepadamu dalam hal uang, tidak seperti orang yang berkhianat kepadamu dalam keluargamu, hartamu, dan melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang sangat besar.” [Al-Kabâ-ir, hlm. 149]

Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata, “Dosa Besar ke-240 yaitu khianat dalam amanat, seperti barang titipan, barang yang digadaikan, barang yang disewakan, dan lainnya”. [Az-Zawâjir ‘an Iqtirâfil Kabâ-ir, hlm. 442]

BAHAYA-BAHAYA KHIANAT

Bahaya-bahaya khianat banyak sekali di antaranya:

1. Khianat adalah salah satu sifat orang munafik

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ “

Dari Abu Hurairah z , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga yaitu apabila bercerita dia berdusta, apabila berjanji dia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat”. [HR. Al-Bukhâri, no. 33, 2682, 2749, 6095 dan Muslim, no. 59]

2. Orang yang khianat tidak memiliki iman

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: مَا خَطَبَنَا نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَالَ: ” لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ “

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkhutbah kepada kami, melainkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya”. [HR. Ahmad, no. 12383, 12567, 13199; Ibnu Hibban, no. 194. Hadits ini dihukumi hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrîj Musnad Ahmad; dan dan dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahîh Jâmi’ush Shaghîr, no. 7179]

3. Orang yang khianat adalah calon penduduk neraka

Ketika menjelaskan calon-calon penghuni neraka, antara lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْخَائِنُ الَّذِي لَا يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ، وَإِنْ دَقَّ إِلَّا خَانَهُ

Pengkhianat, orang yang tidak samar sifat tamaknya, walaupun sesuatu yang kecil dia selalu berbuat khianat. [HR. Muslim, no. 2865, dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujaasi’iy]

MACAM-MACAM KHIANAT

Khianat bisa berkaitan dengan hak Allâh Azza wa Jalla , karena sesungguhnya menjalankan kewajiban-kewajiban agama merupakan amanah bagi hamba dari Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan semuanya khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. [Al-Ahzâb/33:72]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh Subhanahbu wa Ta’ala mengagungkan urusan amanah yang Allâh Subhanahbu wa Ta’ala wajibkan amanah itu kepada para mukallaf, amanah itu adalah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, dalam keadaan rahasia dan tersembunyi seperti keadaan terang-terangan.” (Tafsir as-Sa’di, surat Al-Ahzâb/33: 72)

Dengan demikian, meninggalkan perintah Allâh Subhanahbu wa Ta’ala dan melanggar larangan-Nya merupakan bentuk khianat terhadap amanah dari Allâh Subhanahbu wa Ta’ala .

Khianat juga bisa berkaitan dengan urusan manusia. Sebagaimana penjelasan al-Jâhizh di atas yang mengatakan, “Khianat adalah melanggar sesuatu yang diamanahkan orang kepadanya, berupa harta, kehormatan, kemuliaan, dan mengambil milik orang yang dititipkan dan mengingkari orang yang menitipkan. Termasuk khianat juga tidak menyebarkan berita yang dianjurkan disebarkan, merubah surat-surat (tulisan-tulisan) jika dia mengurusinya dan merubahnya dari maksud-maksudnya”. [Tahdzîbul Akhlâq, hlm. 31]

Dengan tersebarnya khianat dengan berbagai bentuknya di zaman ini, maka seharusnya manusia segera bertaubat kepada Allâh yang Maha Kuasa, sebelum datangnya hukuman dari-Nya.

Wahai Allâh ampunilah dosa-dosa kami dengan ampunan dan kelembutan-Mu.

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1438H/2016M.]

Ringkasan Kajian Tauhid Jalan Meraih Kebahagian & Kejayaan Oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily

Abu Fathan | 23:55 | 0 comments
Istiqlal, 19 Rabiuts Tsani 1438 H / 7 Januari 2018

1. Tauhid merupakan kunci kebahagiaan dan kejayaan. Tauhid merupakan tema yang sangat agung . Tauhid menurut bahasa berarti menjadikan sesuatu itu satu. Tauhid itu menjadikan Alloh azza wa jalla satu dalam zat-Nya, dalam beribadah kepada-Nya.

2. Tauhid ada tiga
a. Tauhid Rububiyah
Mengesakan perbuatan-perbuatan hanya untuk Alloh yaitu menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mengatur alam semesta.

b. Mengesakan Alloh dalam nama dan sifat-sifat-Nya
Meyakini bahwa Alloh tidak ada sekutu dalam nama dan sifat-sifat-Nya, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Pengampun dan seterusnya.
Wajib bagi muslim untuk mengimani-Nya. Tidak ada yang sama dengan Alloh Subhanahu wa ta'ala.
Mengesakan Alloh Subhanahu wa ta'ala dalam sifat-sifat-Nya. Meyakini Alloh dalam sifat-sifat-Nya seperti hikmah Alloh, Keagungan Alloh, Kaki Alloh, dua tangan Alloh, Istiwa' Alloh, turun-Nya Alloh dan seterusnya.

c. Uluhiyah: Mengesakan Alloh sebagai Illah dalam bentuk ibadah, rasa takut, harap hanya kepada Alloh.
Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya. Wajib bagi kita beribadah kepada Alloh.

