PENGARUH KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN PRIBADI
  1. Kejujuran Itu Melahirkan Ketakwaan Di Dalam Hati, Mendatangkan Maghfirah (Ampunan) Juga Membuahkan Pahala Yang Besar.
Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin untuk senantiasa berprilaku jujur dan Allâh juga memuji kaum Muslimin yang konsisten dengan kejujuran. Allâh Azza wa Jalla berfriman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur [At-Taubah/9:119]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allâh, Allâh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al-Ahzâb/33:35]
Allâh Azza wa Jallajuga berfirman:
فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ
Tetapi jikalau mereka benar atau jujur  (imannya) terhadap Allâh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka [Muhammad/47:21]
Dalam ayat pertama di atas, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman  agar selalu berteman dengan orang-orang yang jujur. Sebelumnya, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan perintah agar mereka senantiasa bertakwa. Dari sini bisa difahami bahwa kejujuran  itu bisa melahirkan ketakwaan dalam diri seseorang. Ini juga dikuatkan dengan firman Allah Azza wa Jalla:
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.  [Az-Zumar/39:33]
Pada ayat yang kedua di atas, Allâh Azza wa Jalla menjanjikan maghfirah (ampunan) dan pahala besar bagi orang-orang yang jujur. Jika ini janji dari Allâh Azza wa Jalla , lalu apa lagi yang diharapkan oleh seorang Mu’min selain ini? Sebenarnya, pengampunan dosa saja bagi seorang Mukmin itu sudah cukup, akan tetapi karunia Allâh Azza wa Jalla tidak cukup sampai disitu, Allâh Azza wa Jalla telah menyiapkan bagi kaum Mukminin yang jujur suatu kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dibenak seorang hamba. Terlebih jika pembicaraan ini kita sandingkan dengan pembicaraan tentang hadits yang menjelaskan bahwa kejujuran itu mendatangkan keselamatkan, sebaliknya kedustaan itu menyebabkan kebinasaan, maka akan tampak jelas bagi kita bahwa dusta merupakan perbuatan yang bisa membinasakan manusia di dunia dan di akhirat.
  1. Indikasi Kejujuran Akan Tampak Jelas Di Wajah Orang-Orang Yang Jujur.
Orang yang senantiasa jujur akan tampak pada wajah dan suaranya kejujurannya. Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan orang yang belum Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenal dan orang itu belum mengenal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Orang itu mengatakan, “Demi Allâh! Wajah orang ini bukan wajah pendusta dan suaranya bukan suara pendusta.”
Dan tidak diragukan lagi, sesungguhnya kejujuran itu, sebagaimana ia bisa memberikan dampak positif kepada orang yang melakukannya (orang yang berbicara jujur-red), dia bisa memberikan kesan positif kepada orang yang menjadi lawan berbicara. Kesan inilah yang menuntunnya untuk menerima dan menghormati perkataan orang yang berbicata jujur.
  1. Kejujuran Mendatangkan Keselamatan.
Kisah tiga orang Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ikut perang Tabûk adalah diantara kisah masyhur yang memberikan inspirasi tentang kejujuran. Kisah itu merupakan perumpamaan yang sangat menggugah dan menyentuh perasaan orang yang membacanya. Sebuah kisah yang menggambarkan kejujuran para Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Para pelaku dalam kisah nyata itu adalah Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Murârah bin Rabî’ Radhiyallahu anhu , dan yang ketiga Hilâl bin Umayyah Radhiyallahu anhu . Berikut ini adalah kisah nyata tersebut secara ringkas.
Ada tiga orang Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ikut serta dalam perang Tabûk. Penyebabnya, bukan karena ada keraguan dalam hati mereka, bukan pula karena kemunafikan. Mereka adalah tiga Shahabat yang telah disebutkan di atas. Setelah pertempuran usai, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke kota Madinah. Setibanya di Madinah, semua orang yang tidak ikut berperang mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskan alasan ketidak ikut sertaan mereka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima semua alasan mereka dan menyerahkan urusan apa yang mereka rahasiakan dalam hati mereka kepada Allâh Azza wa Jalla . Tatkala Ka’ab Radhiyallahu anhu datang dan mengucapkan salam kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dengan senyuman orang marah. Ka’ab Radhiyallahu anhu menceritakan, ‘Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kemarilah!’  Lalu saya mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan duduk tepat dihadapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Bukankah kamu telah berjanji untuk menyerahkan jiwa ragamu untuk Islam?’
