Leave a message

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)

Islam Bukan Budaya Arab

Abu Fathan | 07:27 | 0 comments
Akhir-akhir ini kita sering diperdengarkan sebuah istilah baru dalam penyebutan sebuah konsep beragama dengan istilah; Islam Nusantara. Istilah ini mulai mengemuka setelah penggunaan langgam Jawa dalam tilawah al-Qur’an pada tanggal 17 Mei Tahun 2015 di Istana Negara. Kejadian tersebut menuai kritik dari berbagai kalangan. Kejadian tersebut bukan sebuah kejadian tanpa disengaja, akan tetapi itu merupakan sebuah konsep yang akan digulirkan oleh Menteri Agama RI! Kemudian istilah ini lebih mengelinding lagi bagaikan bola salju ketika muktamar NU ke-33 di Jombang mengambil tema: “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Alhasil isu Islam Nusantara menjadi topik yang ramai...

Ringkasan Tabligh Akbar Nikmat Aman Di Indonesia Dan Kiat Kiat Menjaganya

Abu Fathan | 21:47 | 0 comments
Rasa aman, secara bahasa artinya adalah lawan dari rasa takut. فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ * الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ” Maka hendaknya mereka menyembah kepada Rabb pemilik rumah ini (Ka’bah). (Dia) yang telah memberikan makan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut.” (Quraisy: 3-4) Para ulama mendefiniskan rasa aman dengan makna tenang dan damai (ٌطُمَأْنِيْنَةٌ وَ سَكِيْنَة), yang tidak ada rasa ketakutan padanya. Keamanan ada dua jenis: 1. Keamanan agama, yaitu selamatnya agama seorang muslim, di atas tauhid dan menjauhi kesyirikan. Alloh berfirman : الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ...

APA PEDOMANMU DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH TA’ALA?

Abu Fathan | 18:52 | 0 comments
Seorang hamba wajib menghambakan dirinya kepada Allâh Ta’ala. Dalam proses menghambakan dan mendekatkan dirinya, atau lebih lazim dikenal dengan beribadah, kepada Rabbnya itu, ia tidak boleh berbuat dan melakukan sesukanya berdasarkan kata hati, perasaan, akal atau menurut kebanyakan orang. Ada enam pedoman dalam beribadah[1] yang wajib diikuti oleh seorang Muslim dalam mengamalkan seluruh ibadahnya. Pedoman-pedoman tersebut adalah: Pertama: Ibadah itu bersifat تَوْفِيْقِيَّة (tauqifiyyah, tidak ada ruang bagi akal di dalamnya). Para hamba wajib untuk hanya patuh terhadap ketentuan pemegang hak syariat saja, Allâh Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla berfirman: فَاسْتَقِمْ كَمَا...

LIMA METODOLOGI YANG MENUNJANG TADABBUR Al-QUR’AN

Abu Fathan | 18:50 | 0 comments
Oleh DR. Kamal Qalami[1] Allâh Azza wa Jalla telah menurunkan Kitab-Nya yang mulia kepada hamba-Nya sebagai petunjuk, rahmat, penerang, pembawa kabar gembira serta peringatan bagi siapa saja yang mau mengambil peringatan. Allâh Azza wa Jalla juga mengajak mereka untuk membaca dan mentadaburinya (merenunginya), sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman : أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisâ’/4:82] Dalam ayat lain Allâh Azza wa Jalla...
Pages (9)1234567 Next
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA SUNNAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger
a