3. Kebahagiaan menurut bahasa adalah ketenangan jiwa dan hati. Kebahagiaan terbesar seorang hamba adalah ketika dimasukkan ke dalam surga selamanya.

4. Malaikat Jibril disebut Alloh sebagai ruh, karena menurunkan wahyu bagi manusia sehingga hati menjadi hidup.

5. Kebahagiaan hati seorang hamba adalah dengan beribadah kepada Alloh. Dengan beribadah, hati menjadi tenang. Tenangnya hati karena berzikir kepada Alloh.

6. Dengan tauhid seorang hamba menjadi bahagia. Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan di akhirat yang diberikan kepada orang yang bertakwa.

7. Kebahagiaan seorang hamba di akhirat adalah ketika dimasukkan ke dalam surga. Tidak ada lagi rasa takut dan sedih. Sebesar-besarnya nikmat penghuni surga adalah melihat wajah Alloh. Manusia hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

8. Kejayaan bagi ahli tauhid adalah sesuatu yang nyata. Kejayaan dibagi dua yaitu kejayaan di dunia dan di akhirat. Kejayaan yang diberikan Alloh contohnya yang diberikan kepada Nabi Musa dan pengikutnya dan kekalahan bagi Firaun dan pengikutnya. Contoh lain adalah kejayaan yang diberikan kepada Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam untuk mengalahkan orang Yahudi dan Quraisy. Alloh akan selalu memberi kemenangan bagi orang yang bertauhid.

9. Kejayaan yang diberikan Alloh di akhirat lebih agung dari pada kejayaan yang diberikan Alloh di dunia. Alloh memmasukkan para ahli tauhid, para wali Alloh ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya.

10. Orang yang bertauhid dengan sebenar-benarnya akan diberikan oleh Alloh kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan di akhirat.

11. Cara mewujudkan tauhid dalam diri kita adalah dengan mewujudkan dua dasar penting :
- Beribadah kepada Alloh dengan hati, hanya takut, berharap, tawakal dan bernazar kepada Alloh. Tidak boleh beribadah kepada malaikat, Nabi, para wali, dan orang sholeh.
- Berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan. Dulu kaum Quraiy beribadah kepada Alloh tapi mereka tidak berlepas diri dari kesyirikan. Maka selain beribadah kepada Alloh, wajib bagi diri kita berlepas diri dari kesyirikan.

12. Kebutuhan anak-anak akan tauhid jauh lebih besar dari pada kebutuhan akan makan, minum dan pakaian. Perhatian orang tua terkait tauhid juga hendaknya lebih besar dari pada perhatian terhadap makan, minum dan pakaian anak mereka. Ajarilah anak untuk beribadah, meminta, memohon pertolongan hanya kepada Alloh. Jagalah Alloh niscaya Alloh akan menjagamu.

Sesi tanya jawab
1. Bagaimana cara menanamkan tauhid dalam keluarga dan tips menciptakan keluarga yang sesuai dengan sunnah?

Keluarga yang baik diawali dengan memilih pasangan yang baik agamanya. Suami wajib mendidik istrinya di atas agama yang benar. Perlu kerjasama yang baik antara suami dan istri.

2. Bagaimana cara tawasul yang benar?

Tawasul secara bahasa adalah mendekatkan diri. Secara syariat adalah mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara yang disyariatkan oleh Alloh.
Tawasul terbagi menjadi :
- Tawasul dengan menyebut nama Alloh
- Tawasul dengan amalan ibadah kepada Alloh
- Tawasul dengan doa orang sholeh yang masih hidup
- Tawasul dengan minta langsung kepada Alloh
Tidak termasuk tawasul adalah meminta kepada orang yang sudah mati.

