Pemberontak Yang Menang adalah Ulil Amri Yang Sah Dengan Sepakat Ulama Fikih
وقال الحافظ: (وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتَغلب ، والجهاد معه ، وأن طاعته خير من الخروج عليه ؛ لما في ذلك من حقنِ الدماء ، وتسكين الدهماء)
Ibnu Hajar al Asqalani mengatakan bahwa semua ulama fikih bersepakat akan wajibnya mentaati penguasa yang dia asalnya adalah pengkudeta yang menang dan wajibnya berjihad bersamanya. Sesungguhnya mentaati penguasa yang asalnya adalah pemberontak itu lebih baik dari pada melakukan perlawanan kepadanya karena dengan demikian darah rakyat terjaga dan masyarakat berada dalam ketenangan [Fathul Bari 13/9]
قال الإمام أحمد : (ومن غَلبَ عليهم- يعني الولاةَ- بالسيف حتى صار...
Hukum Meminta-Minta (Mengemis)
Abu Fathan | 18:54 | 0
comments
DEFINISI MINTA-MINTA (MENGEMIS)
Minta-minta atau mengemis adalah meminta bantuan, derma, sumbangan, baik kepada perorangan atau lembaga. Mengemis itu identik dengan penampilan pakaian serba kumal, yang dijadikan sarana untuk mengungkapkan kebutuhan apa adanya. Hal-hal yang mendorong seseorang untuk mengemis –salah satu faktor penyebabnya- dikarenakan mudah dan cepatnya hasil yang didapatkan. Cukup dengan mengulurkan tangan kepada anggota masyarakat agar memberikan bantuan atau sumbangan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG SESEORANG UNTUK MENGEMIS DAN MINTA-MINTA
Ada banyak faktor yang mendorong seseorang mencari bantuan atau sumbangan. Faktor-faktor tersebut ada yang bersifat permanen,...
Perlakuan Muslim dan Kafir Sama dalam 3 Hal
Abu Fathan | 17:19 | 0
comments
Ada tiga perlakuan kita terhadapa muslim dan kafir yang dinilai sama yaitu dalam hal menepati janji, berbakti pada orang tua dan bersikap amanat.
Ada perkataan dari ulama salaf,
عن ميمون بن مهران قال ثلاث المؤمن والكافر فيهن سواء الأمانة تؤديها الى من ائتمنك عليها من مسلم وكافر وبر الوالدين قال الله تعالى وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا الآية والعهد تفي به لمن عاهدت من مسلم أو كافر
Dari Maimun bin Mihran, ia berkata, "Ada tiga hal di mana perlakuan antara muslim dan kafir itu sama. Pertama, menunaikan amanat pada orang yang memberi amanat baik muslim maupun kafir. Kedua, berbakti pada orang tua sebagaimana firman Allah Ta'ala (yang...
Jangan Malu Menagih Hutang
Abu Fathan | 21:59 | 0
comments
Dari Abu Qotaadah radhiallahu 'anhu :...فَقَامَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ، تُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ، إِنْ قُتِلْتَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ قُلْتَ؟» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ، إِلَّا الدَّيْنَ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ لِي ذَلِكَ»"…Lalu ada seorang lelaki berdiri dan...
Ridha Terhadap Hukum Dari Rasulullah Dan Syariat Beliau
Abu Fathan | 18:51 | 0
comments
Di antara bukti ittiba’
kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah ridha terhadap
hukum dan syariat beliau. Dari Al-Abbas radhiallahu’anhu, beliau
mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
ذاق طعم الإيمان من رضي بالله ربا
وبالإسلام دينا وبمحمد رسولا
“Orang yang ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya
dan Muhammad sebagai rasulnya, pasti akan merasakan lezatnya iman”1
Maka apabila seorang muslim telah ridha terhadap
Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai Nabi dan Rasul, dia tidak
akan menoleh kepada selain petunjuk beliau, tidak akan bersandar kepada selain
sunnah beliau di dalam perilakunya, menjadikannya...