Saya menjawab, ‘Wahai Rasûlullâh! Demi Allâh! Seandainya aku duduk didekat orang selain engkau, niscaya saya yakin akan bisa bebas dari murkanya dengan alasan dan argumentasi yang saya kemukakan. Karena saya diberi kemampuan untuk berdebat. Namun, demi Allâh! Saya tahu, jika sekarang saya bisa menyampaikan kepada engkau alasan yang penuh dusta sehingga membuatmu tidak marah, tentu Allâh Azza wa Jalla akan membuatmu marah kepada saya. Namun jika saya mengemukakan kepada engkau alasan saya yang benar dan jujur, engkau pasti marah kepada saya. Dan sungguh saya berharap Allâh yang memberikan hukuman kepada saya. Demi Allâh! Tidak ada satu udzur pun yang menghalangiku untuk ikut serta dalam berperang. Demi Allâh! Kondisi saya saat tidak ikut berperang itu sangat kuat dan longgar.’
Mendengar pengakuan yang tulus itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang ini telah berkata jujur dan benar, oleh karena itu berdirilah (dan pulanglah) sampai Allâh Azza wa Jalla memberikan keputusan.’
Kemudian Murârah bin Rabî’ Radhiyallahu anhu  dan Hilâl bin Umayyah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu .
Sebagai sanksi, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memboikot mereka dan melarang para Shahabat yang lain untuk berbicara dengan tiga orang Shahabat tersebut. Kejadian ini berlangsung selama lima puluh malam, tidak ada seorang Shahabat pun yang mau berbicara dengan mereka, hingga dunia ini terasa menjadi sempit bagi mereka. Namun di akhirnya kisah ini, apakah balasan bagi kejujuran mereka? Allâh Azza wa Jalla menurunkan wahyu-Nya yang menjelaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla  menerima taubat mereka. Kisah mereka pun diabadikan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân. Para Shahabat yang mendengar taubat saudara mereka diterima oleh Allâh Azza wa Jalla sangat bergembira lalu mereka berlomba-lomba mencari ketiga Shahabat tersebut untuk memberikan kabar gembira ini.  Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu yang menerima kabar gembira ini langsung menghadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyambutnya dengan wajah berseri-seri. Ka’ab Radhiyallahu anhu mengatakan, “Ketika saya mengucapkan salam kepada Beliau dan wajah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memancarkan cahaya kebahagian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ
Bergembiralah dengan sebaik-baik hari dalam hidupmu semenjak kamu dilahirkan oleh ibumu
Saya bertanya kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Wahai Rasûlullâh! Apakah ini datang darimu ataukah datang dari Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bukan (dariku), akan tetapi Allâh Azza wa Jalla ‘
Lalu saya mengatakan, ‘Waha Rasûlullâh! Allâh Azza wa Jalla telah menyelamatkanku dengan sebab kejujuran, maka sungguh diantara bentuk taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur selama aku masih hidup. Demi Allâh! Aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum Muslimin  yang diuji dengan sebab kejujurannya dalam berbicara semenjak kejadian tersebut, dengan ujian yang lebih baik daripada ujian yang saya alami dengan sebab kejujuran. Demi Allâh! Semaenjak saat itu, aku tidak pernah mengatakan kedustaan kepada seorang pun, dan aku berharap Allâh menjagaku disisa umurku.”
Saat itu, Allâh Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:
لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴿١١٦﴾ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴿١١٧﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Sesungguhnya Allâh telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allâh menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allâh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allâh, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allâh menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allâh-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar atau jujur. [At-Taubah/9:117-119].[1]
Diantara kisah menakjubkan lainnya tentang kejujuran, bisa didapatkan dalam kisah para tabi’in. Diantara tentang seorang tabi’in yang bernama Rib’i bin Harrâsy al-Kûfi:
Dikisahkan, Rib’i bin Harrâsy al-Absyi al-Kûfi rahimahullah adalah orang yang sangat jujur dan terpercaya. Sebagian ahli sejarah menyebut beliau rahimahullah termasuk diantara sebaik-baiknya manusia. Beliau tidak pernah berdusta. Beliau rahimahullah termasuk para perawi hadits. Beliau rahimahullah memiliki sikap yang menakjubkan dengan al-Hajjâj yang selalu berhukum dengan prasangka. Kejujuran beliau rahimahullah telah menyelamatkan beliau dan dua anak beliau dari perbutan kasar dan bengis al-Hajjâj.