3. Bagaimana cara memahami bersemayamnya Alloh di atas arsy?

Seorang muslim wajib meyakini istiwa'nya Alloh. Istiwa' telah diketahui maknanya, tapi tidak diketahui tata cara dan wujudnya dan bertanya tentang tata cara dan wujudnya adalah bid'ah. Istiwa'nya Alloh berbeda dengan istiwa'nya mahluk. Kita tidak boleh mentakwil makna istiwa'

4. Bagaimana kiat agar istiqomah bertauhid sampai akhir hayat?

Sebab agar bisa istiqomah sampai akhir hayat :
- Tawakal dan berserah diri kepada Alloh, berdoa agar ditetapkan hati hanya kepada Alloh
- Berdoa di setiap waktu kepada Alloh agar selalu diberi ketetapan iman dan islam kita.
- Istiqomah dan senantiasa beribadah kepada Alloh
- Menuntut ilmu agar dijaga dari syubhat dan kerancuan
- Menahan pandangan dari segala sesuatu yang diharamkan

5. Bagaimana cara mengajarkan tauhid kepada anak yang masih kecil?

Ajarkan untuk selalu memuji Alloh, mencintai Alloh, melebihi cinta kepada siapapun. Kita harus menjadi teladan bagi mereka. Ajarkan matan-matan ringkas kepada mereka, sehingga bisa menangkis syubhat-syubhat terkait tauhid.

Nasihat penutup

Pentingnya perhatian kepada tauhid dan sunnah karena banyaknya mereka jatuh kepada kesyirikan karena kebodohan mereka. Ajarkanlah tauhid dan sunnah bagaimana beribadah yang baik dan benar.

Selesai Diringkas oleh Abu Abdul Hafiizh

Menjadikan Agama Sebagai Bahan Gurauan

Abu Fathan | 16:25 | 0 comments
Oleh Prof. Dr Abdur Razzaq al-Abbad

Islam merupakan agama agung, yang dibangun di atas pondasi pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla , pengagungan terhadap syariat-Nya dan Rasul-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allâh). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allâh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati [Al-Hajj/ 22: 32]

Apabila pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla di dalam hati seseorang menguat, maka ia akan tunduk, patuh, berserah diri dan taat. Namun apabila pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla hilang dari hati seorang hamba, maka ia akan membangkang kepada agama ini, bahkan ia akan berubah menjadi seseorang yang suka mencibir, mencela, dan menghinakan (agama ini). Dengan ini, tersingkap sudah penyebab hilangnya rasa hormat dari sebagian orang terhadap agama ini.

Sungguh, kita tidak pernah membayangkan akan adanya seseorang di negeri Islam yang berani menulis perkataan yang mengandung penghinaan terhadap Allâh Azza wa Jalla , atau celaan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataupun penistaan terhadap sebagian dari syariat Allâh Azza wa Jalla . Akan tetapi, jika pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla telah sirna dari hati seseorang, ia tak segan lagi untuk melakukan hal-hal yang sangat aneh dan tidak masuk akal tersebut. Sebab, kebaikan dan keselamatan seseorang tergantung dari kebaikan dan kesucian hatinya. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam hati itu terdapat segumpal daging. Bila ia baik, maka akan baik pula seluruh tubuhnya. Namun bila segumpal daging ini rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itu adalah hati.[1]

Sesungguhnya menjadikan Allâh Azza wa Jalla , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , atau sebagian dari syariat Islam dan hukum-hukumnya sebagai bahan senda gurau, merupakan bentuk kemurtadan dari Islam, dan bentuk kejahatan keji serta musibah besar yang tidak akan dilakukan oleh hati yang beriman. Karena penistaan terhadap agama merupakan bukti kekufuran dan hilangnya keimanan orang yang melakukannya.

Maka barangsiapa yang berani mencela –walau sedikit-:
nama-nama Allâh yang maha indah
sifat-sifat-Nya yang maha mulia
perbuatan-perbuatan-Nya yang penuh keagungan, atau
mencela sebagian ayat-Nya, seperti orang yang mencela satu surat atau ayat dalam al-Quran, atau
mencela Rasul-Nya n , sifat-sifat, akhlaq, dan sunnah-sunnahnya, atau
mencela sebagian dari syariat yang dibawanya; seperti mencela shalat, haji dan puasa, atau mencela perintah maupun larangan dalam syariat Islam, seperti mencela pengharaman riba, zina, minuman keras dan lainnya, atau mencela hal-hal yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan berupa balasan dari amalan-amalan hamba di dunia, seperti surga dan neraka serta balasan-balasan yang lainya.

Maka semua bentuk celaan dan penistaan tersebut merupakan kekufuran kepada Allâh dan membatalkan keislaman seseorang. Ini berdasarkan firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ﴿٦٥﴾ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allâh, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [At-Taubah/ 9: 65-66].

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang artinya “kalian telah kafir setelah beriman” maknanya adalah: bahwa orang-orang yang mengatakan perkataan tersebut (yang mengandung penistaan terhadap agama), mereka telah kafir disebabkan perkataan tersebut, setelah sebelumnya mereka termasuk orang-orang yang beriman. Ini Allâh tunjukkan dalam firman-Nya yang artinya: “kalian telah kafir setelah beriman” yaitu telah kafir dikarenakan senda gurau kalian terhadap Allâh dan Rasul-Nya.