Menjadikan Syariat Sebagai Hakim
Abu Fathan | 18:50 | 0
comments
Yaitu menjadikan ajaran yang dibawa Rasul Shallallahu’alaihi
Wasallam di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai hakim dan berhukum kepada
keduanya. Dan menjadikannya sebagai timbangan untuk menilai keyakinan-keyakinan,
perkataan-perkataan dan perkara-perkara yang ditinggalkan. Maka yang sesuai
dengannya diterima dan diamalkan. Sedangkan yang menyelisihinya ditolak meskipun
dibawa oleh orang yang membawa. Allah Ta’ala berfirman,
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ
حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
“Maka demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu
sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan” (QS. An-Nisaa:
65)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
يَا...
Mencontoh Dan Meneladani Sunnah Nabi Secara Lahir Dan Batin
Abu Fathan | 18:50 | 0
comments
Yaitu dengan memurnikan mutaba’ah hanya kepada Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam, mencukupkan diri dengan menerima dan
mengambil dari beliau, dan mengamalkan apa saja yang beliau bawa, sebagai
perwujudan firman Allah Ta’ala,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ
كَثِيرًا
“Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri
Rasulullah. Yaitu bagi siapa saja yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan dia
banyak mengingat Allah” (QS. Al-Ahzaab: 21)
Maka tidak ada keyakinan, ibadah, muamalah, akhlaq, adab, peraturan jama’ah,
ekonomi, politik… dan seterusnya, melainkan dari jalan beliau...
Takut Terhadap Penyimpangan Dan Istidraj
Abu Fathan | 18:49 | 0
comments
Di antara tanda-tanda dan bukti-bukti
ittiba’ yang paling nampak adalah rasa takut seorang hamba dari penyimpangan
dan dosa-dosanya. Dan rasa takutnya dari istidraj (diberikan
kenikmatan-kenikmatan sehingga tetap di dalam kesesatannya –pen) dan
ketidak-kokohan dirinya di atas kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad
Shallahu’alaihi Wasallam. Tanda-tanda ini telah nampak jelas dan
gamblang pada diri para sahabat dan tabi’in rahimahumullah.
Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu menggambarkan keadaan ini dengan
mengatakan, “Sesungguhnya keadaan seorang mukmin ketika melihat dosa-dosanya,
sebagaimana keadaan dia ketika duduk di bawah suatu gunung. Dia khawatir gunung
itu akan runtuh menimpanya....
Mengagungkan Nash-Nash Syar’iyah
Abu Fathan | 18:47 | 0
comments
Tanda dan bukti ittiba’
yang paling nampak adalah mengagungkan nash-nash agama yang telah tetap. Yaitu
dengan menghormati, memuliakan, mendahulukannya, tidak meninggalkannya, meyakini
bahwa petunjuk hanya ada padanya tidak pada selainnya, mempelajari, memahami,
memperhatikan, mengamalkannya, berhukum kepadanya dan tidak menentangnya. Dan
ini adalah petunjuk tokoh-tokoh panutan dan imam-imam di dalam ittiba’,
yaitu para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang setelah mereka.
Abdullah bin Mughaffal pernah melihat seorang sahabatnya melempar kerikil
dengan jarinya. Lalu dia berkata kepadanya, “Jangan kau lakukan itu. Karena
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang melempar kerikil...
Bahaya Pembunuhan Tanpa Hak
Abu Fathan | 18:23 | 0
comments
Membunuh
Jiwa Seorang Muslim Tanpa Hak Termasuk Diantara Dosa Besar yang Paling
Besar
Allah
ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً
فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً
عَظِيماً
“Dan
barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah
Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya, serta
menyediakan azab yang besar baginya” [QS. An-Nisaa’ : 93].
Tidaklah
Allah ta’ala memberikan hukuman terhadap satu perbuatan dengan kekekalan
di Jahannam, murka kepadanya, melaknatnya, dan adzab yang besar; melainkan
perbuatan tersebut sangat besar dosanya di sisi...
Subscribe to:
Posts (Atom)