Abu Nu’aim rahimahullah berkata dalam al-Hilyah, ‘Kami dikabari oleh Sufyân. Dia mengatakan, ‘Aku mengingat seorang yang bernama  Rib’i. Tahukah kalian siapa Rib’i itu? Beliau adalah Rib’i dari kabilah Asyja’. Kaumnya berkeyakinan beliau rahimahullah tidak pernah berdusta. Kemudian ada seseorang datang kepada al-Hajjâj bin Yûsuf, dan berkata, “Ada seseseorang dari kabilah Asyja’ yang diyakini kaumnya sebagai pribadi yang tidak pernah berbohong, dan dia akan berdusta padamu hari ini. Sesungguhnya anda telah mengutus pasukan untuk menangkap kedua anaknya. Dan kedua anaknya itu sekarang berada di rumah. Mendengar ini, al-Hajjâj murka. Lantas ia mengutus seseorang untuk memanggil Rib’i al-Asja’i rahimahullah, dan ternyata beliau rahimahullah seorang lelaki tua yang sudah bungkuk. Al-Hajjâj berkata padanya, ‘Apa yang dilakukan oleh kedua anakmu? ‘ Beliau menjawab,  ‘Mereka ada di rumah.’ Mendengar jawabannya yang jujur, al-Hajjâj memberikannya hadiah pakaian dan berwasiat kepadanya agar melakukan kebaikan.
Lebih jelasnya tentang kisah di atas, Ibnu Khalikan berkata, “Dikisahkan bahwa Rib’i bin Kharrâs al-Absy al-Kûfi tidak pernah berdusta. Beliau memiliki dua anak yang melakukan pembangkaan pada masa al-Hajjâj. Lalu disampaikan kepada al-Hajjâj bahwa bapak mereka adalah orang yang belum pernah berdusta. Anda bisa mengirim utusan untuk memanggilnya dan bertanya kepadanya tentang kedua anaknya. Mendengar ini, al-Hajjâj memanggilnya dan bertanya kepadanya, ‘Dimana kedua anakmu?’ Beliau rahimahullah menjawab, ‘Mereka ada di rumah.’ Melihat kejujuran orang tua ini, al-Hajjâj luluh hatinya dan berkata, ‘Kami memaafkan kedua anakmu dengan sebab kejujuranmu.’
  1. Kejujuran Menghantarkan Pelakunya Kepada Kebaikan.
Allâh Azza wa Jalla berfriman:
فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ
Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar atau jujur  (imannya) terhadap Allâh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka [Muhammad/47: 21]
  1. Kejujuran Bisa Menyelamatkan Pelakunya Dari Pedihnya Siksa Hari Kiamat.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
Ini adalah suatu hari dimana kejujuran itu bermanfaat bagi orang-orang yang jujur [Al-Mâidah/5:119]
  1. Dengan Kejujuran, Seseorang Bisa Meraih Kedudukan Para Syuhada’ (Orang Yang Mati Syahid).
Diriwayatkan dari Sahl bin Hanîf Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ
barangsiapa memmohon kepada Allâh syahâdah (mati syahid) dengan tulus (jujur), niscaya Allâh akan memberikannya kedudukan para syuhâda’ walaupun dia mati di atas tempat tidurnya.[2]
  1. Kejujuran Membuahkan Ketenangan Jiwa.
Dari Hasan bin Ali Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma berkata, ‘Saya menghafal dari Rasûlullâh perkataan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ
Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu! Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kedustaan itu keraguan.[3]
PENGARUH POSITIF KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT
  1. Dalam Kejujuran Terkandung Keberkahan.
Sesungguhnya kejujuran memiliki pengaruh yang baik dalam berbagai aktifitas ataupun transaksi yang dilakukan oleh masyarakat, baik dalam jual beli, sewa menyewa dan lain sebagainya. Pengaruh yang baik ini memberikan hasilnya di dunia dalam bentuk perkembangan dan keberkahan, dan juga manfaat lainnya bisa dinikmati di akhirat dalam bentuk pahala dan ganjaran. Sebaliknya, kedustaan akan menghapus keberkahan dan mendatangkan adzab.
Diriwayatkan dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذِبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Penjual dan pembeli diberikan hak khiyâr (hak boleh membatalkan atau melanjutkan akad jual beli) selama mereka belum berpisah (belum bubar dari tempat transaksi). Apabila mereka berlaku jujur, jual beli mereka akan diberkahi, namun apabila mereka menyembunyikan (sesuatu) dan berdusta maka keberkahan transaksi jual beli mereka akan dihapuskan.[4]
  1. Dalam Prilaku Jujur Tersimpan Kebahagian Masyarakat Dan Akan Menimbulkan Rasa Saling Cinta-Mencintai Dan Rasa Saling Percaya.
Kejujuran bukan hanya sebagai bagian dari mental berani, akan tetapi lebih dari itu, kejujuran termasuk sesuatu yang sangat urgen dan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat tidak akan benar dan tidak akan tertata dengan baik kecuali dengan prilaku kejujuran.
Diantara hal positif yang merupakan buah dari kejujuran dalam masyarakat adalah kejujuran bisa menumbuhkan rasa saling mencintai diantara manusia dan rasa saling mempercayai diantara individu masyarakat. Kejujuran juga menghidupkan sikap saling tolong-menolong serta membantu penyebaran akhlak-akhlak mulia serta pemuliaan terhadap orang-orang yang berakhlak mulia.
  1. Kejujuran Juga Akan Menyebabkan Al-Haq (Kebenaran) Memiliki Wibawa Di Tengah Masyarakat, Terhindar Dari Sikap Pura-Pura Orang-Orang Yang Menyimpang Dan Kaum Munafik.
Kehidupan bermasyarakat akan tertata dengan baik dan mereka akan merasakan kebahagiaan dan ketenteraman, selama masing-masing individu menghiasi diri-siri mereka dengan sifat jujur. Semua transaksi seperti jual beli, sewa-menyewa, utang-piutang dan perusahaan tidak akan bisa berjalan dengan baik kecuali jika dikendalikan dengan prilaku jujur.
Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam bertutur, maka pasti perekonimian mereka akan mengalami kemajuan. Selama mereka terus berpegang dengan kejujuran tersebut, maka para musuh Islam tidak akan menemukan cara dan peluang untuk menghentikan laju pertumbuhan perekonomian tersebut.
  1. Kejujuran Memperkokoh Tali Persaudaraan.
Islam telah mengikat semua pemeluknya yang sangat banyak dalam sebuah ikatan persaudaraan. Persaudaraan Islam ini telah menjadi mereka seperti satu raga, sebagaimana tergambar dalam sebuah hadits:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Permisalan kaum Mukminin dalam rasa cinta, kasih sayang dan kelemah lembutan diantara mereka seperti satu jasad. Jika salah satu dari anggota badan itu merasa sakit, maka semua anggota badan akan ikut merasakan panas dan tidak bisa tidur [HR. Muslim]  
Itulah persaudaraan Islam, namun kekokohan dan kekuatan persaudaraan ini sangat tergantung pada kemampuan masing-masing individu kaum Muslimin dalam menjaga sikap jujur dalam bertutur dan bergaul.
Terkadang seorang pendusta bisa memiliki teman akan tetapi teman yang materialistis, dan dia tidak akan bisa menjadikan orang baik sebagai teman setia.
Itulah arti dan makna kejujuran serta manfaat yang dirasakan oleh orang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Adapun orang yang menganggap remeh sebuah kedustaan dan membiarkan lisannya terus berkata dusta, itu artinya dia telah menyakiti diri sendiri dan menyebabkan ketimpangan serta kerusakan dalam kehidupan masyarakat. Seorang pendusta tidak hanya pantas dianggap sebagai anggota masyarakat yang menyimpang, akan tetapi dia merupakan anggota yang membawa virus berbahaya yang akan segera menular dan menjangkiti semua orang yang menjalin hubungan dengannya.
(Diangkat dari as-Shidqu al-Fadhilatul Jami’ah, karya  DR. Sulaiman bin Muhammad bin Falih as-Shugaiyir)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab hadits, sejarah. Lihat Sirah Ibni Hisyam dan Shahîh al-Bukhâri dalam kitab al-Maghâzi
[2]  Diriwayatkan oleh Imam Muslim
[3]  Diriwayatkan oleh at-Tirmizi. Beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini hadits hasan shahîh.”
[4]  Riwayat Imam al-Bukhâri dan yang lainnya