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan dalam kitab Tafsirnya sebuah riwayat yang di sandarkan kebada Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu beliau berkata: Pada suatu perbincangan di saat perang tabuk, ada seseorang yang berkata, “Kami tidak pernah melihat orang yang seperti mereka para pembaca al-Quran kami, mereka orang yang paling rakus perutnya, paling pendusta serta paling pengecut ketika bertemu dengan musuh!” Maka berkatalah salah seorang yang berada di majlis tersebut, “Engkau berdusta, bahkan engkau adalah orang yang munafiq! Sungguh akan aku kabarkan hal ini kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” Maka pergilah orang ini kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaporkan kejadian tersebut, namun ia mendapati bahwa Allâh Azza wa Jalla telah menurunkan ayat al-Quran kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan hal tersebut. Kemudian datanglah orang tersebut kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta maaf atas perbuatannya. Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu berkata : “Aku melihat orang tersebut bergelantungan pada tali pengikat pelana unta Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sembari berkata, “Sungguh, kami hanyalah bermain-main dan bersenda gurau belaka.” Sedangkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ﴿٦٥﴾ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ 

“Apakan dengan Allâh, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian bersendau gurau? Janganlah kalian beralasan, kalian telah kafir setelah beriman!”

Dalam firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Janganlah kalian beralasan, sungguh kalian telah kafir setelah beriman” terdapat dalil bahwa orang yang mengucapkan perkataan tersebut sebelumnya adalah orang yang beriman, namun ia berubah menjadi kafir (murtad) disebabkan perkataannya tersebut. Hal ini menjelaskan kepada kita maksud dari sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tertera dalam shahîh al-Bukhârî dan lainnya, yaitu sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allâh sedangkan ia memandangnya suatu hal yang sepele, namun dikarenakan hal tersebut ia terperosok di neraka Jahannam. [HR. Al-Bukhârî]

Dan dengan adanya virus seperti ini, serta munculnya berbagai macam perkataan yang mengandung penghinaan terhadap agama, yang ditulis oleh orang-orang yang mereka itu anak bangsa kita, anak-anak kaum Muslimin, yang hidup dan tumbuh di lingkungan Islam; maka semakin besar tanggung jawab dan kewajiban kita untuk menjaga anak-anak kita. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. [At-Tahrîm/ 66: 6]

Sungguh ini adalah bahaya besar yang menyerang anak-anak kaum Muslimin dari berbagai penjuru melalui berbagai media yang terbuka lebar, sehingga mendatangkan musibah besar dan keburukan yang begitu parah tersebar di sekitar kita.

Seorang anak yang lemah ilmu dan akidahnya, ketika duduk di hadapan chanel-chanel parabola (atau televisi) yang penuh dengan racun, serta berbagai website internet yang penuh dengan virus pikiran yang membahayakan, dia akan membaca dan mendengarkan dari berbagai media, kemudian terjadilah pembangkangan dan kerusakan pada kaum Muslimin. Dan hal ini menuntut kita semua untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga diri kita serta putra-putri kita dengan membentengi mereka melalui akidah yang lurus, keimanan yang kokoh dan juga memperkuat hubungan dengan Allâh Azza wa Jalla.

Kita juga memperingatkan mereka dari website-website dan chanel-chanel yang menyebarkan berbagai virus, hal-hal yang melanggar susila, kekufuran dan berbagai penyimpangan pemikiran dalam aqidah. Demikian juga wajib bagi kita untuk selalu bertakwa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala terhadap diri kita, keluarga dan anak-anak kita, serta bersungguh-sungguh dalam memelihara dan menjaga mereka agar terhindar dari penyakit-penyakit dan musibah yang besar tersebut. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Isrâ’ / 17: 36]

Dan barang siapa yang selalu mengingat bahwa ia akan berdiri di hadapan Allâh Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas pendengaran, penglihatan dan hatinya, maka hal itu akan menjadikan ia berhati-hati dalam menjaganya serta menjauhkannya dari semua yang dimurkai oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Karena sesungguhnya panca indra yang berupa pendengaran, penglihatan dan lainnya memiliki keburukan-keburukan, dan jalan untuk selamat darinya adalah dengan selalu merasa takut kepada Allâh dan kembali kepada-Nya serta melakukan usaha-usaha yang bisa menghindarkan dari semua yang dapat menuai murka Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dan Allâh Dialah Sang Penjaga para hamba-Nya dan Pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, hanya Dia semata; tidak ada sekutu baginya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1438H/2016M. ]
_______
Footnote
[1] HR. Al-Bukhâri no 52, Muslim no 1599 dari An-Nu’mân Bin Basyîr Radhiyallahu anhu.


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA SUNNAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger